Di Tengah Terik, Respon Darurat Kesehatan ke Ciracas

JAKARTA – Terik menjelang waktu shalat Jumat masuk (23/4/2021) dan haus-laparnya karena sedang puasa Ramadan, tak dihiraukan Perawat Lini dan Sigit untuk memacu laju motornya membelah jalan TB Simatupang menuju Ciracas, Jakarta Timur. Mereka meluncur dari Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, tepatnya Kantor LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) Dompet Dhuafa. Jarak Ciputat dan Ciracas sekira 2 jam perjalanan motor.

Lini dan Sigit merupakan Tim Respon Darurat Kesehatan (RDK) di LKC Dompet Dhuafa. Mereka baru saja mendapat kabar kalau di Ciracas ada 2 orang perempuan yang tergeletak sakit dan sangat membutuhkan pertolongan.

Motor pun dipacu ke Ciracas, karena unit ambulans di Kantor LKC sudah tak tersisa, semua unit sedang memenuhi pelayanan panggilan masyarakat. Sesampai di Ciracas, di rumah orang sakit, Azan Jumat berkumandang. Perawat Lini melanjutkan pemeriksaan dan Perawat Sigit memenuhi kewajiban sebagai lelaki muslim melaksanakan shalat Jumat.

Perawat Lini melihat kondisi rumah orang sakit yang berada di gang sempit di kawasan Pabrik Mustika Ratu, dan tidak jauh dari Pasar Ciracas. Rumah itu hanya terdiri dari 3 kamar, merupakan sebagian dari rumah besar yang sudah dibagi-bagi beberapa saudara. Pencahayaan matahari dan udara terlihat kurang leluasa masuk ke rumah tersebut. Diduga keras menjadi penyebab Carisah, 48 tahun, dan Mamanya Bu Oom, 75 tahun, menjadi sakit.

Bu Oom, 75 Tahun diperiksa Perawat Lini dari RDK LKC Dompet Dhuafa. Foto: Maifil

Carisah ditinggal suami yang dulu juga sempat menderita penyakit TB Paru, setelah mendapat pengobatan paket TB dari Puskesmas setempat ia pun sembuh. Tapi setelah sembuh, dia tetap tidak tahan dengan keadaan kehidupannya dan memilih meninggalkan isteri dan anaknya.

Selepas ditinggal suami, kini Carisah tinggal bersama anak bungsu dan mamanya Bu Oom. Anak sulung Carisah, dari 2 bersaudara itu, belum lama ini juga meninggal karena TB Paru.

Tubuh Carisah kurus, hanya berbobot 30 Kg, seperti tinggal kulit pembalut tulang. Mata cekung dan pucat. Ketika tim RDK ke rumahnya, baik bu Oom dan Carisah sudah 2 hari susah makan. Untuk sementara keduanya dievakuasi ke rumah adik bungsunya Wawat, yang berjarak sekira 200 m dari rumah tersebut.

Jumlah HB Carisah hanya 7,6 g/dl dengan tensi 90/70 mm/Hg dan saturasi oksigennya (SpO2) hanya 92 persen. Dari cerita keluarga, Perawat Lini mendapatkan informasi, ternyata Charisah merupakan pasien TB sejak gadis, tapi tidak pernah mendapat pengobatan yang tuntas karena sering kali obat TB yang harus diminum rutin selama 6 bulan, seringkali abai meminumnya. Melihat kondisi ini Perawat Lini menyarankan kepada keluarga untuk membawa Carisah segera ke rumah sakit untuk rawat inap guna perbaikan kondisinya.

“Boleh dibawa oleh keluarga, kalau butuh bantuan LKC Dompet Dhuafa mohon dikabarkan, ” kata Perawat Lini.

Sementara itu ibu Oom, udah dua kali jatuh dalam pekan ini, sehingga membuat Bu Oom tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Paha kirinya bengkak, sementara tempurung panggulnya pernah dioperasi dan diganti. Apabila bergerak sedikit ia merasakan sakit yang hebat. Rasa sakit membuat Bu Oom tidak mau makan dan sering berteriak dan merintih kesakitan.

Untuk Bu Oom Perawat Lini dan Sigit tidak menyarankan untuk dirawat di rumah sakit, karena lansia dikhawatirkan rentan terkena penyakit apalagi saat ini kondisi pandemi. Untuk ini Perawat Lini menyarakan perawatan di rumah dan ia berjanji meresepkan obat untuk Bu Oom agar mengurangi rasa sakit dan perbaikan kondisi umumnya.

Seusai melakukan pemeriksaan kesehatan dan kondisi umum, perawat Lini dan Sigit kembali ke markas RDK dan menunggu kabar dari pihak keluarga, baik informasi perkembangan perawatan maupun panggilan kalau sewaktu-waktu membutuhkan tindakan emergency.