Bila BOS-BOP Menjadi BOR

Di Lamongan, oknum LSM dan wartawan bodrex ditangkap polisi, kali ini mereka menyatroni petani. (Surya Online)

BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan BOP (Bantuan Operasional Pendidikan) adalah program dana bantuan pemerintah di lingkup Kemendikbud. Yang namanya dana itu identik dengan gula, sehingga banyak dirubung semut! Bila gula pasir dan gula Jawa itu asli dikerubuti semut dalam arti sebenarnya, tapi “gula” untuk sekolah-sekolah itu dikerubuti semut berkepala hitam. Yang jadi semutnya bukan saja oknum guru dan KS-nya, tapi juga pihak luar semacam oknum LSM dan wartawan bodrex. Mereka tahu bahwa banyak dana BOS dan BOP malah berubah jadi BOR alias Bantuan Operasional Rumahtangga para pejabat pengguna anggaran.

Salah satunya baru saja dibongkar oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, terjadi 1 SMKN 53, Cengkareng. Ini semua gara-gara terlalu “kreatif”-nya sang Kepsek W ketika menjabat di sekolah tersebut pada 2018 lalu. Bersama staf Suku Dinas Pendidikan Jakbar MF, keduanya kini sudah menjadi tersangka. Adapun nilai korupsi pada perkara ini sekitar Rp7,8 miliar, dengan rincian dana BOS Rp 1,3 miliar dan dana BOP Rp 6,5 miliar.

Untuk membobol dana yang lumayan besar tersebut,  kedua tersangka melakukan manipulasi surat pertanggung jawaban (SPJ) dan menggunakan rekanan fiktif dalam pengadaan sejumlah barang. W sebagai Kepksek SMKN  53 memang memiliki kewenangan untuk mengelola atau memegang password terkait pencarian dana BOS dan BOP.  Namun dalam prakteknya W serahkan password tersebut  ke MF dengan perintah untuk  segera dicairkan  dana  BOS dan BOP.

Kemudian disiapkanlah SPJ fiktif dan rekanan  fiktif yang akan menampung dana, dengan menyiapkan rekening penampung yang akan diserahkan dalam bentuk cash ke pihak sekolah. Mengalirlah dana itu, tapi uangnya salah alamat. Mestinya untuk kepentingan BOS dan BOP, belok ke BOR alias Bantuan Operasional Rumahtangga W dan MF. Tentu saja istri-istri mereka tak tahu bahwa duit itu hasil kerja suami merampok uang negara. Mereka telah sukses menjadi maling-maling berdasi.

Melihat ke belakang, sebetulnya Pemprov DKI jaman Gubernur Anies Baswedan saat masih didampingi Wagub Sandiaga Uno, sudah mengantisipi akan terjadinya maling-maling uang negara. Kala itu telah disiapkan aplikasi Sistem Informasi Akuntabilitas Pendidikan (SIAP) dengan menggandeng Bank DKI. Program tersebut diyakini dapat mencegah penyelewengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Opersional Pendidikan (BOP). Tapi faktanya, masih jebol juga. Jadi yang pintar malingnya, atau Pemprov DKI-nya?

Asal tahu saja, di tubuh TGUPP (Tim Gubernur Usaha Percepatan Pembangunan) sebetulnya Gubernur Anies juga sudah pasang orang bekas pimpinan KPK. Maksudnya, dia yang tahu tentang liku-liku orang mau korupsi, segera bisa mencegah sebelum terjadi, atau membongkar skandal uang negara itu. Tapi faktanya ketika tindak korupsi di Pemprov DKI terjadi, yang membongkar justu pihak lain. Lha beliau dengan gaji besarnya ke mana saja?

Kemendikbud tidak main-main ketika mengeluarkan dana BOS dan BOP tersebut. Pada tahun 2018 dianggarkan BOS jenjang SD, SMP, SMA, SMK dan sederajat sebesar Rp. 46.695.528.800.000,- (Empat Puluh Enam Triliun Enam Ratus Sembilan Puluh Lima Miliar Limaratus Dua Puluh Delapan Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah). Di Jakarta saja bobol sampai segitunya, apakah di daerah lain juga tak mengalami hal yang sama?

Taruhlah semua Kepsek selaku pejabat pengguna anggaran selalu berusaha jujur menjaga amanat atas uang negara. Tapi yang namanya manusia, ada saja yang mengalami kekeliruan administrasi. Nah, yang begini ini banyak dimanfaatkan oknum LSM atau pihak yang mengaku-aku LSM. Bahkan wartawan bodrex atau WTS (Wartawan Tanpa Suratkabar), juga banyak yang memanfaat kejadian seperti ini. Mereka peras tanpa ampun, sehingga pihak sekolah ketimbang jadi urusan polisi, lebih baik menyumpal mulut oknum LSM dan wartawan bodrex tersebut dengan segepok uang.

Pada September 2018 kejadian serupa dialami di Kabupaten Tulungagung, tapi para pelakunya berhasil ditangkap termasuk yang di Lamongan (peras petani). Bahkan di Indragiri Hulu (Riau) sebanyak 64 Kepala SMP menyatakan mundur karena tidak tahan selalu diperas dan digerecokin oknum LSM dan wartawan bodrex. Begitulah jahatnya semut-semut berkepala hitam. (Cantrik Metaram)