ABIYASA KEMBAR (2)

Betari Durga ampun-ampun diomeli Kyai Lurah Semar.

MEREKA adalah jurnalis-jurnalis milenial, yang karena tuntutan teknis kerjanya menjadi praktis, ekonomis sekaligus pragmatis. Meskipun, untuk itu semua media online sekarang banyak melanggar 5 W 1 H. Mereka hobi banget angkat berita yang berasal dari gosip di medsos, yang tak jelas sumbernya. Mereka sengaja menghilangkan “where”-nya secara lengkap, kadang hanya kotanya doang. Mereka juga males mengolah informasi-informasi itu dengan bahasa yang enak dibaca dan perlu, sehingga berita yang ditayangkan sekedar sekumpulan data mentah belaka.

Media sekarang juga selalu menggiring publik untuk mengagumi dan tahu mobil sosok yang tengah menjadi pokok berita. Sebentar-sebentar turunkan judul: intip garasinya! Padahal ini tindakan berbahaya. Coba saja jika jurnalisnya bener-bener mengintip garisi orang yang sedang ramai diberitakan, bisa ditangkap Satpam karena dikira maling.

“Paling kaco, jurnalis sekarang tak bisa bedakan penggunaan kata wafat dan meninggal. Masak korban Corona disebut wafat, kerbau mati dimakamkan. Tak bisa pula membedakan antara kata mau dan ingin. Herannya, kenapa redakturnya tak berusaha membetulkannya, atau memang sama-sama goblok,” keluh Gatutkaca sekali waktu.

“Hei Bung, redaktur tak sempat koreksi. Jurnalis sekarang langsung dari lapangan turunkan beritanya sendiri. Karenanya mereka tak peduli tata bahasa, yang penting isinya dipahami, habis perkara,” kata Antaseno memberi penjelasan.

Sebetulnya dalam pertemuan Prabu Puntadewa – Begawan Abiyasa, kedua putra Werkudara itu juga hadir. Tapi mereka di dalam istana Indraprasta saja, males keluar. Sebab jika keluar pasti dikerubuti pers, dan nanti beritanya dipelintir. Mereka tak mau bernasib seperti Effendi Gozali dosen jurnalistik di UI, lebih baik meletakkan jabatan karena malu wartawan anak didiknya kurang menghormati kode etik jurnalistik.

Benar saja. Patih Tambak Ganggeng yang menyelinap lewat pintu belakang tak bisa juga selamat dari gangguan pers. Dia langsung dicecar pertanyaan, puluhan mike mengeroyok mulut patih Ngamarta tersebut. Karena para jurnalist itu saling desak sampai lupa prokes, kadang mike tersebut nyodok bibir Patih Tambak Ganggeng.