“Oleh-oleh” Mudik Lebaran

Akibat terbatasnya petugas, pos penyekatan di Bekasi pun bobol! Pemudik bebas merdeka bawa pula penyakitnya ke kampung.

MESKI pemerintah telah melarang rakyat dan pejabatnya mudik Lebaran 1442 H, faktanya banyak penduduk yang nekad mudik. Seakan tak takut  akan ancaman Covid-19, mereka mencoba nyolong-nyolong untuk menembus penyekatan. Jumlah mereka menurut lembaga survei hanya 16 persen. Akibat rendahnya disiplin nasional kita, lihat saja nanti pasca Lebaran. Apa “oleh-oleh” mereka dari kampung. Jangan-jangan seperti yang dicemaskan pemerintah, kluster-kluster baru bermunculan dan wabah Corona kembali meningkat tajam.

Sampai awal April 2021, jumlah penduduk yang telah divaksin mencapai 12,7 juta. Bertolak dari data ini, Menhub Budi Karya Sumadi meski belum menerima petunjuk bapak presiden sudah berani mengklaim, Lebaran 1442 H ini pemerintah tak akan melarang rakyatnya mudik. Alasannya, yang sudah divaksin semakin banyak, harga test Genose juga semakin murah. Karenanya kementriannya berani memprediksi, pemudik tahun ini akan mencapai 26,7 juta.

Apa lacur, pada pertengahan April 2021 Presiden Jokowi memberi petunjuk bahwa PNS dan seluruh rakyat Indonesi kembali dilarang mudik Lebaran. Ini karena berdasarkan pengalaman, setiap habis libur panjang jumlah korban Corona selalu meningkat pesat. Larangan itu berlaku sejak 6 Mei hingga 17 Mei 2021. Tapi gara-gara tsunami Corona di India, pemerintah perpanjang masa larangan mudik, dari 6 Mei menjadi 22 April-24 Mei 2021.

Rakyat sebetulnya sudah jenuh dengan larang mudik gara-gara Covid-19 ini. Lebaran hanya setahun sekali saja kok dilarang pulang kampung. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo lewat tayangan Youtube juga sangat mamahami akan keresahan masyarakat. Maka katanya, “Sing nglarang mudik ki ya sapa? Arep padha mudik ya mangga, ning becike virtual mawon.” Lalu beliaunya memberi pengertian pada rakyatnya, agar mengutamakan kepentingan bersama, sehingga wabah Covid-19 ini bisa ditaklukkan.

Yang ironis dan lucu adalah kebijakan Wapres kita, Ma’ruf Amin, agar murid pesantren dapat dispensasi mudik. Gara-gara “diskresi” kebijakan ini, meski Presiden melarang yang ditopang oleh Menag Gus Yaqut, ribuan murid pesantren Jatim pada mudik karena diperkenankan oleh Gubernur Khofifah. Beda dengan Jateng, apa pun alasannya murid pesantren tetap dilarang mudik.

Sesuai dengan petunjuk bapak presiden, angkutan umum memang tidak jalan sejak 7 Mei 2021, baik KA, bis AKAP, pesawat sampai kapal; semua istirahat. Tapi kendaraan pribadi, tak hanya mencuri start, pada hari larangan berlangsung mencoba menembus barikade petugas di pos-pos penyekatan. Ribuan kendaraan dipaksa balik arah, tapi ribuan kendaraan pula berhasil menjebol penyekatan, terutama sepeda motor.

Ada kesan pemudik mencoba melawan kebijakan pemerintah. Bahkan  ada yang pakai bahasa antum-antum memprovokasi rakyat lewat medsos, agar melawan kebijakan pemerintah soal mudik Lebaran ini. Seakan-akan mereka tak percaya bahwa Covid-19 itu benar-benar ada. Sampai-sampai ada yang menyebut di media online, rakyat yang tak patuh pada larangan pemerintah ini sebagai pemberontakan masyarakat sipil.

Tapi alhamdulillah, berdasarkan survei “Kedai Kopi” disebutkan, 84 persen rakyat patuh para larangan pemerintah, tidak mudik dulu ketimbang terkena Covid-19. Tapi meski jumlah kaum “pembangkang” hanya 16 persen, karena jumlah penduduk Indonesia ada 270 juta termasuk bayi-bayinya, jumlah itu gede juga pada akhirnya, karene lebih dari 40 juta!

Kini sudah memasuki arus balik Lebaran. Biasanya Pemda-Pemda memelototi wajah-wajah baru. Tapi kali ini beda. Pemda-Pemda menunggu dengan cemas, pelanggaran larangan mudik ini apakah juga akan menyebabkan meledaknya Covid-19 sebagaimana di India.

Bila sampai hal itu terjadi, tak perlulah mencari kambing hitam. Jika nantinya terjadi kluster-kluster Corona di sejumlah pesantren, minta saja pertanggungjawaban itu di antaranya kepada Wapres Makruf Amin dan Gubernur Jatim, sebab diskresi  merekalah semua yang kita cemaskan ini menjadi kenyataan. Tapi semoga saja, kali ini Covid-19 setan ora doyan demit ora ndulit. (Cantrik Metaram)