MUSTAKAWENI MBELING (3)

Harjuna kemudian mengajari sopan santun kepada Bambang Priyambada, bagaima etikanya ketemu orangtua.

BAYANGKAN, Ibu Negara kok bikin gara-gara, apa kata wayang dan para abdi negara. Taruhlah Rocky Gerung akan diam saja, tapi wayang Gareng tanpa Rocky pasti akan membuly-nya. Betapapun Gareng hanya wayang akar rumput, jelek-jelek dia pernah pula dia jadi penguasa meski tak sampai satu periode. Namanya Pandu Pragola, memerintah negeri Parang Gumiwang. Dia diturunkan rakyatnya gara-gara terjebak kongkalikong dengan DPRD soal dana Bansos dan Hibah.

Gareng ingin protes kepada Prabu Puntadewa, tapi ditolak oleh “herder-herder” di istana Indraprasta. Di samping sang prabu sedang menjalani karantina mandiri, tak ada jalurnya punakawan Gareng Cs ketemu raja Ngamarta. Mitra kerja punakawan tak lain tak bukan hanyalah Raden Harjuna dari Madukara. Membahas masalah apapun, Semar berikut Gareng, Petruk dan Bagong hanyalah bersama Harjuna tempatnya.

“Ndara Harjuna ini bagaimana? Ndara Puntadewa berhalangan menjabat kenapa negara dibiarkan vacum? Petingginya pada ke mana sih, kok ndara Drupadi sampai ambil kebijakan sendiri.” Protes Gareng pada Harjuna.

“Maaf, Pendawa empat lainnya sedang konsolidasi partai menghadapi 2024. Saya pikir kangmas Puntadewa hanya flu biasa, nguntal Naspro juga sembuh. Ternyata sampai harus karantina segala seperti Fadli Zon…..” jawab Harjuna gusar, karena punakawan pun ikut memojokkan dirinya.

Dalam kondisi normal, segala kebijakan di Ngamarta selalu dirundingkan bersama oleh Pendawa Lima. Semua dalam keputusan bulat, tak boleh terjadi disenting opinion. Jika ada yang berbeda pandangan, kebijakan tak jadi ditetapkan atau ditunda dulu. Tapi gara-gara wabah Covid,  tata kelola pemerintahan di Ngamarta jadi ambyar. Prabu Puntadewa menjalani karantina,  kebijakan justru diambil alih oleh Ibu Negara, padahal sama sekali tak mendapat mandat.

Atas kecerobohan ini, pusaka Jamus Kalimasada telah hilang. Siapa pencurinya juga tak diketahui jelas, kecuali sebuah pengakuan bernama: Mustakaweni. Padahal Mustakaweni ini nama pasaran dan ombyokan, sehingga di mana-mana ada nama itu. Tapi apa dari mereka benar terlibat pencurian pusaka tersebut. Lalu, apa mungkin segenap wayang Ngamarta yang bernama Mustakaweni dipanggil dan diinterogasi?