Konflik Myanmar Makin Parah

Nyaris tiada hari tanpa unjukrasa oleh massa prodemokrasi menentang rezim junta militer Myanmar sejak kudeta yang dilancarkan pada pemerintah sipil 1 Februari lalu.

KONFLIK politik internal di Myanmar pasca kudeta oleh kelompok junta militer terhadap pemerintahan sipil pada 1 Februari lalu belum ada tanda-tanda mereda, bahkan kian meluas dan parah.

Di kota-kota besar termasuk ibukota baru Naypyidaw, Yangon dan lainnya nyaris tiada hari tanpa unjukrasa, sementara massa prodemokrasi yang harus melawan tentara (tatmadaw) mulai mempersenjatai diri dengan batu, ketapel dan senjata rakitan.

Korban pun berjatuhan, dan sejauh ini tercatat  836 korban tewas tertembak atau ditembak polisi atau satuan militer bersenjata didukung tank-tank dan persenjataan berat lainnya.

Kelompok-kelompok etnis militer yang ada di sepanjang perbatasan dengan China, India, Thailand, Laos, Bangladesh juga sudah mengangkat senjata sehingga menyulitkan rezim junta untuk mengatasinya.

Terrcatat ada 20 fraksi militer bersenjata, a.l.  Tentara Negara Wa Bersatu dan Tentara Shan Selatan di tapal batas China, Partai Progresif Nasional Karen dan Persatuan Nasional Karen di perbatasan Thailand,  Organisasi Kemerdekaan Kachin, Tentara Pembebasan Ta’ang dan Tentara Bagian Shan Utara (dekat  India) dan Tentara Arakan (dekat wilayah Bangladesh).

Kelompok bersenjata tersebut, walau berjuang untuk etnis mereka masing-masing, saat ini menghadapi musuh bersama yakni pasukan junta militer Myanmar.

Kantor perwakilan PBB di Myanmar dalam pernyatannya (8/6) menyebutkan, sekitar 100.000 warga etnis Kayah dekat perbatasan Thailand mengungsi ke hutan karena ketakutan akibat serangan artileri ke wilaya mereka.

PBB menilai, terjadi krisis kemanusiaan, karena para pengungsi tersebut tidak dilengkapi dengan makanan dan minuman yang menopang kehidupan, apalagi layanan kesehatan, sementara bantuan asing tidak bisa menjangkau mereka.

Kondisi perekonomian Myanmar pun lumpuh akibat sebagian industri tutup di tengah konflik berkepanjangan, para pekerjanya pun sebagian bergabung dengan massa prodemokrasi, turun ke jalan.