MUSTAKAWENI MBELING (4)

Setelah terkena langsung pada sumbernya, Mustakaweni justru menyerahkan Jamus Kalimasada pada musuhnya.

MUJUR betul Harjuna jadi wayang. Di tengah panggilan tugas memburu pencuri Jamus Kalimasada yang sifatnya wajib kifayah, mendadak ada tenaga relawan siap membantu dirinya. Imbalannya bukan minta jabatan komisaris BUMN, tapi cukup diaku sebagai anak. Ini kan simpel sekali. Kalau berhasil ini bocah rebut Jamus Kalimasada dari Mustakaweni, kan tinggal perintahkan Kantor Catatan Sipil bikin akte kelahiran atas nama Bambang Priyambada sebagai anak Harjuna.

Kenapa pula memburu pencuri Kalimasada sebagai kewajiban kifayah? Karena jika ada wayang lain yang mengerjakan, lainnya bebas dari dosa. Tapi jika tak ada yang mengerjakan, semunya keluarga Pandawa Lima kebagian jatah dosa secara merata. Jelek-jelek begini Harjuna juga tahu soal beginian, karena rajin mengikuti kuliah subuh di TV.

“Ndara Janaka kok ceroboh amat sih. Masak anak ABG belum hilang pupuk bawang-nya begitu ditugaskan memburu pencuri Jamus Kalimasada. Ini terlalu riskan, masak keberlangsungan sebuah negara dipercayakan pada anak kemarin sore.” Protes Gareng lagi.

“Tenang saja kamu Reng Gareng. Ini kebijakan politik di Ngamarta, bukan bursa Capres di Indonesia. Baru pensiunan mayor boleh kepengin jadi RI-1.” Jawab Harjuna ketus.

Harap dimaklumi, di negeri Ngamarta kedudukan pusaka Jamus Kalimasada sangat dikultuskan. Semua pemimpin negeri itu sejak Prabu Pandu percaya bahwa Kalimasada sebagai penyelesai segala masalah. Selagi pusaka itu ada di istana Indraprasta, akan amanlah segalanya. Sebaliknya jika pusaka itu sampai hilang, negeri Ngamarta diyakini menjadi sangat rapuh, gampang diserbu musuh.     

Naluri Harjuna mengatakan, misi Bambang Priyambodo akan berhasil, membawa pulang Jamus Kalimada. Jika harus terjadi insiden atau ekses daripada pengambil-alihan pusaka itu, akan diselesaikan dengan cepat, tepat dan terukur. Apa harus bawa meteran? Bukan! Maksudnya akan ada tindakan yang pantas tanpa harus melanggar HAM. Oleh karena itulah punakawan Gareng-Petruk dan Bagong juga dimintakan mengawal Bambang Priyambada.