Amil dan Masyarakat yang Lelah

Ilustrasi/ pixabay

@Nana Sudiana (Direktur Pendayagunaan IZI & Mahasiswa MSKI UIN Jakarta)

Perkembangan Covid-19 laksana roller coaster, naik turun dan tak berkesudahan. Ditengah dinamika pandemi yang tak jelas kapan akan berakhir, masyarakat kini tampak kelelahan. Sebagian mereka bukan hanya abai terhadap prokes, namun juga semakin merasa “terbiasa” dengan situasi yang ada.

Beberapa pekan setelah libur lebaran dan adanya kelonggaran paska fase pengetatan saat mudik kemarin, perkembangan Covid-19 kini meningkat kembali. Trend jumlah yang terpapar meningkat signifikan, bahkan beberapa daerah dengan cepat memasuki zona hitam dengan diikuti jumlah kematian yang signifikan.

Salah satu fenomena yang cukup menonjol misalnya terjadi di Kudus, Jawa Tengah. Kasus Covid-19 di Kudus mengalami kenaikan sangat signifikan. Data yang ada menunjukan kenaikan jumlah orang terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 30 kali lipat dalam sepekan. Kenaikan kasus positif dari 26 kasus menjadi 929 kasus.

Setelah Kudus, ternyata menyusul kemudian kota-kota disekitarnya di wilayah Jawa Tengah yang juga semakin menggila. Grobogan, Pati, Demak hingga Kota Semarang perlahan naik mengkhawatirkan. Dan dalam waktu tak lama, BNPB mencatat ada 15 kota atau kabupaten yang juga naik jumlah kasusnya.

Adapun ke-15 lokasi yang diumumkan BNPB pertengahan Juni ini adalah : Grobogan (Jawa Tengah), Bangkalan (Jawa Timur), Demak (Jawa Tengah), Jepara (Jawa Tengah), Kota Bekasi (Jawa Barat), Jakarta Barat (DKI Jakarta), Jakarta Pusat (DKI Jakarta), Jakarta Utara (DKI Jakarta), Kota Depok (Jawa Barat), Jakarta Timur (DKI Jakarta), Jakarta Selatan (DKI Jakarta), Sleman (DI Yogyakarta), Kota Semarang (Jawa Tengah), Kota Bandung (Jawa Barat), Bandung Barat (Jawa Barat).

Yang paling parah ternyata Grobogan di Jawa Tengah. Kenaikan kasus di Grobogan, Jawa Tengah, bahkan jumlah kasusnya menlonjak hingga 2.803 persen. Dan dengan cepat tingkat keterisian rumah sakit (BOR) di sana hingga 93,65 persen. Kasus Grobogan ini ditengarai merupakan imbas dari Kudus sebelumnya.

Masyarakat Yang Lelah
Kenaikan jumlah masyarakat yang terpapar Covid-19 bukan tanpa alasan. Sebagian mereka yang mengabaikan protokol kesehatan beralasan sudah lelah menghadapi Covid-19 yang berjalan setahun lebih. Dengan sejumlah alasan, mereka mengambil risiko terpapar Covid-19. Termasuk ke dalam hal ini adalah alasan ekonomi.

Berita tentang vaksinasi, menimbulkan harapan baru. Namun dengan berubah-rubahnya informasi yang ada. Juga masih belum jelasnya kapan masyarakat akan mendapat vaksin gratis selain guru, lansia dan pejabat publik, mendorong masyarakat merasa lelah menanti kepastian soal vaksin ini untuk mereka. Memang data yang dirilis Satgas Covid-19 menunjukan total jumlah vaksinasi pertama sudah mencapai 15.703.583. Dan vaksinasi kedua mencapai 10.359.996 pada akhir Mei ini.

Ditengah meningkatnya vaksinasi untuk masyarakat, data penurunan penggunaan masker ditengah aktivitas masyarakat terus menurun. Termasuk juga angka pemberlakuan jaga jarak dan menghindari kerumuman juga menurun sebanyak 20,6 persen.

Adalah sebuah kewajaran muncul kelelahan di tengah masyarakat. Hal ini antara lain akibat ketidakjelasan kapan akan berakhirnya pandemi. Selain itu, penyebab yang bisa menimbulkan kelelahan di masyarakat adalah situasi ekonomi yang terjadi di tingkat keluarga.

Diantara anggota keluarga yang ada, mesti ada yang harus mengambil risiko untuk tetap bekerja agar ada pendapatan yang diterima oleh sebuah keluarga. Hal ini bukan hanya untuk mempertahankan kehidupan anggota keluarga, namun juga untuk menjaga arah masa depan keluarga.

Dari situasi ini, tentu saja sebenarnya memiliki kerentanan. Selain uang yang didapat, secara langsung maupun tidak langsung, sang pencari nafkah ini bisa terpapar virus dan rentan membawa virus ke dalam rumah. Dengan demikian kemungkinan anggota keluarganya terpapar menjadi semakin potensial terjadi.

Peran Amil Menjaga Kelelahan Masyarakat
Para amil yang bergerak di organisasi pengelola zakat, sesungguhnya memiliki nasib yang tak jauh berbeda. Mereka mewakili keluarga masing-masing bergerak dan beraktivitas dalam rangkaian kerja nyata sebagai seorang amil.

Mereka saat yang sama, punya tambahan tugas untuk menjaga agar masyarakat yang lelah bisa tetap sehat dan kembali kesadaran-nya untuk menjaga diri dan melindungi diri dan keluaganya dari paparan Covid-19 yang masih terjadi.

Para amil, disamping harus menjadi teladan dalam penegakan prokes juga harus memiliki kemampuan yang nyata serta efektif dalam mengatasi situasi ini. Dengan berlalunya waktu setahun lebih sejak Covid-19 hadir di Indonesia, para amil semakin terus belajar untuk beradaptasi dan melalui masa sulit akibat pandemi ini dengan lebih baik. Para amil juga semakin memahami dan mengerti betul dimana peran strategis mereka ditengah naik turun-nya pandemi ini.

Melihat kemampuan Pemerintah, khususnya dalam penanganan pasien yang terpapar Covid-19, baik dari sisi edukasi, perencanaan penanganan-nya hingga pemulihan Kesehatan pasien, kita semakin yakin dampak negatif akibat Covid-19 ini perlahan terkendali dengan baik. Kondisi ini semakin membuat optimis juga manakala sarana prasarana kesehatan yang ada juga semakin terkelola dan terintegrasi dengan baik.

Dengan melihat situasi terkini, para amil dalam lingkup FOZ yang pernah mengumpulkan dana hingga 567 miliar dalam tujuh bulan sejak covid-19 hadir memasuki wilayah Indonesia, kini harus mereposisi peran-nya. Aspek Kesehatan, fasilitasi Kesehatan serta hal-hal mendasar soal penanganan dan pemulihan kesehatan pasien dhuafa tak terlalu relevan untuk dijadikan fokus penanganan yang ada.

Para amil kini justru harus mulai serius bergerak ke arah pemulihan ekonomi keluarga mustahik. Kegiatan pemulihan ekononi berupa pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui aktivitas ekonomi untuk golongan fakir dan miskin, terutama untuk usia produktif. Namun program-program pemulihan ekonomi ini harus tetap dilengkapi dengan edukasi penerapan protokol kesehatan yang baik, sehingga aman untuk ara mustahik yang dibina maupun keluarga mereka yang ada di rumah.

Dalam pemulihan ekonomi masyarakat dhuafa yang akan dilakukan, harus dibangun sistem dan kolaborasi diantara lembaga-lembaga zakat yang ada untuk skema pemulihan ekonomi secara integratif. Para amil lewat lembaga masing-masing perlu juga menyiapkan pendampingan usaha beserta skenario pengembangan-nya. Perlu juga dipastikan apakah ada kurikulum pelatihan yang memasukan unsur edukasi dalam menjalankan protokol kesehatan, baik di lingkup usaha yang dirintis maupun di keluarga mereka.

Strategi amil zakat yang meng-edukasi para mustahik dalam kelompok-kelompok binaan yang ada juga diharapkan akan menjadi unsur penting untuk memperkuat ketahanan keluarga, baik dari sisi ekonomi maupun agar terhindar dari paparan Covid-19 yang tak jelas sampai kapan akan berakhir. Istilahnya, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan fokus ke keluarga mustahik lewat program pemberdayaan ekonomi sekaligus menghindarkan masyarakat dari kelelahan akan dampak-dampak negatif Covid-19.

Momentum penguatan ekonomi juga akan mengurangi pandemic fatigue syndrome atau sindrom kelelahan akibat pandemi Covid-19 di tengah masyarakat saat ini. Jika hal ini bisa disinergikan oleh lembaga-lembaga zakat yang ada, maka dampaknya tentu akan semakin luas dan signifikan. Setidaknya, bagi mustahik, ditengah tidak adanya kepastian kapan pandemi ini akan berakhir, namun mereka akan tetap tenang dan optimis bahwa ada yang peduli pada mereka dan tidak akan meninggalkan mereka berjuang sendiri melewati beratnya masa-masa pandemic Covid-19 ini.

#Ditulis di barat Kota Jogja, Jumát, 19 Juni 2021