Bagaimana Setting Isolasi Mandiri di Rumah

Ilustrasi ruang isolasi/ warta ekonomi

JAKARTA – Covid-19 ramai lagi, jangan terperosok masuk lubang yang sama. Belajar dari pengalaman lalu. Psikotrauma yang ditimbulkan oleh Covid-19 banyak mengenai nakes dan masyarakat. Nakes cenderung stress apabila praktik atau RS-nya dibanjiri oleh pasien Covid-19, sehingga sering terbawa situasi panik dan irrasional.

Adanya media sosial berkontribusi menyebarkan keresahan dan ketakutan terhadap Covid-19 ini sehingga masyarakat juga akan panik. Salah satu indikatornya adalah angka okupasi tempat tidur RS dan penuhnya IGD atau kegagalan tutupnya IGD dan RS akibat nakesnya banyak tertular. Tentu saja akan menyebabkan gagal pelayanan terhadap masyarakat.

Hal ini disebabkan kurangnya manajemen kontrol komunitas dalam hal Disaster Triage dan distribusi pasien Covid-19. Kontrol komunitas bukan hanya terpaku pada 3T dan lockdown saja. Tapi juga manajemen massal korban dan upaya mitigasi.

Satu yang dilupakan adalah isolasi mandiri terpantau (Isomantau), yang sudah terbukti aman dan nyaman bagi pasien dan nakes. Memang ada kriteria yang harus dipenuhi untuk tempat isolasi. Pendiri dan Presidium MER-C, Dr. Yogi Prabowo menjelaskan upaya mitigasi itu dinamis bisa dilakukan di berbagai setting tempat, yaitu:

1. Kalau rumah Anda ada 2 lantai, maka Isomantau bisa dilakukan di lantai 2;

2. Kalau rumah anda tidak 2 lantai, maka anda bisa melakukan di dalam kamar (kalau bisa ada jendela) dan Anda harus selalu memakai masker.

Secara psikologi Anda akan merasa lebih nyaman, bisa dekat dengan keluarga, bisa masak mie, bisa ngopi bahkan bisa berjemur. Dan yang lebih penting adalah “viral load” atau kadar virus di ruangan tersebut akan lebih rendah ketimbang di RS dimana banyak pasien Covid-19.

Untuk memantau perkembangan kesehatan Anda, maka laporkan ke RS atau faskes terdekat dengan WA atau video call. Jaga kesehatan fisik, minum vitamin, cukup istirahat, jaga kesehatan psikis. Kalau ada perburukan baru Anda ke RS atas instruksi dokter.