Kebakaran Hutan dengan Pandemi Covid-19

Ilustrasi/ Foto: Ensiklopedia.id

JAKARTA – Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), saat ini sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian wilayah ini akan sensitif terhadap ancaman bahaya kebakaran hutan dan lahan. Khususnya pada wilayah yang bergambut. Ancaman lain yang masih berlangsung hingga saat ini adalah pandemi COVID-19, yang melanda hampir seluruh wilayah di Indonesia.

Keduanya menunjukkan indikasi kuat tentang peluang bersinerginya dua ancaman berbahaya tersebut yaitu kebakaran hutan dan lahan serta pandemi COVID-19. Dua hal ini mengakibatkan timbulnya double-burden atau bahkan multi burden.

Dr Naresworo Nugroho, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University dalam sambutannya mengungkapkan, “Ini dapat menjadi duel maut yang akan mengancam manusia. Dengan demikian kepada masyarakat perlu diberikan pemahaman agar tidak menggunakan api dalam penyiapan lahan. Sehingga tidak menimbulkan kabut api yang dapat berbahaya bagi kesehatan manusia.”

Prof Bambang Hero Saharjo, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University mengatakan bahwa ketika bicara tentang manajemen untuk kebakaran dan kemudian dikaitkan dengan COVID-19, itu tentu butuh dana yang besar dan tentu saja dengan cara yang benar.

“Kalau tidak dengan cara yang benar nanti yang terjadi adalah hanya bagaimana cara menghabiskan dana itu, sementara masalahnya tidak terselesaikan, ” ujar pakar IPB University yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Regional Fire Management Resource Center – South East Asia (RFMRC – SEA) ini.

“Nah di sinilah perlu sinergi antara government, peneliti, universitas dan sebagainya agar kita bisa menjawab persoalan ini,” tandas Spesialis Forensik Api IPB University, Penerima Penghargaan Internasional John Maddox 2019 ini.

Sementara itu, Dr dr Agus Dwi, SpP(K), Ketua Perhimpunan Paru Indonesia mengungkapkan bahwa setiap kejadian kebakaran hutan selalu diikuti oleh peningkatan kasus COVID-19. Biasanya kenaikan terjadi setelah sekitar satu minggu kejadian kebakaran hutan.

“Potensi udara mendukung inflamasi, paparan Particular Matter (PM) ke paru-paru mengubah respon imun sel-sel paru-paru dan menyebabkan peningkatan stres oksidatif dan inflamasi. Particular matter merupakan partikel tidak kasat mata dengan ukuran 2,5 mikrometer,” jelasnya.

Ir R Basar Manullang, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga menyampaikan bahwa “Sebanyak 99 persen Karhutla di Indonesia disebabkan oleh faktor manusia, yaitu kalalaian dan kesengajaan”. Ia menambahkan bahwa kebutuhan lahan mendorong terjadinya pembukaan lahan dengan membakar hutan. Dampak kebakaran hutan dan lahan di antaranya yaitu memusnahkan keanekaragaman hayati, meningkatkan emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim, menurunkan kualitas dan produktivitas tanah, menimbulkan kerugian ekonomi, dan mengganggu kesehatan masyarakat.