Corona Bikin Negara Pusing

Lockdwon tingkat kampung, cara orang desa menangkal wabah Covid-19.

SEPERTI telah diprediksi para ahli, pasca mudik Lebaran pertengahan Mei lalu Covid-19 akan meledak. Dan ternyata benar, sejak 24 Juni 2021 lalu pasien baru Corona jumlahnya mencapai 20.000 lebih dalam sehari. Itulah resikonya bangsa yang susah diajak berdisiplin. Paling ironis, IDI dan pandemiolog tak sependapat tentang penyebab ledakan itu. Pemerintahpun terpaksa mengeluarkan kebijakan PPKM Darurat se Jawa-Bali dari 3 Juli hingga 20 Juli mendatang. Corona benar-benar bikin pusing negara, baik dari segi keuangan maupun kebijakan.

Bangsa kita memang terkenal susah diajak berdisiplin, larangan dianggap anjuran, sementara anjuran dianggap larangan. Misalnya soal Prokes Covid-19 ini, Presiden melarang seluruh rakyatnya mudik Lebaran selama pandemi Corona, tapi Wapresnya justru minta dispensasi untuk pesantren. Setiap Pemda mewajibkan rakyatnya pakai masker, tapi banyak rakyat yang tak menggubris. Berdasarkan survei, hanya 78 persen yang patuh pada protokol kesehatan.

Tambah ironis, ada lho warga negara nampang di Youtube siap manantang maut. Karena tak percaya adanya Corona, dia siap memegang mayat korban Corona, dan siap mati jika benar-benar terpapar. Bahkan dari Surabaya diberitakan, ada guru besar yang otaknya kecil, karena  menuduh Covid-19 adalah cara pemerintah membunuhi orang Islam rakyatnya sendiri. Kata Asmuni Srimulat jika masih hidup, “Ini profesor cap apa?”

Berdasarkan pengalaman, setiap habis libur panjang, kluster-kluster baru Corona bermunculan. Maka kembali para ahli memprediksi, usia Lebaran 1432 H nanti warga negara yang terpapar Corona akan meledak. Ternyata prediksi itu nembus 3 angka ibaratnya beli nomer buntut. Satgas Corona mengumumkan, dalam sehari pasien baru mencapai angka 20.000 lebih dan berapa hari berikutnya menjadi 21.000 lebih secara nasional. DKI Jakarta termasuk paling parah, sehari mencapai 5.000 dan naik lagi sampai menjadi 8.000.

Rumah Sakit di mana-mana penuh, Wisma Atlet di Kemayoran juga full house. Di Jakarta Utara misalnya, jenazah di RSUD Koja sampai puluhan belum dimakamkan karena kekurangan tenaga. Ini mengingatkan pada kasus Corona di India, karena kekurangan tenaga bakar mayat, akhirnya banyak mayat hanya dihanyutkan di Sungai Gangga. Adzu billah mindzalik, di Pulo Jawa janganlah sampai di Bengawan Solo mayat-mayat mengalir sampai jauh…….

Di India korban Corona meningkat tajam karena virus varian Delta, dan virus jenis demikian sudah masuk pula ke Indonesia. Maka IDI yakin betul bahwa meledaknya korban Corona di Indonesia ya karena varian Delta tersebut. Ternyata pandemiolog UI Pandu Riono membantahnya. Kluster-kluter baru bermunculan penyebabna ya karene libur Lebaran tempo hari. Sebab Corona menyebar akibat pergerakan manusia yang tak terkendali dan mengesampingkan Prokes. Teorinya, Corona menular dibawa orang, bukan si virus yak-yakan jalan sendiri cari korban.

Ketika Covid-19 masuk Indonesia Maret 2020, pemerintah memprediksi setahun paling sudah selesai. Faktanya sudah 2 kali Lebaran terus ngendon, nggak mau pergi. Jika sampai 3 kali Lebaran tahun depan tetap nggak mau pulang, benar-benar Covid-19 mau menyaingi Bang Toyib.

Covid-19 benar-benar bikin pusing rakyat dan pemerintah. Maksudnya rakyat “kasta” wong cilik kelas menengah ke bawah, tentunya. Mereka kini terganggu cari makan, mengais rejeki. Bahkan tak hanya terpotong jatah rejekinya, gara-gara Corona ribuan orang terpotong pula jatah umurnya.

Sedangkan negara pusing menyediakan anggaran dan ambil kebijakan. Sampai Januari 2021 telah dianggarkan Rp 74 trilyun, tapi sepertinya belum cukup. Padahal itu baru setengah “lockdwn”. Pemda DIY yang hanya berpenduduk 3,6 juta saja Pak Sultan HB X angkat tangan ngingoni (kasih makan) gratis buat rakyatnya, apa lagi pemerintah dengan penduduk keseluruhan sekitar 270 juta.

Meski banyak desakan agar Indonesia melakukan lockdown, Presiden Jokowi menolak dengan tegas, karena bernuansa jebakan batman. Maka paling aman ya cukup dengan setengah lockdown saja. Kegiatan rakyat tak dibatasi super ketat, sehingga ekonomi tetap jalan. Dulu ada PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Mikro, kini diberlakukan PPKM Darurat se Jawa – Bali dengan dikomendani mentri paling kompatibel segala urusan, Luhut Panjaitan.

Aturan baru itu berlaku besok, 3 Juli hingga 20 Juli mendatang. Pertokoan besar, mal-mal harus tutup. Yang diperbolehkan buka hanya warung-warung minimarket termasuk pasar tradisional, itupun dengan prokes ketat. Demikian juga kegiatan pendidikan, budaya, olahraga juga prei dulu. Tapi tenang, rakyat kecil keluarga miskin bakal tetap dapat Bansos.

Gara-gara Corona berkepanjangan, pemerintah jadi pusing 7 keliling, karena ada Kepala Daerah kerja seenaknya, tak fokus mikir Covid-19 tapi malah sibuk mikir Pilpres 2024. Inilah resiko pemerintah di era gombalisasi, PPKM bisa diplesetkan menjadi: Presiden Pusing Korona Meledak. (Cantrik Metaram).