Italia Juga Berjaya Lawan Covid

Italia yang lolos semi final Euro Cup 2021 juga sukses mengendalikan Covid-19 berkat keberanian pemerintahnya melakukan lockdown lebih dua bulan di seluruh negeri 9 Maret sampai 18 Mei 2020, dan yang kedua, pertengahan Mei lalu.

ITALIA dengan tim “gli Azzurri”-nya yang sukes lolos ke semi final Piala Eropa 2021 pekan depan melawan tim matador Spanyol, juga berhasil memenangkan perang melawan pandemi Covid-19.

Dengan kasus Covid-19 tertinggi di Eropa, bahkan  salah satu terparah di dunia, Italia sejak Senin (28/6)  menyatakan, seluruh 20 wilayahnya berstatus zona putih atau berisiko rendah Covid-19 sehingga warganya bebas tidak mengenakan masker.

Testing dan Tracing yang efektif, menurut laporan BBC, walau pun jauh lebih rendah dibandingkan yang dilakukan di Inggeris, berkontribusi besar bagi pengendalian Covid-19 di Italia selain lockdown yang cukup lama (dua bulan lebih).

Kedua program tersebut (testing dan tracing) yang dilakukan secara masif di sejumlah bandara, stasiun KA dan sekolah-sekolah berlangsung efektif dan berjalan lancar.

Begitu pula testing secara  “drive-in” bagi bayi sampai anak usia enam tahun yang selesai dan diketahui hasilnya dalam 30 menit, jika negatif, orang tua mereka dapat menitipkan kembali anaknya di sekolah atau tempat penitipan anak.

Italia juga termasuk negara yang memberlakukan lockdown cukup lama, dari 9  Maret sampai 18 Mei, 2020 dan yang pertama menerapkannya secara nasional dan mencabutnya paling belakang.

Lockdown kedua diberlakukan 15 Maret 2021 di sebagian besar wilayah utara serta Lazio dan Marche di wilayah tengah serta  Puglia di  selatan saat 3,2 juta warganya terpapar dan sekitar 102.000 tewas akibat Covid-19.

Pada awalnya, seluruh kota dilockdown, dilanjutkan ke wilayah Lombardy di utara, lalu ke seluruh semenanjung dan pulau-pulau walau nyaris tidak ada penyebaran Covid-19 di sebagian besar wilayah tengah dan selatan.

Tidak Lupa Diri

Otoritas kesehatan Italia juga tidak bereuforia di balik kisah sukses mereka mengendalikan Covid-19, bahkan terus melakukan penelitian terhadap perilaku virus penyebabnya.

Dipandu oleh komite ilmiah dan teknis, para dokter di RS  mengumpulkan lebih 20 indikator virus setiap hari, mengirimkan ke otoritas kesehatan wilayah, lalu   meneruskannya ke Institut Kesehatan Nasional yang menerbitkan laporan mingguan sebagai acuan kebijakan.

Oleh karena kebijakannya diambil berdasarkan sains, otoritas  Italia tidak ragu saat menerapkan lockdown kedua ketika kasus Covid-19 kembali melonjak.

Pada awal Agustus 2020 parlemen Italia mengumumkan keadaan darurat hingga 15 Oktober setelah PM Giuseppe Conte mengingatkan, negaranya tidak boleh lengah karena virus masih menyebar.

Kebijakan tersebut memungkinkan pemerintah untuk tetap melakukan restriksi dan melakukan respons dengan cepat, termasuk dengan lockdown untuk setiap klaster baru.

Tidak diragukan lagi, lockdown merugikan ekonomi Italia karena hampir tiga bulan, bisnis dan restoran ditutup, pergerakan masyarakat juga sangat dibatasi, bahkan perjalanan antarwilayah, antarkota, dan tempat wisata dihentikan.

Korbankan 10 persen PDB

Italia waktu itu diperkirakan kehilangan sekitar 10 persen  Produk Domestik Bruto (PDB) 2020, namun para petingginya  lebih mengutamakan nyawa warga ketimbang perekonomian.

“Kesehatan warga Italia datang harus diutamakan,” kata Conte saat itu walau kebijakan lockdown total sempat dianggap berlebihan oleh para kritikus karena melumpuhkan roda ekonomi.

Namun akhirnya terbukti kiat Italia lebih baik keimbang menggerakkan kembali perekonomian saat virus corona masih menyebar luas seperti dilakukan AS, Brasil, dan Meksiko.

Di Indonesia kiat Italia menaklukkan Covid-19 tentu ada yang bisa dicontoh, walau tidak semuanya, mengingat kondisinya memang jauh berbeda.

Siapa yang memberi makan atau menafkahi 70 persen warga yang bekerja di sektor informal yang mati suri atau stop usahanya jika dilakukan lockdown total ?

Lagipula, di tengah inkosistensi para pejabat, beda visi antara pusat dan daerah, pejabat yang bekerja sekedarnya atau cuma pencitraan, begitu pula politisi yang sebagian cuma nyinyir, rakyat yang rendah literasinya dan mudah dihasut, kebijakan apa pun agaknya tidak mudah diimplementasikan. (kompas.com/ns)