Jangan Cium Tangan Kiai !

Mencium tangan kiai seakan menjadi kewajiban. Tapi di masa Covid-19 jangan dulu.

MENCIUM tangan orang yang sangat dihormati, adalah tradisi bangsa Indonesia. Itulah tanda menghormati pada seseorang yang kita cintai. Tapi gara-gara virus Corona, tradisi warisan itu harus dihilangkan dulu, termasuk mencium tangan para kiyai. Ketum PKB Muhaimin Iskandar sampai menyarankan hal itu karena belakangan ini buanyak kiai dan ulama meninggal terpapar Covid-19. Penyebab awal salah satunya ya itu tadi, kiyai, ulama dan ustadz selalu diantri untuk dicium tangannya oleh jemaah dan santri-santrinya.

Politisi PKB yang berambisi Nyapres di 2024 tersebut sampai menyarankan demikian, bertolak dari catatan MUI bahwa, sampai tgl. 4 Juli 2021 lalu telah meninggal ulama dan kiai pesantren sebanyak 584 orang selama masa pandemi Corona. Para pendakwah ini bertumbangan karena tak bisa melepaskan diri dari tradisi yang kini tiba-tiba menjadi hal yang membahayakan dan mengancam jiwa.

Pandemi Corona gelombang kedua ini memang mencekam. Dalam sehari saja tercatat 58.000 orang terpapar. Virus varian Delta sudah masuk pula ke Indonesia. Menurut para ahli, penyebarannya cepat sekali. Jangankan sampai cium tangan atau berjabatan, baru berpapasan saja virus Varian Delta ada yang mampir dan menularkan.

Maka Muhaimin Iskandar menyarankan, untuk masa sekarang-sekarang ini bila ketemu para kiai cukuplah bersalaman di dada masing-masing saja. Kesannya memang kurang sopan, tapi ini semua demi menjaga keselamatan kiai. Sebab belum jelas sampai kapan virus mematikan ini berakhir, dan selama itu pula keselamatan para kiai dan ulama terancam, jika para pecintanya tak mau mengubah tradisi lama.

Mengganti cium tangan dengan salam dada, berjabatan tangan diganti dengan salam adu sikut, kesannya memang tidak sopan. Paling bagus berjabatan tangan ala PKS lah; cukup menangkupkan tangan ke dada masing-masing sambil menganggukkan kepala seperti orang Jepang. Itu pun harus pakai jaga jarak minimal 3 meter. Sebab bila berdekatan sampai 1 meter, jika salah satunya terpapar Covid-19, otomatis akan tertular karenanya.

Bila yang terpapar pihak yang mengajak bersalaman atau mencium tangan, yang terkena hanya kiainya. Tapi jika yang terpapar duluan kiainya, efek cium tangan itu akan menularkan virus Corona ke segenap jemaah yang sempat mencium tangan sang kiyai. Maka kluster-kluster baru akan segera bermunculan.

Kita jadi ingat ketika ketika Presiden Jokowi melarang rakyatnya mudik pada Lebaran 1442 H tempo hari. Tapi ternyata Wapres Ma’ruf Amin justru  minta dispensasi agar para murid pesantren dibolehkan mudik. Katanya, Wapres mengusulkan itu atas desakan para kiai di ponpes-ponpes. Nah, jika sekarang banyak kiai dan ulama bertumbangan, mau menyalahkan siapa? Apakah akan menyalahkan rumput yang bergoyang?

Diakui atau tidak, di kalangan ulama dan kiai sendiri tak satu kata dalam menyikapi virus Corona. Ada yang percaya bahwa virus itu nyata ada, tapi ada pula yang menyebutnya sebagai tentara Allah Swt sebagaimana kata ustadz Abdul Somad. Bahkan ada juga, meski mengakui adanya virus tersebut, tapi ustadz itu berani menjamin bahwa orang Islam takkan terpapar Covid-19, karena kita sehari wudlu minimal 5 kali. Faktanya, 584 kiai dan ulama berguguran.

Paling memprihatinkan, ada ustadz menjadi tukang kompor dalam ceramahnya. Dia menganggap Covid-19 dijadikan alat oleh Pemerintah untuk menghalang-halangi umat Islam beribadah. Contohnya, mesjid-mesjid supaya tutup di masa PPKM  Darurat. Banyak hari lain, tapi kenapa ditentukan PPKM itu sampai tgl. 20 Juli 2021? Padahal tanggal itu adalah bersamaan dengan Idul Adha, itu kan sama saja pemerintah melarang salat Ied dan potong hewan kurban. Lalu kata ustadz Sofwan Nizhom, “Iblis senang hal-hal seperti itu, dan sekarang dari RT sampai presiden jadi iblis semua!”

Kita negara berdemokrasi, mengritik pemerintah bolah-boleh saja, tapi seyogyanya dengan cara yang beradab, bukan menghujat. Jadilah pendawah yang sejuk, terasa adem bagi jemaahnya. Janganlah malah jadi tukang kompor jemaah, karena tukang kompor di Cawang pun sudah punah. (Cantrik Metaram)