Dimaklumi Karena Corona

Bocah Vino sendirian di ruang isoman, karena kedua orangtuanya meninggal kena Corona.

CORONA itu penyakit mematikan bagi penderita comorbid (penyakit bawaan). Karenanya setiap orang yang masih sayang nyawa, selalu berhati-hati dan jaga jarak sesuai prokes. Itupun jumlah korban meninggal –ada yang menyebutnya wafat–  terus berjatuhan setiap hari, dalam tempo 1,5 tahun  85.000-an jiwa rakyat terenggut Corona. Ternyata pandemi Covid-19 bukan saja melumpuhkan perekonomian, tapi juga membuat anak bangsa tercerabut dari kultur keindonesiannya. Apapun alasannya, asal dikaitkan dengan Corona, orang menjadi maklum adanya.

Bila dibanding dengan TBC, sebetulnya Covid-19 tak seberapa menakutkan dilihat dari jumlah korban. Menurut data Koninklijke Nederlandse Centrale Vereniging tot bestridjing der Tuberculose” (KNCV), di Indonesia korban meninggal karena TBC 300 orang dalam sehari. Sedangkan Covid-19, sehari sekitar 157. Baru separonya, kan? Tapi hebohnya bukan main, karena menang publikasi internet.

Kini banyak orang termasuk penulis, trauma membuka dan membaca grup WA antar keluarga atau komunitas. Sebab isinya selalu diawali dengan ucapan innalillahi wainna illaihi roji’un. Korban meninggal Corona biasanya orang jauh, karena mereka pejabat, artis atau tokoh yang hanya kita kenal nama dan wajahnya lewat media massa dan TV. Tapi sekarang, korban Covid-19 sahabat dan teman kita bahkan keluarga sendiri.

Bila yang meninggal Corona  seorang tokoh atau selebritis, kita cukup mengucapkan innalillahi wainna illaihi roji’un saja. Tapi ketika almarhum-almarhumah adalah orang dekat kita, kita pasti tergerak untuk takziah. Tapi gara-gara Covid-19, tradisi takziah itu kita mulai terkikis dari budaya bangsa. Mendengar tetangga meninggal karena Covid, kita hanya mengucapkan innalillahi wainna illaihi roji’un saja. Mau datang langsung, takut si Covid-19 justru nginthil saat kita pulang.

Sejak setahun lalu tradisi takziah hanya dipakai oleh keluarga dekat semata. Sampai-sampai, meski meninggalnya bukan karena Corona, orang juga takut takziah. Bukan karena takut ketularan penyakit si mati, tapi siapa tahu terdapat pelayat lain terpapar Corona dan menular ke kita. Sebab kerumunanan adalah medan paling mudah untuk menularkan virus Corona.

Orang punya hajatan, kini juga sepi tamu. Lagi-lagi alasannya Corona. Tapi paling kelewatan bin kebangetan, seorang Lurah di Depok dalam masa pandemi undang tamu 1.500. Sebagai pejabat pastilah tahu dia aturan pemerintah, tapi kenapa dilanggar, apa karena punya target sumbangan? Akhirnya Pak Lurah dicopot oleh Walikota Depok. Tamu yang hadir sekitar 300 orang. Tak jelas, mencapai target apa tidak acara tersebut.

Paling ironis tapi menjadi logis, ketika perusahaan kolaps gara-gara Corona, pihak pengusaha menjadikan Corona sebagai alasan untuk tidak memberikan pesangon secara penuh. Mestinya karyawan diberi pesangon sesuai dengan masa kerja masing-masing. Mestinya karyawan itu menerima pesangon Rp 200 juta, gara-gara Covid-19 hanya dibayarkan 25 persen. Alasan bos, jual aset susah di masa pandemi Corona. “Kalau mau segitu, nggak mau ya sudah!” kata pemilik perusahaaan.

Tapi bersyukurlah, di kala rakyat semakin banyak bersikap “lu lu gua gua”, masih banyak pula yang mau berbagi sama tetangga sekitarnya. Sebagaimana yang terjadi di Kab. Kutai Barat (Kaltim), bocah Vino (10) isoman sendirian setelah ayah ibunya meninggal termakan Covid-19. Sementara dia terkurung di rumah sendirian berhari-hari, para tetangga berhari-hari memberikan bantuan logistik dan obat-obatan dari luar.

Paling mengharukan adalah kisah ahli paru-paru Prof dr Taufik SpP(K) yang juga terpapar Covid-19. Ketika dia diberikan ventilator oleh anaknya agar luput dari kematian, justru dia menolak. Alasannya, ventilator itu lebih tepat diberikan saja pada pasien lebih muda yang masih panjang masa depannya. “Saya sudah tua, mati pun nggak papa….”, katanya. Dan benar saja, sang profesor budiman itu meninggal beberapa jam kemudian.

Celakanya, ketika Menko Polhukam Mahfud MD ikut komentar saking terharunya, justru dinyinyiri Fadli Zon Cs. Katanya, sebagai pejabat tinggi negara tak boleh berkomentar semacam itu. “Komentar Mahfud MD seakan menegaskan bahwa pemerintah tak bisa berbuat banyak, sehingga rakyat diminta mengurus diri masing-masing.” Katanya sok bijaksana.

PPKM Darurat maupun PPKM level 3-4 memang semakin memperpanjang penderitaan rakyat kecil. Tapi apa daya, ini jalan satu-satunya agar perekonomian rakyat tetap bergerak meski terbatas. Rakyat diminta memahami “kekejaman” pemerintah. Pengin dilockdown total, di mana rakyat disuruh makan tidur di rumah dengan biaya ditanggung negara? Duitnya dari mana?

Lockdown setengah kopling saja sudah banyak yang berteriak, apa lagi lockdown total, pastilah semakin dijadikan alasan oposisi untuk menyalahkan pemerintah, khususnya Presiden. Maka politisi yang sudah tenggelam macam MS Kaban, tak perlulah menyarankan MPR menggelar sidang untuk mengadili Jokowi karena dinilai gagal mengatasi Corona. Mendingan MS Kaban hepi-hepi saja macam Wongso Kaban, aktif di kegiatan macapatan radio Jawa di Jakarta. Itu malah dapat pahala karena menghibur masyarakat.

Pemerintah sudah pusing mengatasi Covid-19, janganlah digrecokin. Jika tak bisa membantu, mending diam sajalah tak usah berisik. Jangankan perihal kebaikan, soal kemungkaran saja hadits Nabi mengingatkan, ……. jika tak mampu dengan tangan rubahlah dengan hati (doa), meski itu selemah-lemahnya iman. Itu artinya, Anda-Anda yang imannya lemah, masih beruntung. Paling celaka kalau  yang lemah…….syahwatnya. (Cantrik Metaram)