Cuma Advis dan Doa Saja?

Pengusaha asal Palembang Akidi Tio dan keluarganya menyumbang untuk Covid-19 sebanyak Rp 2 triliun.

PEMERINTAH terus bergelut dengan Covid-19. Ratusan triliun dikucurkan, banyak kebijakan dikeluarkan, semua ini demi menyelamatkan rakyat sekaligus ekonomi Indonesia. Ironisnya, sementara banyak yang menyumbang, ombyokan pula yang suaranya sumbang. Paling lucu, sementara pengusaha Tionghoa Akidi Tio (alm) dari Palembang menyumbangkan dananya Rp 2 triliun untuk penanggulangan Covid-19, tokoh nasional sekaliber SBY dan Jusuf Kalla hanya sekedar sumbang doa dan advis.

Kita sudah 1,5 tahun hidup bersama Covid-19, tapi sampai kini belum diketahui kapan tiba di finish? Sampai-sampai Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adi Sasmito harus mengatakan, kita akan hidup berdampingan dengan Covid-19 entah sampai kapan. Mungkin sampai rakyat menganggap Covid-19 sekedar penyakit biasa dan akhirnya si Corona pergi diam-diam karena lama-lama capek sendiri.

Nada kalimat dr. Wiku seperti orang sudah pesimis dengan usaha terakhirnya. Tapi ya bagaimana lagi, Indonesia tidak sendiri. Hampir seluruh negara di belahan dunia pontang-panting terkena. Virus jenis ini dihantam dengan vaksin ini, tahu-tahu muncul varian Corona yang lain yang lebih ganas penularannya. Setelah varian Delta, kini muncul lagi Delta Plus atau B 1.617.2.1. Jadi seperti merk mobil Toyota, ada Kijang kapsul, Crown, Hiace, sampai Corona juga.

Ratusan triliun telah dikeluarkan anggaran untuk penanggulangan Covid-19. Baik itu untuk penanggulangan si penyakit, juga bantuan ekonomi atau stimulus bagi warga miskin yang terdampak, atau karyawan-karyawati yang kena PHK gara-gara usaha lesu akibat Corona menggila. Tapi ironisnya, banyak pula pejabat yang mata duitan. Jadi menteri dipercaya untuk menyalurkan bantuan, tega-teganya mencatut juga untuk diri dan kelompoknya.

Paling kurang ajar, melihat pemerintah pontang-panting mengatasi Corona, partai oposi termasuk yang nonpartai, kesannya malah mengolok-olok bahkan nyukurin. Ada pula yang menyarankan, sudahlah Jokowi lempar handuk saja, lalu tampuk kekuasaan diberikan kepada gubernur santun-seiman yang lebih pintar menangani Covid-19. Ada juga politisi yang sudah lama tenggelam menyarankan MPR menggelar sidang istimewa untuk mengadili Jokowi.

Lihatlah, sementara sekelompok orang hanya nggrecokin pemerintah lewat si mulut celometan, ada pula dermawan budiman namanya Akidi Tio dari Palembang. Meski dirinya keturunan Tionghoa, tapi dengan tulus menyumbangkan hartanya sebanyak Rp 2 triliun untuk penanggulangan Corona. Duit itu dikumpulkan selama 10 tahun oleh almarhum, kemudian oleh ahli warisnya disumbangkan kepada negara.

Pengusaha kelompok Akidi Tio ini rasanya tak pernah masuk 10 besar atau 20 besar orang kaya Indonesia versi majalah Forbes. Tapi dia begitu besar kepeduliannya atas Indonesia tempat dia dilahirkan dan usaha. Sedangkan 20 besar orang kaya Indonesia yang masuk catatan Forbes tahun 2021, kok belum ada beritanya mereka menyumbang kepada negara untuk penanggulangan Covid.

Bisa saja mereka menyumbang dalam diam, karena kata-kata bijak mengatakan: memberikan dengan tangan kanan, tangan kiri jangan sampai tahu. Kita berkhusnudzon sajalah, semoga mereka telah ikut menyumbang Covid dengan berbagai bentuk, tapi tak mau diliput.

Yang jelas publik kini menunggu pengusaha kaya raya mantan Wapres 2 kali pula, Yusuf Kalla. Gurita usahannya ke mana-mana sampai gas melon segala. Rakyat berharap dia juga tak mau kalah dengan Akidi Tio. Tapi yang ada justru sekedar sumbang saran lagu lama, agar Presiden Jokowi memutuskan lockdown saja. Kepada warga miskin diberikan bantuan Rp 1 juta sebulan, selama 6 bulan. Paling-paling seluruh Indonesia hanya akan menghabiskan dana Rp 120 triliun.

Yakiiiiiiin, setelah 6 bulan Corona lenyap dari Indonesia? Jika tidak, 6 bulan ke depannya lagi harus dikeluarkan dana Rp 120 triliun lagi. Maka saran ini muaranya bagaikan jebakan batman, seperti yang disarankan kaum oposisi. Jika keuangan negara sudah kolaps, rakyat marah dan negara chaos, oposisi akan ambil alih kekuasaan. Untung saja Presiden Jokowi tak menanggapi saran Jusuf Kalla, karena Presiden belum melihat ada jaminan lockdown bisa menyelesaikan masalah Covid-19.

Mantan Presiden SBY berbeda dengan Jusuf Kalla, dia tak memberikan saran ini itu, kecuali berdoa melalui twitter, Tuhan, seraya gigih berikhtiar, kami tetap memohon kemurahan hati-Mu. Selamatkan negeri kami dan kami semua. Bimbinglah pemerintah kami dan juga kami masyarakat Indonesia agar dapat mengatasi pandemi besar ini. Amin.”

Tak urung doa presiden RI ke-6 ini jadi sorotan warganet. Masak sekelas mantan presiden kok hanya kirim doa? Jika tak mampu triliunan seperti Akidi Tio, ya puluhan miliar sajalah, masak nggak ada? Toh duit tak pernah bersuara. Tapi publik rupanya lupa bahwa yang namanya menyumbang itu tak bisa dipaksa. Biarpun menjumbang puluhan miliar, kalau  tak ikhlas ya tak ada pahalanya. Sebaliknya meski hanya lima ribuan lecek, asalkan ikhlas akan dilipatkan pahalanya 700 kali.

Diakui atau tidak, kini ungkapan “saya doakan” sudah kadung sekedar menjadi pemanis bibir dalam pergaulan. Ketika seseorang mengatakan, “saya doakan ya…….” apakah benar orang tersebut lalu menengadahkan tangan, muka ke atas dan mendoakan sesuai janjinya? Belum tentu juga! Karena yang didoakan juga takkan membuntuti dan mengintip-ngintip benarkah dirinya didoakan olehnya? (Cantrik Metaram)