BETARI DURGA RUWAT (4)

Betari Durga menjawab, Pokoknya nanti kembali tetap Bambang Sudamala, bukan Bambang Geeeeeentolet.....”

AWALNYA Betari Durga tak kenal dengan Dewi Kunthi, karena ibu Pendawa ini memang bukan artis maupun selebritis. Tapi begitu dia mengaku sebagai ibu kandung Sadewa,  wajahnya langsung berbinar-binar. Secercah harapan muncul, inilah saatnya memperoleh jalan bisa kembali ke wujud aslinya, Dewi Uma. Soalnya capek juga sih kelamaan jadi Betari Durga. Bayangkan, 24 jam nonstop mulut harus mrenges terus memamerkan 32 giginya yang gingsul semuanya, sungguh ngereh lambe jadinya.

“O, kamu yang bernama Dewi Kunthi, ya? Apanya Dewi Tanjung, itu Youtuber yang galaknya minta ampun?” kata Betari Durga agak takut-takut.

“O, itu sih saudara lain bapak ibu dan lain kakek nenek. Aku sendiri nggak suka sama dia, kalau menghujat orang waton nyata (asal iya). Kok nggak takut kena pasal ITE,” jawab Betari Durga sambil senyum kecut bagaikan belimbing wuluh.

Dewi Kunthi segera menyampaikan uneg-unegnya yang terpendam selama ini. Lewat proposal intinya memohon agar ditya Kalantaka dan Kalanjana yang kini jadi pekerja outsorsing di Ngastina dicabut nyawanya. Sebab mereka selalu mengancam mau membunuh putra bungsunya, Sadewa. Jika kedua oknum ditya tersebut sudah wasalam, niscaya tenanglah dia sebagai ibu daripada Pendawa Lima.

Sebetulnya Betari Durga merasa berat juga mengabulkan proposal Dewi Kunthi ini. Sebab urusan cabut-mencabut nyawa merupakan domain Yamadipati, dewa pencabut nyawa yang tampilannya mirip wayang radikal. Ke mana-mana pakai jubah, berjenggot dan pakai kethu putih. Di samping itu, kasihan juga pada Yamadipati yang selama pandemi Corona ini dia sudah luar biasa sibuk, karena tiap menit harus cabut nyawa manusia. Memang betul ada Tukin (tunjangan kinerja)-nya, tapi apa dewa tak boleh istirahat dan cuti dalam tanggungan negara?

“Ulun usahakan, Kunthi. Tapi tak ada makan siang gratis di Pasetran Gandamayit, sebagai kompensasinya tolong Sadewa anakmu itu serahkan pada ulun untuk kujadikan kurban…” kata Betari Durga pada akhirnya.

“Nggak bisa pukulun, kasihan dia. Lagi pula musim haji kan sudah lewat, kenapa baru kurban sekarang. Penganut aliran apa sih pukulun ini?” jawab Dewi Kunthi tetap pertahankan putra bungsunya.

“Bahasa halusnya, untuk ngruwat saja kok. Sebab saya mau minta tolong Ki Manteb Sudharsono keburu sudah meninggal,” kata Betari Durga dengan wajah sendu.

“Sorry, nggak bisa. Ini kan bak-buk saja jadinya. Ke sini demi menyelamatkan Sadewa, kok malah diminta korbankan Sadewa juga. Nggak nyambung deh!”

Dewi Kunthi langsung pergi mak klonyot tanpa pamit. Ditahan Betari Durga tetap mberot, sehingga penguasa Pasetran Gandamayit itu panggil jin perempuan Kalika untuk mengejar Dewi Kunthi. Selain abdi dalem, jin ini ahli hipnotis karena pernah berguru pada Uya Kuyak. Karenanya setelah dihipnotis jin Kalika Dewi Kunthi jadi hilang kesadannya dan mendadak siap mengorbankan Sadewa untuk.

Sadewa mendadak diganti namanya menjadi Bambang Sudamala lengkap dengan sertipikatnya dari Kantor Catatan Sipil, sudah dilaminating pula. Dia lalu diseret Dewi Kunthi masuk ke Pasetran Gandamayit lagi untuk dihaturkan kepada Betari Durga. Sebetulnya Sadewa tidak mau, karena ketakutan melihat wujud Betari Durga yang tampilannya mirip Ondel-Ondel Betawi untuk ngamen di jalan-jalan Ibukota.

“Silakan pukulun Betari Durga, Sadewa saya serahkan. Tapi tolong jangan cidera janji janji ya, Sadewa bener-bener sekedar  untuk ngruwat, bukan dijadikan bekakak.” Pesan Dewi Kunthi yang masih dalam kekuasaan jin Kalika.

“Tenang saja, ulun tak sekejam itu kok. Pokoknya nanti kembali tetap Bambang Sudamala, bukan Bambang Geeeeeentolet…..” jawab Betari Durga menggaransi.

Tapi ternyata Bambang Sudamala diam saja tak mau menjalankan tugasnya. Maklum sajalah, dia sama sekali belum pernah belajar ngruwat orang, apa lagi wayang. Dirinya juga bukan dalang dan masih bujangan pula. Sebab konon katanya, dalang ruwatan harus sudah punya istri dan tunggal pula. Dalang ruwatan memang tak boleh poligami, soalnya biar tidak “tingkrang-tingkring” melulu!

“Ayo dong Bambang Sudamala, ruwatlah ulun. Apa kamu takut sama ulun? Nggak usah takut, ulun sudah divaksin dua kali kok.” Kata Betari Durga terus mendesak.

“Maaf, apa itu ngruwat, gue nggak dhong sama sekali. Tahu saya itu lho, yang nafsu banget sama makhluk lain jenis.” Jawab Sadewa sekenanya.

“Itu sih syahwat, goblokkkk…..” omel Betari Durga saking kesalnya.

Ya, Betari Durga memang jengkel sekali pada Bambang Sudamala, sebab nasib dirinya sangat tergantung kebaikan hati Sadewa tersebut. Putus asa atas kebandelan Sadewa, Betari Durga pun mulai mengancam. Jika Bambang Sudamala enggan meruwat dirinya, akan ditadhah kalamangsa (dimakan) mentah-mentah tanpa pakai saus atau acar.

Tapi ternyata Bambang Sudamala tak bergeming, meski Betari Durga sudah menyeringai dan membuka mulut lebar-lebar memamerkan barisan giginya yang segede pethel dan jarang gosok gigi. Kebetulan Patih Narada yang tengah melanglang di udara patroli PPKM Darurat, melihat adegan itu. Wah ini bahaya, bocah belum tahu apa-apa mau dijadikan korban KDDW (Kekerasan Dalam Dunia Wayang). Beliaunya segera telpon SBG pakai WA agar segera turun ke bumi.

“Tolong Adi Guru merapat ke Pasetran Gandamayit, Bambang Sudamala dalam bahaya.”

“Bambang Sudamala, apa Bambang Pacul PDIP?” jawab SBG minta ketegasan.

“Ini Bambang masih bocah banget, belum tahu politik. Tapi hobi minum teh botol juga.”

Demikianlah, SBG segera turun ke Pasetran Gandamayit, menemui Sadewa yang dalam bahaya. Raja Jonggring Salaka itu segera merasuk ke dalam tubuh Sadewa, dan di balik jeroan dia memerintahkan segera untuk meruwat Betari Durga. Nah, karena telah kemasukan SBG tersebut, mendadak Sadewa tidak takut lagi. Tenaganya juga menguat, bak pasien Covid-19 yang saturasinya tinggal 60-an dapat pasokan oksigen asli, bukan gas pemadam kebakaran.

Bagaimana cara meruwat Betari Durga? Ternyata hanya diusap-usap ubun-ubunnya dan mendadak tampang Betari Durga tiba-tiba rontok dan kembali ke penampilan asliya, Dewi Uma yang mirip Dian Sastro atau Raisa. SBG segera merangkul istrinya dan diajak chek in di hotel, sementara Sadewa dijemput Dewi Kunthi.

“Bagaimana pukulun SBG? Dewi Uma telah kembali, lalu nasib anakku bagaimana, apakah sudah bebas dari ancaman Kalanjaya-Kalantaka?” Dewi Kunthi minta kepastian SBG.

“Tenang, keduanya sudah saya perintahkan kembali ke Jonggring Salaka, tapi langsung isoman….” jawab SBG sambil menggandeng Dewi Uma, bak pengantin baru lagi. (Ki Guna Watoncarita-tamat)