Amil dan Pohon Kurma

Nana Sudiana, Sekjend FOZ dan Direktur IZI. (Dok. Pri)

Hidup kita bisa lama atau sebentar. Apalagi pandemi saat ini membuktikan bahwa meninggal dunia tak harus tua dan sakit dahulu. Anak-anak muda yang sehat, tiba-tiba terpapar virus, lalu sakit dan meninggal tak sedikit jumlahnya.

Mari kita semakin mawas diri. Belajar menjaga hati, lisan dan juga perbuatan. Kita tidak tahu berapa lama lagi jatah usia kita ini. Yang hari ini sehat, bukan jaminan akan aman dari virus, apalagi yang penyakitan. Karena itulah, mumpung ada umur, pastikan sisa usia ini kita gunakan dengan baik. Banyak beramal, beribadah dan juga menolong sesama.

Menjadi berguna laksana pohon kurma adalah sebuah anugerah indah kehidupan. Kita tahu, kurma ini pohon yang istimewa, selain banyak disebut dalam Al Qurán, juga hadits serta cerita para sahabat nabi, kurma juga sejatinya pohon yang tepat untuk kita merefleksikan diri dan berkaca pada perjalanan kehidupannya.

Kesulitan Yang Berbuah Manis
Tanaman kurma memang istimewa, hampir semua bagian pohonnya berguna bagi kehidupan manusia. Mulai akar, daun, pelepah, batang, hingga buahnya dapat dimanfaatkan. Kurma juga tanaman berjuluk tahan banting, karena ia mampu tumbuh ditengah padang pasir yang panasnya ekstrim, tidak ada air serta badai pasir sering datang menerpa.Namun kurma terbukti bisa tumbuh dan bahkan menghadirkan kemanfaatan yang banyak bagi manusia dan makhluk hidup di sekitarnya.

Mengapa pohon kurma bisa kuat dan tahan banting, terhadap kekeringan dan panasnya suhu serta terpaan angin dan badai?. Ternyata rahasia-nya ada pada cara menanamnya yang tidak biasa. Kekuatan pohon kurma ada pada akarnya. Akar pohon kurma sangat kuat, dan menghunjam ke dasar lapisan pasir atau tanah untuk mencapai sumber air. Panjang akar ini bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan meter dalamnya.

Biji pohon kurma ketika akan ditanam dimasukkan ke dalam lubang pasir yang dalam, kemudian lubang tersebut ditutup dengan sebuah batu. Karena ada batu di atasnya, jelas ia terhambat. Yang biji ini lakukan, justru ia tumbuh ke bawah, memanjangkan akar mencari sumber air. Dan setelah ia menemukan sumber air, ia seakan punya energi untuk tumbuh ke atas, dengan membelok menghindari batu atau malah memecahkannya. Dengan kesulitan yang seakan tak ada solusi, akhirnya kurma pun tumbuh dengan kekuatan yang mengagumkan. Tahan panas, tahan kekeringan, serta tak goyah kala badai menerjang.

Berkaca Pada Kurma
Kesulitan demi kesulitan dalam kehidupan, sejatinya, seperti tunas kurma, bukan untuk menghancurkan kita. Ia ada untuk menguatkan dan menyiapkan kita tumbuh dengan kuat. Menerjang badai, melewati beragam rintangan yang akan datang menerpa. Apalagi bagi para amil zakat yang makin hari makin menua dan saat yang sama menuju karya-karya terbaik dalam kehidupannya.

Pada pohon kurma kita bisa belajar, ternyata kesulitan, tantangan dan tekanan hidup bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, malah sebaliknya, justru membuat kita berakar semakin kuat. Seperti pohon kurma, tidak sekadar bertahan, tapi pada waktunya nanti, benih yang sudah mengakar kuat itu, akan menjebol “batu masalah” yang selama ini menekan. Kita bukan hanya akan menang, tapi juga akan bertahan dalam kemenangan.

Nalar Amil Yang Tak Pernah Padam
Sebagai amil zakat, apalagi amil muda yang semangatnya masih membara, kacamata kita dalam melihat masalah selalu sama dan tak tak banyak berubah. Fokus pada solusi strategis dan kadang tak mau tahu soal teknis. Umur boleh menua, anak boleh banyak, namun gaya berpikir dan melihat situasi sosial yang ada tetap tak banyak berubah.

Di tengah kesulitan hidup karena pandemi, pikiran para amil ini rata-rata tak padam. Apalagi layu berkalang kesibukan rutin di lembaga masing-masinh. Mereka malah asyik terus berdiskusi, belajar bersama, mencoba terus menemukan solusi bersama, seolah ia lupa kalau dapur mereka kadang tak berasap (maklum sudah pake magic jar…hehe).

Para amil zakat selalu tertantang untuk terus berperan tanpa meninggalkan urusan dapur dan tetek bengek soal rumah tangga mereka. Pokoknya, sekali hidup pernah jadi amil, seolah sampai mati spirit itu mendarah daging, hingga di bawa mati. Yang luar biasa-nya, para amil ini selalu merasa punya PR yang ia harus terlibat dan ikut menuntaskan.

Begitu masalah sosial dan kemiskinan mereka lihat, termasuk soal dampak pandemi, serta merta saja mereka merasa harus terlibat juga. Dibenaknya ada masalah serius yang harus di urus. Soal bantuan pemerintah yang terbatas jumlahnya, salah sasaran, serta adanya bantuan yang dikorupsi ini semua meresahkan jiwa para amil zakat. Bahkan membuat mereka tak bisa tidur nyenyak.

Mereka jelas kecewa, walau begitu, beruntung mereka masih terus bekerja lebih konkret dalam membantu sesama. Bila ada group-group sosial media yang akhirnya malah jadi sasaran keluh kesah, bahkan kemarahan mereka, wajar saja. Mereka sering tak dapat respon dan muara yang memadai sehingga kekecewaan mereka bisa melihat semuanya bisa lebih baik kadang tak sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Mereka semua berharap proses bantuan dan solusi atas orang-orang proletar yang miskin ini bisa menjadi jalan keluar terbaik yang menuntaskan masalah yang ada.

Para amil bukan orang sakti. Ratusan sudah terpapar dan terus bertambah jumlahnya. Yang meninggal dunia pun tak sedikit angkanya. Hari ini sebagian amil ada yang isoman bahkan ada yang sakit dan menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Tak sedikit yang bahkan akhirnya meninggal tersebab ganasnya virus corona ini. Mereka semua yang tersisa kini, masih terus ingin berperan di tengah cita-cita besar mereka membangun negeri sejahtera berbasis zakat, infak dan sedekah.
Bersambung…