Rp 2 Triliun Bikin Manyun

Heryanti ketika hendak diperiksa di Polda Sumsel.

KETIKA diberitakan bahwa Heryanti, dan Hardi Darmawan dokter keluarga Akidi Tio diperiksa polisi dengan dugaan sumbangan Rp 2 triliun sebagai penipuan, publik pun tersentak. Banyak orang kecewa, banyak orang menyesalkan. Sumbangan Rp 2 triliun kok menjadi drama yang di ujung ceritanya tidak happy ending, sementara yang tak percaya sedari awal jadi tertawa berguling-guling. Ketika polisi Polda Sumsel mengatakan bawa di rekening Heryanti dananya tidak cukup Rp 2 triliun, publik pun dibuat manyun!

Jika tak cukup Rp 2 triliun, lalu adanya berapa? Sayang Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi tak bisa menjelaskan dengan alasan terkait rahasia perbankan pada nasabahnya. Kata “tak cukup Rp 2 triliun” memang merupakan kata-kata bersayap. Saldonya ternyata hanya Rp 1 juta, bisa juga disebut tidak cukup Rp 2 triliun. Dananya ada : seribu sembilan ratus miliar sembilan ratus juta sembilan ratus ribu rupiah; juga bisa disebut “tak cukup Rp 2 triliun”. Jadi mana yang benar? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, ho ho ho ho ho ho……

Tapi kisah anak bungsu mendiang Akidi Tio ini memang berhasil mengaduk-aduk perasaan banyak orang. Di tengah stigma lama bahwa warga Tionghoa kaya itu ekslusif dan mementingkan diri sendiri, berita Akidi Tio mau sumbang penanganan Covid-19 di Sumsel sampai Rp 2 triliun, menjadi sebuah antithesa. Banyak publik mengaplausnya termasuk aktivis medsos, lalu membandingkan dengan sejumlah tokoh nasional yang hanya berpastisipasi dalam doa dan nasihat.

Ternyata beberapa hari kemudian terjadi anti klimaks. Adanya kasus yang membelit si bungsu Heryanti di Polda Metro Jaya, mereduksi kepercayaan dan kebanggaan publik pada keluarga Akidi Tio. Lebih-lebih ketika terjadi berita simpang siur di jajaran Polda Sumsel. Ada pihak yang bilang, Heryanti dan dr. Hardi Darmawan baru berstatus saksi, tapi ada yang bilang sudah menjadi tersangka atas dugaan penipuan.

Istilah prank atau diplekotho (dikerjain) kata orang Solo tiba-tiba disematkan pada kasus ini. Bagaimana publik tak percaya, ketika Heryanti – dr Hardi Darmawan menyerahkan sumbangan Rp 2 triliun itu dilakukan secara simbolis, disaksikan oleh Gubernur Sumsel Herman Deru dan Kapolda Sulsel Irjen Eko Indra Heri.  Kedua pejabat tinggi di Sumsel ini  wajahnya berbinar-binar, tapi kini jadi seperti ditampar. Sehingga wajar saja Gubernur Herman Deru sampai mengatakan, “Bila ini penipuan, keduaya perlu ditindak tegas karena telah menciptakan kegaduhan.”

Bahwa sumbangan Rp 2 triliun itu sekedar prank belaka, semakin nyata ketika Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi menegaskan bahwa dana di rekening giro bilyet keluarga Akidi Tip tak cukup sampai Rp 2 triliun. Dan semakin menguatkan pada dugaan bohong, ketika Ketua PPATK, Dian Ediana Rae juga ikut bicara. Dia mengakui bahwa hingga kini belum terlihat lalulintas keuangan Rp 2 triliun dari keluarga Akidi Tio kepada Polda Sumsel yang mewakili penerimaan sumbangan tersebut.

Ini bak pepatah panas setahun terhapus oleh hujan sehari. Hujan sehari yang bikin kecewa dan malu. Tapi secercah “harapan” timbul lagi dari pengakuan mantan Meneg BUMN Dahlan Iskan, berdasarkan penelusurannya ke orang dekat keluarga Akidi Tio. Kata pemilik koran Jawa Pos itu, dana itu kemungkinan memang ada, tapi masih nyangkut di bank Singapura. Bahkan naluri jurnalisnya pun muncul, dia akan “kasak-kusuk” ke Singapura, saking penasarannnya.

Ini pelajaran lama dari para pinisepuh, sesuatu yang belum pasti janganlah diumumkan dulu. Ini penting,  agar jangan sampai terjebak pada pepatah: kakehan gludug kurang udan, alias petir bergemuruh tapi hujan tak kunjung tiba. Dan ini mengingatkan juga pada kisah Abunawas dalam cerita Seribu Satu Malam. Bedanya, Abunawas ketika ngeprank raja Harun Alrasyid dapat hadiah, sedangkan Heryanti bisa terancam pidana.

Dalam tingkat keprisidenan, tahun 1960-an Bung Karno pernah juga “dikerjain” suami istri Raja Idrus yang ngakunya dari suku Anak Dalam, Jambi. Mereka mengaku sebagai Raja Idrus dan permaisuri Markonah. Karena dia mengaku bisa membantu pembebasan Irian Barat secara mistik, Presiden Sukarno yang sedang berjuang untuk membebaskan pulau itu dari cengkeraman Belanda, menyambutnya dengan antusias. Mereka tak hanya diberi hadiah uang, tapi juga diberi fasilitas tidur di hotel dam shoping atas tanggungan negara.

Anti klimaksnya terjadi ketika dia sedang belanja, raja Idrus ketahuan oleh teman lama yang sesama tukang becak, sementara permaisuri Markonah tak lain adalah WTS asal Tegal. Tak urung keduanya masuk penjara dan Tety Kadi tahun 1967-an meledeknya dalam lagu “Raja Idrus” dengan liriknya antara lain, “…..hanya sebulan bertahta masuk penjara, mengaku keturunan raja, tapi raja entah dari mana, itulah Idrus penipu jenaka…..”

Untunglah yang diprank Heryanti anak bungsu Akidi Tio baru tingkat Gubernur dan Kapolda, bukan sekelas Presiden Jokowi. Bila ini sampai terjadi, bisa dibayangkan seperti apa reaksi oposisi termasuk Rocky Gerung dan kawan-kawan. Tentu semakin banyak orang manyun dibuatnya. (Cantrik Metaram)