BETARA DARMA TUNDUNG (1)

Meski ditanya Tumenggung Surapradoto, Begawan Animandawiya tetap membisu.

DALAM dunia perwayangan, orang suci yang sudah mungkur kadonyan disebut dalam berbagai nama, ada begawan, pandita, brahmana, wiku, ada pula resi. Tapi mana yang lebih tinggi dari “pangkat” tersebut, tak pernah diketahui. Sebab tak ada pengaruhnya sama sekali pada home pay atau penghasilannya, ketika mereka menjadi konsultan raja. Mereka jarang ikut rapat bersama raja, kecuali Pendita Durna dari negeri Ngastina. Asal Prabu Duryudana menggelar pisowananan agung, pendita dari Sokalima ini selalu tampil di depan. Meski saat sidang kerajaan sambil main HP.

Pengertian umum di jaman milenial, resi adalah bukti pembayaran atau transaksi. Tapi dalam dunia perwayangan adalah orang suci yang kesaktian dan pengaruhnya sekelas dewa di kahyangan. Ketika mereka membentuk sebuah lembaga, pengaruhnya sungguh luar biasa, bisa mengubah kebijakan SBG (Sanghyang Betara Guru) di Jonggring Salaka. Ketika mereka menggugat, Betara Darma pun bisa terusir dari kahyangan gara-gara salah mengaplikasikan apa itu hukum karma.

Alkisah, Begawan Animandawiya yang menjadi konsultan Prabu Yudakawista dari negeri  Purwacandra, tengah melakukan manobrata alias tapa mbisu. Dia akan diam saja ketika terjadi apapun di negerinya, mirip Menhan Prabowo dari negeri Indonesia. Bedanya, jika Prabowo membisu dalam arti tak mau menanggapi isyu politik yang lagi hangat, Begawan Animandawiya bisu total alias tak mau ngomong sama sekali.

“Bagaimana ini paman Animandawiya, kasus kriminal kok makin banyak, padahal kita baru setengah lockdown mengantisipasi Corona.” Kata Prabu Yudakawista dalam sebuah sidang kerajaan.

“Sabar anak prabu, saya akan puasa manobrata selama 40 hari 40 malam. Insya Allah akan segera ada petunjuk dewa, bagaimana mengatasi permasalahan dalam negeri ini.” Jawab sang begawan.

Ya, Prabu Yudakawista yang gemar goreng pisang raja kawista ini memang sedang pusing. Ketika Covid-19 juga melanda negerinya, tak ada pembantunya yang selincah Luhut Panjaitan. Akibatnya ketika PPKM dibuat permanen alias tanpa batas waktu, perekonomian rakyat jadi banyak yang kolaps. Yang sudah punya nama di TV beralih profesi jadi Youtuber. Yang tak punya keahlian apapun, jadi maling atau penjarah di pertokoan.

Kalau politisi sih enak, ada PPKM atau tidak dia tetap digaji negara. Menjalani isoman pun ditempatkan di hotel berbintang. Tapi yang non politisi macam Dinar Candy, terpaksa demo tolak PPKM yang diperpanjang melulu lewat aksi berbikini di jalan raya. Yang nonton bukan rakyat biasa, para dewa pun menikmati pemandangan syurrr itu. Mereka pakai teropong yang biasa dipakai untuk kegiatan rukyatul hilal menjelang Ramadan.

“Nonton sumur (susu dijemur) tak perlu ke Pantai Kuta, Dinar Candy pun telah menjawab selera kita,” kata Betara Tembara dari kahyangan.

“Payah lu, dewa kok otaknya ngeres melulu.” Kecam dewa lainnya yang enggan disebut namanya.

Kerusuhan di negeri Purwacandra semakin parah, sampai-sampai bansos berupa beras 10 Kg pun dicolong dari gudang, sehingga polisi bergerak. Ternyata maling itu justru menyelinap masuk ke padepokan Soka Rumembe di Megamendung tempat di mana Begawan Animandawiya bertapa mbisu. Pencuri itu rupanya tahu, jika masuk kawasan para resi dan begawan, polisi akan mikir-mikir untuk masuk.

Tapi si pencuri lupa bahwa dalam masa pandemi Corona ini kewenangan polisi diperluas, sehingga dibolehkan sweping di komplek para begawan. Maka dengan langkah berwibawa mereka masuk ke dalam pertapan, dan bertanya pada Begawan Animandawiya.

“Maaf Begawan, apakah melihat pencuri beras Bansos masuk ke sini?” tanya polisi Tumenggung Surapradoto.

Tapi yang ditanya diam saja, karena memang sedang bertapa mbisu. Karenanya meski pertanyaan diulang-ulang, tetap tak memperoleh jawaban. Lagi-lagi kewenangan polisi tengah diperluas. Maka mereka langsung main geledah saja segenap isi padepokan. Tul kan? Pencurinya ngumpet dalam gudang berikut beras Bansos yang diembatnya. Beras disita dan si pencuri dihukum potong tangan kiri, karena kebetulan dia kidal. Gara-gara hukuman ini, dia pun setiap habis BAB jadi serba kerepotan.

Paling celaka, Begawan Animandawiya yang tak tahu apa-apa dalam persoalan ini  dianggap membekingi pencuri. Dia kena hukuman berupa ditusuk anusnya pakai lembing sisa PON sedalam 30 Cm. Karena kesaktiannnya, dia tidak mati tapi tersiksa habis. Bayangkan, selain kesakitan tentu saja sang begawan tak bisa duduk dan BAB. Sehari-hari kerjanya hanya nungging di ranjangnya.

“Ini hukuman tak berkeprimanusiaan, pelanggaran HAM berat. Masak hak untuk BAB saja dihambat,” kata wayang akar rumput.

“Ini namanya kriminalisasi begawan, harus diadukan ke Jonggring Salaka.” Kata wayang yang lain.

Kaukus para begawan membaca celoteh wayang akar rumput lewat twiter dan grup-grup WA. Mereka segera bergerak, mencoba membebaskan Begawan Animandawiya dari siksaan yang tak terperikan ini. Mereka mencoba mencabut rame-rame itu lembing dari pantat sang begawan, tapi gagal. Sebab jika ditarik paksa, jeroan Begawan Animandawiya bisa jebol ketarik pula.

Akhirnya para resi dan begawan menghadap Prabu  Yudakawista, melaporkan segara penderitaan Begawan Animandawiya. Atas persetujuan sang raja, untuk mengurangi penderitaan Begawan Animandawiya, lembing itu terpaksa dipotong dengan gergaji mesin rata pantat. Namun demikian penderitaan belum juga selesai, karena tetap saja tak bisa BAB. Ujung-ujungnya dibuatkan lobang darurat, macam penderita ambeien parah.

“Sinuwun Prabu, kenapa tega memberikan hukuman pada Begawan Animandawiya sekejam itu?” tanya para resi di istana Purwacandra.

“Oo, itu yang menentukan Betara Darma langsung dari kahyangan sana, kita-kita di sini tinggal memfasilitasi,” jawab Prabu Yudakawista seakan cuci tangan. (Ki Guna Watoncarita)