BETARA DARMA TUNDUNG (2)

Didebat begawan Wecvanyata dan Resi Padmanaba, Betara Darma terdiam.

LHO, gimana to ini? Yang menentukan sang raja kok dilempar ke dewa di kahyangan? Memangnya Betara Darma ini Wagub DKI Jakarta, harus mbemperi setiap kebijakan atasan yang dikritisi publik? Padahal setahu para resi ini, Prabu Yudakawista tak pernah los stang (lepas tangan) ketika naik sepeda. Ini sama saja raja Purwacandra ini mencoba lempar batu sembunyi tangan.

“Maaf, Sinuwun ini aneh. Dalam negara sistem kerajaan perwayangan, vonis yang menentukan adalah raja, kenapa kok sekarang berkelit?” protes para resi.

“Lho, nggak bisa begitu. Aturan hukumnya yang bikin Betara Darma, kami-kami raja di bumi hanya pelaksana saja.” Jawab Prabu Yudakawista persis Satpol PP.

Andaikan membunuh raja itu tak ada pasal hukumannya, rasanya kaukus resi ini mau mengeksekusi Prabu Yudakawista. Tapi pada akhirnya ya sudahlah, debat hukum ini takkan selesai jika dilawan dengan debat kusir. Yang penting kini bagaimana bisa segera melepaskan penderitaan Begawan Animandawiya dari ambeien bikinan tersebut.

Mereka kemudian baca mantra papa sanghara bersama-sama, dan atas restu Sahnyang Wenang di kahyangan, wes hewes hewessss……bablas lembinge. Pucuk lembing yang ngumpet di anus itu berhasil keluar lewat ubun-ubun Begawan Animandawiya dengan mudah. Untung saja ubun-ubun sang begawa ini masih kembut-kembut bagaikan ubun-ubun bayi.

“Kita harus ke Jonggring Salaka, protes kepada dewa Betara Darma,” kata pemimpin para resi –begawan tersebut.

“Kita perlu bawa baliho ke kahyangan, agar protes kita diperhatikan,” usul resi yang lain.

“Mana sempat! Para tukang baliho kini sibuk menggarap ribuan baliho untuk Puan Maharani yang baru mengepak sayap kebhinekaan.” Jawab pimpinan resi lagi.

“Memangnya barang mau diekspor, harus dipak segala?” timpal resi lain yang gayanya mirip Fadli Zon.

Mereka siap berangkat rame-rame ke Jonggring Salaka. Tiba-tiba ada informasi bahwa setiap titah ngercapada mau ke kahyangan harus test PCR dulu. Bila ada bukti hasilnya negatip, baru bisa masuk. Padahal biaya test tersebut jika mau cepat harus bayar minimal Rp 1 juta. Jika mau 3 jam selesai bayar Rp 2 juta. Akhirnya demi penghematan, yang berangkat ke Jonggring Salaka hanya 2 orang, yakni Resi Padmanaba dan Begawan Wecanyata.

Kenapa kalangan wayang suci kelas begawan dan resi ini harus menjalani test PCR, sebab kebanyakan mereka tak percaya keberadaan Corona. Padahal menurut survei LSI Deni ZA, 60 persen kaum berjubah ini punya komorbid paru-paru basah lantaran terlalu banyak mesu raga (tirakat) setiap malam. Sudah dibilangi Rhoma Irama jangan begadang jika tak ada perlunya, masih pada nekad. Data terakhir menyebutkan, ratusan resi dan begawan meninggal karena saat dibawa ke RS saturasiny di bawah 60.

“Selamat malam, Hyang Betara Darma.” Kata duo resi-begawan tersebut setibaanya di Jonggring Salaka dan lolos pemeriksaan PCR.

“Selamat malam juga. Apa yang bisa kami bantu?” Jawab Betara Darma ramah sekali, rupanya dulu dia pernah kerja jadi Satpam BCA.

Begawan Wecanyata dan Resi Padmanaba itu kemudian menanyakan tentang penderitaan Begawan Animandawiya selama berminggu-minggu gara-gara hukuman tusuk lembing pada anusnya. Kata Prabu Yudakawista dari negeri Purwacandra, sumber hukumnya KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) karya Betara Darma. Benarkah demikian?

Ternyata Betara Darma membenarkan, bahkan mengaku dia itu Ketua MK-nya Jonggring Salaka. Dulu ketika ILC-nya TV One masih ada, dia sering diundang jadi nara sumber, sehingga sering debat dengan Fadli Zon dan Rocky Gerung segala. Oleh karenanya, ketika merasa ada  konstitusi di kahyangan yang tidak pas, silakan saja mau uji materi. Semua gratis, karena dia bukan kelasnya hakim Matrialis Akbar maupun Akil Mursal.

“Kalau begitu boleh dong kami menanyakan, apa sumber hukumnya sehingga Begawan Animandawiya dihukum tusuk lembing pada anusnya?” kata duet begawan dan resi tersebut.

“Oo, itu akibat dari hukum karma, yang dilakukan Animandawiya ketika bocah dulu. Dia itu iseng banget. Bukan hanya mbandili jambu dan mangganya Pak Raden, tapi juga suka menyiksa hewan. Capung atau kinjeng kebo yang tak punya salah apa-apa ditangkap dan ditusuk pakai lidi tepat pada anusnya. Jadi Animandawiya itu ngundhuh wohing pakarti.….”, jawab Betara Darma.

“Apa nggak salah tuh? Perbuatan bocah usia 10 tahunan tak bisa dimintai tanggungjawab hukum. Dia belum bisa bedakan mana yang salah dan mana yang benar. Dia belum akil balig, dia masih suci belum seperti Akil Mochtar.” Tangkis Resi Padmanaba dan Begawan Wecanyata kompak.

Didebat seperti itu ternyata Betara Darma terdiam, rupanya tak ada sumber rujukan untuk menangkisnya. Jangan-jangan saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mungkur Wonogiri dulu dia pas tidak masuk ketika mata kuliah Hukum Karma dibahas dosen.

Ditunggu lama tak ada jawaban, Begawan Wecanyata dan Resi Padmanaba segera menggunakan kesaktiannya. Betara Darma terkena sot (kutuk)-nya dan terusir dari Jonggring Salaka, diturunkan ke ngercaada hari itu juga. Nantinya dia akan menitis pada manusia biasa sebagai anak Begawan Abiyasa, terlahir dengan nama Yamawidura. Karena dia berlaku pincang dalam hal hukum, kaki Yamawidura kelak juga akan pincang dan basa dipanggil Widura Deglog. (Ki Guna Watoncarita – tamat)