Bangga Merah Putih

Kemerdekaan RI bukan hadiah dari Belanda, tapi kita rebutr dengan mengorbankan tenaga,, harta, darah dan nyawa anak-anakl bangsa.

HARI ini bangsa  Indonesia memperingati kemerdekaaannya yang ke-76. Bendera Merah Putih berkibar di seluruh wilayah nusantara. Karena pandemi Corona sejak tahun 2020 kita memperingatinya secara sederhana, dari Istana hingga perkampungan. Tetapi itu tak mengurangi kekhidmatannya. Berbanggalah bangsa Indonesia dengan Merah Putih kita sebagai lambang negara. Berkat perjuangan para pendiri republik, kita berhasil merebut kemerdekaan itu dari penjajah Belanda yang selama 3,5 abad menjajah Indonesia.

Ketika kita masih berada di Indonesia, melihat kibaran sag Merah Putih rasanya biasa saja. Tapi coba ketika Anda berada di luar negeri nun jauh dari bumi pertiwi, akan terasa sekali. Kibaran Sang Saka yang ditiup angin sepoi-sepoi, seakan membawa pesan bahwa keberadaan Indonesia telah diakui seluruh dunia. Mata kita bisa berkaca-kaca. Terima kasih Bapak Proklamasi Sukarno- Hatta, terima kasih para pejuang dan pendiri Republik. Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju Indonesia yang adil makmur, kata Bung Karno. Dan kita sebagai generasi penerus wajib menjaga NKRI hingga akhir zaman.

Sayangnya, sejak era reformasi ada angin Timur Tengah yang menginginkan Indonesia menjadi negara khilafah, menafikan Pancasila, melarang menghormati Merah Putih. Bahkan ketika Gus Dur menjadi presiden, ada pihak yang menjamin keamanan posisinya asalkan Indonesia dijadikan negara Islam. Kontan Gus Dur menjawab tegas, “Lebih baik aku dilengserkan ketimbang mengkhianati para pendiri Republik.”

Kalau mau, Bung Karno sejak awal diminta menjadikan Indonesia yang baru saja merdeka itu dijadikan negara Islam. Tapi hal itu ditolak dengan tegas, sebab Indonesia merdeka bukan hanya diperjuangkan rakyat yang beragama Islam saja, tapi juga Nasrani, Hindu, Konghuchu dan Budha. Pendek kata, semua pemeluk agama di negeri ini punya andil untuk berdirinya NKRI.

NKRI sudah tak perlu diperdebatkan lagi. Tetapi ketika kebebasan berpendapat rakyat dibuka seluas-luasanya pada era reformasi pasca jatuhnya Orde Baru, orang pun dianggap bebas saja mengutak-atik bentuk negara kita. Mereka punya keyakinan, hanya dengan khilafah Indonesia yang baldatun toyibatun warobbun ghofur terwujud. Benarkah itu? Lihat saja di Timur Tengah, negara-negara berhaluan Islam banyak yang kacau balau. Bahkan beberapa hari belakangan ini Afganistan pun dikuasai Taliban yang satu paketan dengan ISIS cuma beda kuota!

Hasil survei yang dilakukan Alvara Research Center dan MataAir Foundation pada Oktober 2017 menyebutkan, sebanyak 23,4 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar di Indonesia menyatakan siap berjihad demi tegaknya negara Islam atau khilafah. Yang mereka jadikan obyek survei adalah 1.800 responden mahasiswa dari 25 perguruan tinggi ternama di Indonesia dan 2.400 pelajar SMA unggulan atau favorit di dalam dan di luar Pulau Jawa.

Ini sangat mengerikan! Generasi muda adalah pewaris bangsa. Tapi jika pemuja khilafah itu terus berkembang, dan negara di kemudian hari sampai di tangan mereka, Indonesia bubar sebagaimana Yugoslavia bisa saja terjadi. Bendera Merah Putih tiada lagi, berganti menjadi hitam.

Bibit-bibit semacam ini sudah semakin terasa di lingkungan kita. Menyanyikan lagu Indonesia Raya ada yang menganggap sebagai beban, ustadz mengajarkan bahwa saat mati di alam kubur yang ditanyakan malaikat  soal salat kita bukan hafal atau tidak Pancasila. Sampai-sampai Mendikbud Nadiem Makarim bikin aturan kampus-kampus tiap Rabu dan Jumat wajib bikin upacara bendera, nyanyikan Indonesia Raya dan baca teks Pancasila.

Memperingati HUT RI ke-76 ini pemerintah juga mengganti warna cat pesawat kepresidenan RI-1 dari kombinasi biru muda-putih, diganti jadi merah putih. Ini disesuaikan dengan warna merah putih lambang negara. Ewa segitu ada partai yang kebakaran jenggot. Katanya, tahu enggak? Bodi pesawat sengaja dicet biru dengan alasan untuk kamuflase dengan birunya langit, ini demi keamanan perjalanan presiden. Sederhana sekali ya alasannya. Padahal jika memang ada musuh yang berniat jahat, deteksinya pakai radar, bukan warna pesawat.

Jika kelas partai saja masih mempertanyakan warna Merah Putih untuk pesawat kepresidenan, apa lagi masyarakat akar rumput. Banyak rakyat tidak tahu bagaimana memasang bendera Sang Saka yang benar. Ini nampak sekali ketika rakyat diminta mengibarkan bendera Merah Putih selama bulan Agustus. Ada yang asal-asalan, banyak pula yang memasangnya dengan megah.

Di kapling DKI Cipayung Jakarta Timur beberapa tahun lalu, seorang Ketua RW ada yang sampai memberikan Bansos berupa tiang bendera di RT-RT. Sebab di wilayahnya, ada warga pasang Merah Putih seenak perutnya. Dengan alasan tak punya tiang, bendera itu hanya diikatkan pada tiang kerekan burung, bahkan ada yang nebeng pada tiang garasi. Paling kurang ajar, ada warga yang pasang Merah Putih hanya disangkutkan pada ranting pohon yang dijadikan pagar rumah.

Hormatilah Merah Putih kita, banggalah dengan bendera lambang negara. Indonesia merdeka bukan hadiah dari Belanda, tapi harus direbut dengan mengorbankan harta, darah dan nyawa. Masak kita yang sekarang ini tinggal menikmati saja buah kemerdekaan, beli tiang bendera Rp 50.000,- saja tidak mampu? (Cantrik Metaram).