Semarang Kuthane Kleleb….

Kampung Bedono di Demak, sebelum lenyap ditelan laut Jawa.

BAGI masyarakat Jawa, jangka atau ramalan Jaya Baya sangat terkenal, karena raja Kediri di abad ke-11 (1135-1159) itu banyak punya ramalan yang terbukti di masa kini. Tapi di era milenial sekarang ini, “jangka” Joe Biden rajanya Amerika Serikat justru bikin heboh. Dia memprediksi –berdasarkan para ahli geodesi– bahwa kota Jakarta akan tenggelam 10 tahun ke depan (2030). Tapi para ahli geodesi ITB dan Undip membantahnya, justru yang akan tenggelam duluan kota Semarang ibukota Provinsi Jawa Tengah. Bila benar, lagunya Waljinah: Semarang kaline banjir, perlu diubah menjadi Semarang kuthane kleleb (kotanya tenggelam)……

Isyu tenggelamnya kota Semarang mengemuka, awalnya dari pertanyaan Presiden AS di depan para petinggi intelejen di negri Paman Sam. Entah apa hubungannya dengan dunia intelejen, tiba-tiba Joe Biden bertanya, “Indonesia jadi pindah ibukota nggak? Soalnya diramalkan kota Jakarta akan tenggelam 10 tahun lagi.” Rupanya Presiden AS itu tahu bahwa Covid-19 juga ikut memporak-porandakan ekonomi Indonesia, seperti juga di negara-negara lainnya.

Dr. Heri Andreas Kepala Laboratorium Geodesi ITB, hanya bisa senyum kecut bak belimbing wuluh, karena soal Jakarta akan tenggelam itu sudah pernah diingatkan lewat penelitiannya di tahun 1997 saat dia masih jadi mahasiswa ITB. Karena permukaan tanah di Ibukota terus menurun setiap tahun, daerah pantai sebagaimana Cilincing, Tanjung Priuk, Pluit, Kapuk Muara; akan tenggelam. Bila air laut merangsek terus, bisa jadi kota Jakarta tinggal nampak tugu Monasnya, tegak lurus nyenil sendirian!

Timnya Heri Andreas pernah menemui Gubernur Sutiyoso dan Fauzi Bowo kala itu. Untuk mengatasinya perlu dibangun tanggul di teluk Jakarta sebagaimana Negeri Belanda. Tetapi karena penelitian itu baru level mahasiswa yang belum ada titel berderet di depan dan belakang namanya, hanya dilihat dengan sebelah mata oleh para penguasa kota Jakarta. Tanpa merasa putus asa Heri Andreas kemudian memuat hasil penelitiannya itu ke jurnal internasional dan kemudian para ahli di Nederland sana.

Para ahli Belanda itu sangat tertarik akan teorinya Heri Andreas. Mereka datang ke Bandung dan kemudian mengajak ketemu Gubernur Fauzi Bowo. Ternyata, gara-gara ada bulenya di situ, Bang Foke baru serius menanggapi. Ini terjadi ketika Jakarta terjadi banjir besar di tahun 2008, saat baru saja Fauzi Bowo memimpin Jakarta.

Sayangnya proyek tanggul raksasa yang disebut Giant Sea Wall (GSW) itu ditentang Kementrian Lingkungan Hidup dan LSM. Bahkan Gubernur Jokowi penerusnya yang akan menggarap proyek itu di tahun 2014 dengan anggaran Rp 150 triliun, juga surut. Sampai Gubernur Ahok dan Anies Baswedan sekarang, juga tak bisa melanjutkan. Ada yang beralasan, dengan GSW menjadikan teluk Jakarta seperti kobokan orang cuci tangan sehabis makan, lautnya jadi berminyak bahkan ada merah-merahnya sisa lombok!

Akan halnya “jangka” Joe Biden, kata para ahli geodesi ITB Bandung dan Undip Semarang, isyu Jakarta tenggelam sudah melandai. Yang perlu diwaspadai justru kota Semarang, Brebes, Pekalongan dan Demak. Banyak terjadi abrasi pantai Laut Jawa di Jateng. Semarang akan tenggelam lebih dulu ketimbang Jakarta. Bila prediksi itu benar, maka sekian puluh tahun ke depan, orang Semarang bisa main polo air di Simpang Lima, sementara kampung Wonodri berubah jadi jaladri (laut).

Bagi Walikota Semarang Hendrar Prihadi atau Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, prediksi Semarang akan tenggelam merupakan isyu lama. Kini jadi rame lagi karena dipicu oleh ucapan Joe Biden Presiden AS. Bahkan kata Gubernur, sejumlah daerah di pantai utara Jarteng itu sudah benar-benar tenggelam, bukan baru akan.

Misalnya saja Desa Bedono wilayah Demak, sekarang telah musnah daratannya, menjelma jadi laut.  Kampung Sayung di Semarang juga sudah hilang dari peta. Bahkan di  Brebes, Dukuh Pandansari, Desa Kaliwilingi, sudah lama disulap menjadi hutan  bakau. Semula  dukuh tersebut menjadi lokasi petani tambak. Tapi karena abrasi pantai semaki menggila, tambak-tambak lenyap ditelan laut Jawa. Telah dicoba dicegah lewat penamaman bakau, tapi tak mengubah keadaan. Akhirnya mulai tahun 2011 wilayah itu disulap menjadi wisata hutan bakau.

Untuk mencegah penduduk Semarang terus mengeksploitir air tanah sebagai kebutuhan sehari-hari, Pemda mencari altenatip penggunanan air laut hasil sulingan. Untuk itu Gubernur Ganjar Pranowo pernah ke Tiongkok dan Maldives untuk berguru penyulingan air laut. Ternyata mahal sekali, sehinga belum bisa dilaksanakan.

Sesuai dengam saran para ahli perlunya GSW, Gubernur juga ke Nederland. Tapi kata para ahli di sana, biayanya mahal sekali. Sebab bendungan raksasa itu pada periode tertentu harus ditinggikan lagi. Pernah dimusyawarahkan dengan DPRD, tapi ditolak karena dianggap tidak ekonomis jika anggaran sampai Rp 6,3 triliun itu hanya bermanfaat selama 25 tahunan, habis itu bendungan harus ditinggikan lagi.

Walhasil GSW di Semarang juga sebatas hanya mimpi. Penanggulangan abrasi dilakukan secara tradisional, di antaranya dengan penanaman pohon bakau. Juga memanfaatkan proyek tol Semarang – Demak sepanjang 27 Km. Artinya, jalan itu dibuat di tanggul pinggir laut, sekaligus menjadi sabuk pengaman dari gempuran abrasi pantai.  Semoga saja ramalan para ahli geodesi tak sampai kejadian, sehingga ungkapan Semarang kuthane kleleb tak perlu terjadi. (Cantrik Metaram)