Kolaborasi Asa Anak Indonesia: Kemenag RI, KemenPPPA, API, Kampoong Hening dan Forum Zakat

JAKARTA – Forum Zakat bersama Kemenag RI, KemenPPPA, API dan Kampoong Hening sepakat untuk membuat gerakan bersama dalam melakukan pelayanan untuk anak-anak yang menjadi Yatim Piatu akibat dari pandemi Covid-19. Gerakan kolaborasi bertajuk Asa Anak Indonesia ini dilaunching pada Jumat, (20/8/2021) secara daring.

Asisten Deputi Perlindungan Anak Kondisi Khusus, Dra. Elvi Hendrani mengatakan telah melakukan assessment terkait jumlah anak yatim terdampak. Program ini, menurutnya menjadi krusial dan akan mendukung penuh dalam hal baik penggalangan dana maupun penyaluran.

“Pandemi telah ditetapkan pemerintah menjadi salah satu bentuk bencana non alam dan terkait hal ini maka undang-undang Perlindungan Anak dan perempuan mengatakan bahwa anak-anak yang masuk ke dalam korban bencana alam mereka korban bencana baik alam maupun non Alam maka mereka kita penuhi oleh negara, negara harus hadir untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya, kebutuhan spesifiknya termasuk perlindungan dan pelayanan yang diperlukan mulai dari layanan administratif sampai layanan fisik dan nonfisiknya,” jelasnya.

Kemenpppa juga, lanjutnya, ingin terus melakukan pencegahan melalui gerakan berjalan yang memastikan perempuan dan anak terlindungi dan aman dari bahaya Covid-19 dan terpenuhi haknya di keluarga, rumah dan lingkungannya.

Sementara, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementrian Agama RI, Drs. H. Tarmizi Tohor, MA juga menegaskan perlunya kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk pihak Psikolog. “Karena memang anak-anak fakir miskin ini di samping mereka butuh kehidupan secara material, juga mereka butuh bimbingan psikologi. Jadi ini bisa kita kembangkan ke depan nanti, sehingga betul-betul mereka terbimbing sebagaimana anak yang masih ada orang tua,” ujarnya.

Senada, Ketua Umum Forum Zakat mengatakan bahagia sekali dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mengadvokasi anak-anak yang menjadi Yatim karena Covid-19. “Tentu saja ini menjadi catatan penting yang harus kita sikapi bersama-sama, terutama lembaga zakat dan gerakan zakat di Indonesia. Karena sebagian di antara anak-anak yang hari ini menyandang status yatim atau piatu ini adalah anak-anak dari keluarga yang tidak mampu,” tambahnya.

Forum Zakat membuat departemen khusus yang secara langsung mengelola isu tentang anak-anak yatim di Indonesia terutama yang terdampak atau akibat dari pandemi. Dan hari ini sudah ada 35 lembaga yang ikut bergabung dari Sabang sampai Merauke. Kemudian sudah mendata ada 37.364 anak yatim yang sudah terbantu melalui akses lembaga-lembaga yang sudah tergabung yang tersebar di 24 provinsi di Indonesia.

“Ada dua kekhawatiran yang harus disikapi terkait besarnya angka anak yatim di Indonesia akibat Pandemi. Pertama, adalah terjadi potensi generasi stunting akibat kekurangan gizi dan ini sangat relevan dengan dinamika kesehatan yang dicanangkan oleh Pemerintah. Kedua, generasi dengan kesehatan jiwa yang bermasalah. Bagaimanapun tumbuh kembang anak itu membutuhkan pasangan ayah dan ibu sebagai model dalam membangun karakter dan sikap kepribadian mereka. Kehilangan salah satu diantara keduanya atau kedua-duanya akan menyebabkan faktor kejiwaan anak akan terganggu secara permanen, apabila tidak disikapi sejak awal,” bebernya.

“Saya rasa itu hal-hal penting yang hari ini ingin kita bangun. Forum Zakat mengajak baik dari unsur Pemerintah maupun masyarakat dan para praktisi untuk ikut terlibat bersama-sama melalui gerakan Asa Anak Indonesia hari ini,” tandasnya.