SBG GANDRUNG (1)

Begitulah rumahtangga SBG-Dewi Uma, saling kutuk, sehingga Dewi Uma pun menjelma jadi Betari Durga.

SEBAGAI dewa dia tak pernah sekolah di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) atau SGA (Sekolah Guru Atas), tapi disebutnya dia sebagai Betara Guru atau lengkapnya Sanghyang Betara Guru (SBG). Mungkin karena kurang tokoh penting, dia secara bulat ditetapkan menjadi raja kahyangan Jonggring Salaka atau biasa disebut Argadumilah. Mujur benar dia, tanpa harus pasang ribuan baliho di kahyangan langsung saja SBG ditasbihkan sebagai penguasa tertinggi. Padahal Guru-Guru lain, mengajar puluhan tahun statusnya hanya K-2 alias susah diangkat.

Bersama istrinya Betari Uma, mereka tinggal di Istana Bale Marcakunda dengan fasilitas kendaraan dinas berupa lembu Nandini. Lembu ini juga tak kalah hebat, dia bisa terbang di langit  yang biru. SBG pernah dilobi pengusaha pabrik cat, agar lembu kahyangan itu bisa dipakai untuk merk dagangnya, tapi tak pernah cocok harga. Sebab SBG minta royalty 50 persen dari harga setiap kaleng cat yang diproduksi.

“Mahal amat pukulun, saya nggak dapat untung dong! Bagaimana kalau 25 persen saja?” tawar pengusaha dari ngercapada Liem Ban Piet.

“Kalau mau murah cari saja kambing terbang atau kuda terbang.” Jawab SBG ketus.

Terpaksa koh Liem Ban Piet cari kuda terbang sebagai alternatip. Menurut data di Google, kuda terbang itu sesungguhnya bidadari Wilutama yang menjadi korban kutukan SBG. Ke sanalah koh Liem mencari solusi. Ternyata dia kuda yang tak banyak rewel, diberi royalty 10 persen saja mau, dengan alasan untuk menolong wong cilik. Maka ukuran cetnya pun kecil-kecil. Tapi beruntunglah koh Liem Ban Piet, setelah merk-nya terkenal produknya diborong Pemprov DKI untuk ngecet atap rumah warga seputar Tapal Kuda Lenteng Agung.

Akan halnya SBG yang gagal dapat obyekan wayang ngercapada sama sekali tak menyesal, sebab kebutuhan sehari-hari sudah difasilitasi kahyangan. Dia tak pernah kekurangan fulus. Jenuh WFH (Work From Home) di Bale Marcakunda, setiap hari Minggu pagi SBG bersama Dewi Uma sang istri jalan-jalan dengan lembu terbangnya keliling ngercapada, sampai kemudian tiba pula di atas langit Jakarta.

“Bener tuh Ma, Pemprov DKI ngecat atap rumah warga pakai cat Kuda Terbang. Habis berapa juta kaleng tuh nantinya,” kata SBG sambil meneropong daratan Ibukota.

“Pukulun terlalu tinggi pasang harga sih, gagal kan kita dapat obyekan?” ujar Dewi Uma nadanya protes. Biasa, perempuan soal duit pasti sensitip sekali.

Sebagai penguasa kahyangan era milenial, karena tuntutan kerja SBG juga mulai aktif di medsos meski masih blajaran. Maka kadang salah kirim WA atau salah klick. Dan  pada perjalanan siang itu, tanpa sengaja beliaunya mengklick video porno macam Fadli Zon DPR. Begitu melihat adegan serem dan merangang, bangkitlah syahwatnya dan mengajak Dewi Uma untuk melayani berahinya. Maklum, SBG ini terkenal sebagai wayang mudah gandrung pada perempuan cantik.

“Ngapain pukulun kok colak-colek kayak kondektur bis?” tegur Dewi Uma.

“Aku sayang mama…..,” kata SBG merajuk sekaligus merayu.

Gombil, batin Dewi Uma. Anak sudah lima kok baru sekarang suka merayu, apa nggak telat tuh? Biasanya suka merayu-rayu itu ketika belum punya anak, atau saat masih pacaran. Jika anak sudah ombyokan, baru disenggol langsung mapan (siap-siap).

Memang, dari perkawinan SBG melawan Dewi Uma telah lahir 5 putra masing-masing: 1. Betara Sambo, 2. Betara Brama, 3. Betara Indra, 4. Betara Bayu, dan 5. Betara Wisnu. Semua telah jadi pejabat penting di Jonggring Salaka, ada yang jadi komisaris BUMN pula. Cuma Betara Indra yang berjiwa seni, lebih sering ke ngercapada dan nitis pada Indro Warkop dan jadilah pelawak senior.

Demikianlah, meski Dewi Uma sudah dikupas habis bak singkong siap rebus, tetap ogah melayani hasrat suami. Soalnya Ibu Kahyangan ini malu jika ulahnya dilihat oleh dewa-dewa lain. Kenapa harus begituan di tempat terbuka, memangnya cek in di hotel tidak mampu? Jika sampai direkam dewa-dewa iseng, dan diviralkan di medsos, mau ditaruh mana muka petinggi Jonggring Salaka ini.

“Ogah, ogah! Entar malam Jumat saja, raja kahyangan kok maksa banget, macam ulah wraha (celeng) saja, asal nyreguduk (seruduk).” Omel Dewi Uma kesal sambil menghindar.

Kala itu SBG sudah konak, nafsunya sampai ubun-ubun, sehingga karena Dewi Uma berkelit, terjadilah korut kamanira (ejakulasi dini). Benih kehidupan itu jatuh ke Laut Jawa yang nyaris menenggelamkan kota Semarang. Kejaiban pun terjadi, demi kama (sperma) SBG menyentuh air samodra, tiba-tiba plekuthuk plekuthuk….., menjelma sebagai bayi bernama Betara Kala (L-nya satu saja).

Ternyata Dewi Uma memang bukan bidadari kaleng-kaleng, ucapannya sangat mandi (bertuah). Terbukti dibilang seperti celeng, langsung di kanan kiri ujung bibirnya tumbuh gigi panjang macam gingsul. Gigi gingsul jika hanya satu memang bikin tambah manis, lha kalau borongan sampai dua buah, apa nggak nggilani? Maka SBG pun marah sekali pada istrinya.

Langsung saja Dewi Uma dihajarnya, sampai menjerit-jerit macam raseksi (raksana perempuan), dan seketika itu juga Dewi Uma terkutuk menjadi raseksi. Hilang segala kecantikannya, gigi di mulutnya sebanyak 32 mendadak jadi mrenges, dan namanya pun berganti  jadi Betari Durga.

“Kenapa pukulun tega mengutuk bini sendiri seperti ini?” Betari Durga protes karena telah jadi korban KDRT.

“Satu-satu dong! Kamu juga tega mengutuk suami sampai bertaring macam celeng. Jika dituduh babi ngepet, bagaimana ini?” jawab SBG mau menang sendiri.

Lembu Nandini sebagai kendaraan istana Jonggring Salaka, sungguh tak nyaman karena di atas punggungnya SBG dan Dewi Uma gedubragan nggak keruan. Dia membatin, wong ki padha ngapa ta ya (sedang ngapain tuh orang) kok ribut sendiri macam anggota DPRD mau nginterpelasi gubernur. Sebagian punya idealisme, sebagian pula memilih real-isme.

Jangan dikira, meski sekedar lembu, tapi kendaraan SBG ini bukan lembu sembarangan. Kalau mau dia bisa juga tata jalma (ngomong), bisa lebih cerewet dari Rocky Gerung. Wayang sekotak dianggap dungu semua! Sebelum jadi kendaraan istana, Nandini termasuk lembu yang bercita-cita tinggi. Bila Novel Mabukmin pengin jadi Wapres, dia pengin pula jadi dewa kahyangan yang banyak fasilitas dan terbebas dari kematian.

“Kapan saya bisa jadi dewa, ya? Menunya sehari-hari bukan rumput gajah,  tiap bulan haji juga tak terancam buat kurban,” gumam lembu Nandini. (Ki Guna Watoncarita)