Waspada! Euforia Kemenangan Taliban

Ilustrasi, Mullah Abdul Ghani Baradar, pemimpin tertinggi kelompok Taliban (kiri kedua) tiba dengan anggota delegasi Taliban lainnya untuk mengadakan pembicaraan di Moskow, Rusia/ AP

KEMENANGAN cepat kelompok Taliban di Afghanistan perlu diwaspadai menjadi euforia yang bakal menginspirasi atau memicu semangat kelompok-kelompok tertentu di dalam negeri menjadi lebih “PD” dan berani membuka kedoknya.

“Jangan sampai ada yang menyesatkan, menyebut kemenangan Taliban sebagai kemenangan Islam,” kata  Ketua PB Nahdlatul Ulama Marsudi Syuhud dalam dialog di Kompas TV, Selasa (24/8) mengingatkan.

Hal itu, menurut dia, terjadi seperti saat NIIS bangkit dan menguasai kota Mosul di Irak dan Racca di Suriah pada 2014 dimana ratusan WNI, ada yang bersama keluarga bergabung dan dibaiat (disumpah) menjadi anggotanya di sana.

Syuhud mengingatkan, jika Taliban masih mencari-cari bentuk pemerintahan, visi-misi,  konsep-konsep ketatanegaran dan lainnya,  bangsa Indonesia dengan keberagamannya , sudah bersatu dengan Bhineka Tunggal Ika dan falsafah atau pilar ideologis, Pancasila.

“Jangan cepat terpengaruh atau terprovokasi pada sesuatu yang baru padahal kita sudah ‘established’ di jalan sendiri. Sebaliknya, kita malah yang harus mengenalkan (paham atau ideologi-red) pada pihak lain, jalan yang kita tempuh, cara yang kita lakukan, “ ujarnya.

Mengenai pekembangan selanjutnya, menurut Syuhud, belum bisa dipastikan, apa yang bakal terjadi di Afghanistan, selain di kalangan Taliban sendiri, juga banyak fraksi-fraksi yang ingin berebut kekuasaan, termasuk kelompok Mujahiddin yang cukup banyak pengikutnya.

Presiden terdongkel, Ashraf Ghani yang kabur ke Uni Arab Emirat tidak mustahil juga akan berupaya menggalang kekuatan, sementara Wapres Amrullah Saleh yang dari tempat yang dirahasiakan di Afganistan terang-terangan dan bersumpah akan melawan Taliban dalam situasi apa pun.

Sedangkan tentara Afghan (ANA) yang tercerai berai saat ini, bisa jadi mereka sedang melakukan konsolidasi, termasuk Brigade Pasukan Komando elite tempaan SAS Inggeris yang saat ini bersiap di markasnya di Lembah Pantsir, hanya 128 Km dari Kabul.

Sementara Kepala BNPT Boy Rafli Amar menyebutkan, pihaknya terus memantau dan mengantisipasi pergerakan kelompok tertentu yang berpotensi menjadikan momentum kemenangan Taliban untuk menganggu kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah air.

Menurut catatan, walau tampak seperti sel tidur, dalam satu dekade ini, Jamaah Islamiyah (JI) yang anggotanya diperkirakan 1.600 orang terindikasi sedang terus memupuk kekuatan dan membangun basis massa terutama di P. Jawa.

Semakin banyaknya anggota JI yang dicokok Tim Densus 88 Anti Teror dalam tiga tahun terakhir ini merupakan cerminan meningkatnya aktivitas mereka. Pada 2019 tertacat 28 tersangka anggota JI yang tertangkap, lalu 64 tersangka pada 2020  dan 123 tersangka pada Januari sampai Agustus 2021.

Dimanfaatkan Kelompok Esktrim

Euforia kemenangan Taliban selain dikhawatirkan dimanfaatkan oleh kelompok ekstrim di dalam negeri untuk bangkit, bisa jadi juga oleh barisan sakit hati atau politisi tertentu guna menggoyang pemerintahan Jokowi.

Misalnya mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) yang menyatakan, ia meyakini rezim Taliban bakal  berubah dan lebih moderat, toleran dan akan memberi peluang bagi pihak lain untuk berpartisipasi dalam pemerintahan jika berkuasa nanti, memicu banyak keraguan dan pertanyaan.

JK juga mengeluarkan pernyataan kontroversial menjelang kepulangan Habib Riziq Shihab (RHS) 10 Nov. 2020 dengan menyebutkan, di tengah kekosongan kepemimpinan di Indonesia, dukungan terhadap tokoh kharismatik seperti HRS sebagai pemimpin alternatif bisa saja diberikan.

OKI saja dengan 57 negara anggota termasuk RI dalam sidang Komite Eksekutifnya di Riyadh,Minggul (22/8) menyerukan pada pemimpin Afghanistan baru nanti dan juga masyaraat int’l untuk memastikan agar Afghanistan tidak dijadikan pangkalan atau suaka bagi para teroris dan membiarkan organisasi-organisasi teroris mendapatkan pijakan di sana.

Pernyataan itu tentu bisa dibaca sebagai kecemasan atas kemenangan Taliban di Afghanistan mengacu pada kegelapan dan aksi-aksi kekerasan serta pembatasan bagi warganya terutama diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan saat mereka berkuasa pada 1996 – 2001.

“Bagaimana mungkin, rezim yang berlumuran darah dan kekerasan saat berkuasa (1996 – 2001) bisa begitu saja bisa berubah drastis ?, “ tanya banyak pihak menangggapi pernyataan JK.

Memang dalam pernyatannya, pimpinan Taliban berjanji akan melakukan amnesti umum,  rekonsiliasi dan bersedia bekerja sama dengan semua  pihak, namun hal itu tentu masih perlu pembuktian, bisa jadi sekedar retorika atau strategi untuk menarik simpati demi menghindari tekanan int’l.

Lagi pula, tidak mudah pastinya, membuat perubahan di seluruh jajaran  suatu rezim kekuasaan seperti membalikkan telapak tangan. Yang bermunculan, bisa jadi malah lebih banyak ekses-ekses negatifnya.

RI sesuai amanat pembukaan UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia, tentu akan mengakui pemerintah yang didukung rakyat dan masyarakat int,l, namun potensi  dimanfaatkannya kemenangan Taliban oleh kelompok tertentu di tanah air, perlu diantisipasi dan terus diawasi.