Pohon Besar di Pekarangan

Nana Sudiana, Sekjend FOZ dan Direktur IZI. (Dok. Pri)

Dalam keseharian hidup, kadang kita menyaksikan betapa sesuatu yang tumbuh baik dan lalu membesar tak selalu menjadi pelindung bagi yang lebih kecil di sekitarnya. Lihat saja sejumlah pepohonan besar di pekarangan rumah kita. Ternyata bila ada pohon besar di sana, seringkali ia terlihat sendirian dan tak banyak tumbuhan lain bisa sepadan dan setinggi-nya.

Inilah hidup, tak semua tanaman bisa bertumbuh sama. Ada karena faktor genetik, kesuburan tanah, kualiatas biji atau ketersediaan air yang cukup. Semuanya bisa menjadi alasan kenapa ukuran dan kualitas pohon menjadi berbeda. Walau ada dalam naungan langit yang sama, curah hujan dan cuaca yang juga sama, besar kecil tanaman bisa sangat mungkin berbeda.

Merajut Ekosistem Zakat
Saat ini, di Indonesia, organisasi pengelola zakat semakin mendapat perhatian baik. Disamping semakin tingginya kelas menengah muslim, juga semakin naiknya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat. Dalam perkembangan-nya, seiring waktu, jumlah organisasi pengelola zakat semakin pula bertambah. Sejatinya ada ratusan organisasi atau lembaga yang berkiprah dalam pengelolaan zakat, infak dan sedekah. Faktanya, yang mampu menyelesaikan proses perijinan sesuai regulasi pengelolaan zakat baru tercatat ada 572 organisasi atau lembaga. Mereka ini terdiri 1 Baznas RI, 34 Baznas Propinsi dan 456 Baznas kabupaten/kota. Sedangkan dalam kategori Lembaga Amil Zakat (LAZ) terdiri : 26 LAZ tingkat nasional, 18 LAZ Propinsi dan 37 LAZ tingkat kab/kota.

Dari jumlah organisasi pengelola zakat yang sudah menyelesaikan proses perijinan-nya, tercatat jumlah amil yang ada sesuai catatan Kementrian Agama secara total berjumlah 7.369 amil zakat. Mereka terbagi dalam amil Baznas semua tingkatan sehumlah 5.153 amil dan amil LAZ semua level sejumlah 2.216 amil zakat.

Walaupun semua organisasi pengelola zakat lahir dan bertumbuh dalam masyarakat yang sama, dengan kultur dan mahzab yang juga hampir sama, namun tetap saja tak lantas semua pengelola zakat memiliki nasib yang sama. Kualitas sumberdaya manusia, latar belakang lembaga, dukungan publik serta kapasitas serta kemampuan manajemen menjadi salah satu kunci sebuah lembaga tumbuh bisa lenih besar dibanding yang lainnya.

Dengan modal organisasi awal yang tak sama, akan lahir dan bertumbuh juga beragam ukuran dan kapasitas lembaga. Pada akhirnya, hukum alam akan berlaku. Yang besar makin besar, yang kecil tetap kecil. Secara alamiah mungkin ini yang dikehendaki para pengkaji dan pemerhati ekonomi, yang berharap pasar tumbuh alamiah tanpa campur tangan manusia. Di dunia zakat tentu saja hal ini berbeda.

Dunia zakat cenderung kuat ikatan antar lembaganya. Kecenderungan egoisme lembaga tumbuh besar memang ada, namun itu terbatas dalam kerangka meraih simpati publik dan sebanyak-banyaknya menarik dukungan dari para muzaki atau donor mereka. Kompetisi antar lembaga tak kentara, apalagi vulgar terjadi di depan publik.

Dalam satu dasa warsa ini justru spirit kolaborasi, dalam naungan semangat gotong royong membantu sesama dan mensejahterakan rakyat miskin semakin kuat. Jargon, “kerja sama-sama, keren sama-sama” setidaknya mengurangi dorongan setiap lembaga hanya mengejar pertumbuhan secara internal saja. Dorongan untuk berbagi antar lembaga, untuk saling membantu dan sama-sama membesarkan dunia zakat dalam beragam kerja sama program kian marak.

Mereka semua melakukan hal ini, buka semata adanya dorongan dari pemerintah melalui regulasi yang ada. Bukan itu tujuan-nya. Sebagai sama-sama organisasi yang tumbuh dari akar rumput, yang oleh sejumlah ahli dikatakan juga civil society muslim, ada kebutuhan bersama semua lembaga ini untuk tampil dan merepresentasikan umat, khususnya dalam dimensi masyarakat sipil yang damai dan penuh kesadaran untuk bertumbuh dan meningkatkan kebaikan dan kemanfaatan secara bersama-sama.

Yang Tumbuh dan Terus Menumbuhkan
Dalam perkembangan religiusitas di negeri ini, agama Islam semakin mulai memiliki peran penting dalam kehidupan modernitas ketika memasuki era 1980-an. Menurut Jose Casanova, kurun waktu itu, Islam semakin menjadi agama yang telah “terpublikkan” dan mengalami deprivatisasi.

Istilah ini merujuk pada perkembangan berbagai hal dari dalam umat Islam yang mengarah pada perluasan kehidupan yang mengarah pada kepentingan “publik” seperti : kehidupan bisnis dan ekonomi, media massa, ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia sosial, kehidupan profesional serta gaya hidup dan tata nilai publik lainnya.

Tuntutan untuk mendorong kehidupan sosial yang bernuansa agama berangkat dari kenyataan bahwa agama, tidak lagi sebatas urusannya pada lingkup privat, tetapi juga sudah menyentuh pada lingkup moral dan konteks publik. Lebih lanjut menurut Jose Casanova (2003: 87) ia menyebutkan beberapa hal mengapa agama senantiasa hadir ke publik. Pertama, doktrin agama mendorong orang untuk mengekspresikan keyakinannya ke publik, tidak hanya berdimensi personal, tetapi juga sosial. Kedua, adanya revitalisasi dan reformasi tradisi lama yang masih hidup sehingga agama dapat hadir ke ruang publik. Ketiga, faktor-faktor global juga mendorong agama masuk ke ruang publik.

Dalam perjalanan menjadikan agama sebagai bagian kepentingan publik, sebenarnya Muhammadiyah telah membuktikan dirinya dalam mengawal dan membersamai kepentingan masyarakat Islam di negeri ini. Muhammadiyah yang didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis telah memastikan peran publiknya dalam melayani umat dan bangsa.

Dalam sejarah panjangnya, Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 bukan saja ia melakukan pelayanan sosial berbasis kepentingan umat, namun ia membuktikan diri sebagai inisiator dan penggerak yang mengajak ummat Islam yang waktu itu dalam keadaan jumud, beku, dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik untuk kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist.

Muhammadiyah saat yang sama bergerak aktif juga membangun kesadaran akan kemajuan umat. Sejak awal, KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah konsens untuk terus memberikan pelajaran atau pengetahuannya kepada santri-santrinya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Kyai Ahmad Dahlan juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut “Sidratul Muntaha”.

Muhammadiyah terus berkembang pesat dan semakin maju, hingga hari ini, walau belum ada daftar resmi yang dikeluarkan lembaga terkemuka tentang lembaga Islam terkaya di dunia, sepertinya Muhammadiyah pantas berada di urutan paling atas. Dengan jumlah anggota Muhammadiyah yang tercatat ada lebih dari 25 juta warga, Muhammadiyah kini telah memiliki sejumlah aset yang tak sedikit jumlahnya. Anggota Muhammadiyah dan warga masyarakat secara umum terus merasakan manfaat amal-amal usaha Muhammadiyah, baik di sektor Pendidikan, Kesehatan, ekonomi, serta lainnya.

Dalam catatan lama yang berhasil ditemukan, pada tahun 2017 saja, Muhammadiyah sudah punya aset wakaf sejumlah 21 juta meter persegi. Di atas tanah wakaf itu di atasnya telah berdiri sekurangnya 19.951 sekolah, 13.000 masjid dan mushola, 765 bank perkreditan rakyat syariah, 635 panti asuhan, 457 rumah sakit dan klinik, 437 baitul mal, 176 universitas dan 102 pondok pesantren. Yang luar biasa, tak sejengkal pun tanah itu atas nama pribadi-pribadi tertentu, seluruhnya atas nama persyarikatan Muhammadiyah.

Dengan banyaknya asset yang dikelola Muhammadiyah, tetap saja perlakuan mereka sama. Setiap asset dikelola dengan baik. Ada manajemen yang mengelola-nya secara rapi, juga terdokumentasi dengan sangat baik. Semua asset yang ada pun, dikelola secara transparan dengan visi yang progresif (berkemajuan). Dengan ini semua, tak heran bila banyak pakar menyebut bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam modern terbesar di dunia. Wajar pula bila sejumlah pihak memuji Muhammdiyah, juga memberikan sejumlah penghargaan pada Muhammadiyah.

Dengan posisinya saat ini, wajar bila Muhammadiyah bukan hanya menjadi Lembaga filanropi yang membanggakan dunia, namun juga menginspirasi organisasi-organisasi filantropi yang baru dan sedang tumbuh di Indonesia. Muhammadiyah jadi cermin sekaligus sarana belajar, bagaimana mengelola dana dan asset umat tanpa tergoda untuk mengarah pada skema bisnis serta tetap istiqomah untuk tetap rendah hati dengan terus melayani rakyat negeri ini yang membutuhkan tanpa adanya perasan juwama dan berbangga diri. Muhammadiyah juga sejak awal telah belajar tak meminta apapun pada negara ini, namun justru senantiasa seolah bertanya, “apalagi yang bisa kami bantu untuk negeri ini?”.

Pohon Besar Tempat Belajar

Bila Muhammadiyah ini adalah tanaman, tentu saja ia adalah tumbuhan yang kini sudah besar dan menjulang tinggi. Bagi tanaman-tanaman yang masih kecil dan sedang bertumbuh, di sekitarnya pohon besar ini bisa juga menjadi pelindung dari terpaan angin dan derasnya hujan serta badai yang akan datang nantinya. Dengan adanya pohon besar, sejatinya ia bukan penghalang atau cahaya matahari pagi. Ia justru menaungi dari panasnya cahaya siang yang kadang memanggang bumi. Dan kita semua berharap, walaupun pohon ini tumbuh tinggi, ada ruang terbuka yang memadai bagi tumbuhnya tunas-tunas pohon baru yang akan hidup di pekarangan yang sama.

Semakin banyak pohon akan semakin indah pekarangan kita, juga akan ada beragam kemanfaatan dari bayaknya pohon yang ada. Banyaknya pohon di pekarangan, semoga situasinya sama dengan banyaknya lembaga zakat dan filantropi Islam, akan semakin memperindah taman gerakan zakat dan semakin meningkatkan semangat pelayanan zakat bagi masyarakat. Ruang-ruang dakwah zakat dan filantropi Islam pun semakin tersebar jauh dan menjangkau area yang semakin lebih luas. Kemajuan organisasi pengelola zakat pun akan lebih cepat terbentuk karena terus saling menyemangati antar sesama organisasi.

Organisasi atau Lembaga-lembaga zakat dan filantropi Islam yang telah lama berdiri dan tumbuh besar di saat ini, punya kewajiban mendorong agar yang lainnya juga bisa tumbuh dengan baik. sejumlah lembaga yang telah dipercaya dan didukung publik, harus juga menularkan ilmu dan kemampuannya agar cara mengelola dan nilai-nilai yang dimilikinya semakin menguatkan ekosistem zakat dan filantropi Islam yang lebih baik.

Pohon besar di lansekap gerakan zakat juga, semoga bisa terus tumbuh dengan baik. pohon-pohon besar ini yang berbentuk pohon yang tinggi, rindang, serta berakar kuat, harus tumbuh sehat. Dengan kekuatan yang dimiliki, selain akan berfungsi untuk memperindah lingkungan taman, ia juga bisa jadi peneduh yang juga bisa menahan angin. Semoga semua organisasi dan lembaga zakat dan filantropi islam yang ada hari ini, pada akhirnya akan juga bisa tumbuh dengan baik dan bahkan bisa sama besar dan tingginya dengan Lembaga yang telah duluan ada. Dengan makin banyaknya lembaga zakat di negeri ini, bisa juga digunakan untuk memperbaiki kegersangan jiwa dan tandus-nya para mustahik serta mendorong mereka terntaskan dari kemiskinan harta juga kemiskinan jiwa.

Sudah saatnya seluruh lembaga zakat merdeka dari kesulitan mencari dan menggalang dana dari muzaki. Juga sudah saatnya mereka merdeka dari kesulitan memberdayakan mustahik agar bisa teratasi masalah hidupnya yang tak sedikit. Selaras dengan tema kemerdekaan tahun ini, yang tagline-nya “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”, kiranya bagi Lembaga-lembaga zakat, bukan hanya hal ini merefleksikan bahwa mereka harus tetap Tangguh disituasi apapun, termasuk pandemi. Namun saat yang sama, ia juga harus mampu tumbuh. Dan bagi gerakan zakat, tak hanya mesti Tangguh dan bisa tumbuh, ia juga harus melindungi dan mengayomi secara bersama, sehingga kemajuan gerakan zakat semakin nyata dan mewujud segera.

Tagline “kerja sama-sama, keren sama-sama”, adalah sebuah doá dan harapan akan bersatu padunya gerakan zakat dalam semangat gotong royong dan “holopis kuntul baris” demi mencapai masa depan umat dan bangsa yang lebih baik. Gerakan zakat juga butuh terus untuk sinergi dan kolaborasi, menyatukan gagasan, tindakan serta program nyata bagi kemerdekaan muzaki, amil dan mustahik.

Muzaki merdeka dari kesulitan mencari lembaga zakat terbaik yang ia bisa percaya. Mustahik merdeka dari beban dan himpitan masalah yang mereka derita. Dan amil juga merdeka dari beragam kesulitan hidup sebagai amil, sebagai anak, sebagai ayah atau Ibu serta sebagai kepala keluarga yang juga punya visi merdeka hidup. Merdeka dari beban dan kesulitan pribadi, demi fokus untuk mengantarkan muzaki dan mustahik ke gerbang tujuan gerakan zakat.

#Ditulis sepanjang perjalanan Semarang-Jakarta-Bogor, 18-19 Agustus 2021