SBG GANDRUNG (2)

Betara Guru tahu siapa yang jadi biangkeroknya. Maka lembu Nandini pun di PHK dengan alasan terdampak Covid-19.

SUNGGUH tak menyangka, lembu Nandini ini ternyata anak jin Rohpatanam. Dilihat namanya, kemungkinan dia berasal dari Korea tapi tak ada hubungannya dengan Presiden Rohtaewo. Karena merasa keturunan jin priyayi tersebut, dia tak mau BAB sembarangan, selalu pada kloset khusus yang bermerk Leng Taiwong.

Untuk menjadi lembu yang beda tingkat kaya martabat itulah lembu Nandini kemudian bertapa di suatu tempat. Selama 40 hari dia bertapa, tidak makan minum, tidak main medsos. Dan rupanya segala bentuk keprihatian lembu Nandini didengarkan Sanghyang Tunggal penguasa kahyangan. Terbukti di langit atas pertapan menjadi angker, mendung kelabu selalu menutupinya, seakan menjadi payung ajaib yang tak pernah diproduksi di Juwiring Klaten.

“Aku sudah tirakatan selama 40 hari, tapi kok belum ada perubahan nasib ya. Tak ada satu dewapun yang mau ke sini dan memperhatikan tuntutanku. Apa kahyangan masih status zona merah ya?” keluh lembu Nandini dalam hati.

Rupanya keluhan lembu Nandini terdengar oleh SBG yang baru jalan-jalan pagi sekalian berjemur untuk menangkal Covid-19. Beliaunya sangat heran, kenapa lembu satu ini memiliki aura luar biasa, memancarkan sinar putih kebiru-biruan padahal bukan koalisi antara PKS-PAN.

“Rupanya kamu bukan lembu sembarangan, ya? Punya nama nggak?” tanya SBG datar.

“Siapa elo, nanya lembu sembarangan. Nggak makan sekolahan ya?” jawab lembu Nandini ketus.

Maklum, penampilan SBG lebih sederhana dari Presiden Jokowi. Meski raja kahyangan, ke mana-mana hanya pakai celana jin yang sobek dengkulnya, baju T-Shirt cap kidang. Presiden Jokowi saja ada yang melecehkan ketika pakai baju adat Baduy, apa lagi SBG yang hanya pakai kaos. Lembu pun menganggap sepele.

Giliran SBG yang tersinggung, masak raja kahyangan kok dianggap nggak makan sekolahan. Memangnya sekolah bisa dimakan? Dewa makannya terpelihara, 4 sehat 5 sempurna. Nggak ada dewa makan barang tidak halal. Yang suka makan duit proyek itu pejabat di ngarcapada, sampai tega bupati di Jember cari insentip lewat mayat korban Corona.

“Lewat tirakatmu, mestinya kamu bisa jadi manusia. Tapi karena terlibat “ujaran kebencian” terhadap dewa, maka kamu batal jadi manusia.” Ujar SBG sambil mengeluarkan kemayan (guna-guna), sehingga lemba Nandini langsung gemetaran dan panas dingin macam habis divaksin Corona.

“Ampun pukulun, ternyata pukulun SBG raja di kahyangan. Habisnya raja blusukan kok tanpa kawalan.”

“Nanti ulun dituduh pencitraan. Padahal ulun mau nyapres juga kagak, pasang baliho di mana-mana juga tidak.”

“Lalu bagaimana nasib saya, pukulun. Apa harus jadi lembu permanen?” lembu Nandini mendesak SBG.

SBG mengiyakan, tapi ada dispensasi istimewa. Nandini dijadikan lembu yang menjadi kendaraan pribadi SBG, bukan untuk dijadikan perangkat pembajak sawah pak tani atau dijadikan hewan kurban di Idul Adha. Meski jenis lembu limosin, presiden negara mana pun tak boleh membelinya untuk kurban.

Legalah lembu Nandini. Hari itu juga dibawa ke Jonggring Salaka, ditaruh pada kandang istimewa. Setiap hari Minggu diajak jalan-jalan keliling ngercapada, dinaiki berdua oleh SBG dan permaisuri Dewi Uma. Sampailah kemudian tiba pada adegan yang tidak mengenakkan itu, ribut di punggung lembu Nandini gara-gara Dewi Uma menolak diajak hubungan intim, dan kemudian saling kutuk-mengutuk.

“Bagaimana ini pukulun SBG, saya sudah jadi perempuan jelek. Main sinetron pasti nggak laku lagi nih.”  Protes dan keluh Betari Durga.

“Nggak papa, kamu kalau mau bisa jadi Youtuber kayak Deddy Corbuzier. Duitnya bisa berkoper-koper. Badan wadagmu nanti jadi bini Betara Kala, tapi yitmamu (sukma) tetap menjadi biniku, tapi ulun harus menikahi secara pisik Dewi Laksmi.” Jawab SBG.

Dalam hati Betari Durga ngomel-ngomel, dasar lelaki ditinggal pergi bini langsung cari perempuan lagi. Tapi begitulah memang karakter SBG, dia dewa yang sangat tinggi libidonya. Asal melihat perempuan cantik nafsunya langsung bangkit. Ibarat sinyal kereta api, begitu ada KA mau lewat langsung njengat sebagai isyarat aman dan boleh masuk.

Demikianlah, sepeninggal  Betari Durga ke Pasetran Gandamayit, SBG segera mendatangkan Dewi Laksmi yang berbadan wadag mirip Dewi Uma. Setelah dimasuki roh Dewi Uma dikawinilah dia. Ibarat mobil, mesin lama tapi kasis dan bodinya baru, SBG nafsunya kembali berlipat-lipat. Dalam tempo beberapa tahun 3 anak telah lahir, masing-masing: 1. Betara Sakra, 2. Betara Mahadewa dan 3. Betara Asmara. Dengan demikian anak SBG telah menjadi 9.

“Anak kita semua jadi 9 dong pukulun, tambah dua lagi bisa bentuk kesebelasan Persejong (Persatuan Sepakbola Jonggring Salaka).” Usul Dewi Laksmi, istri kedua SBG.

“Enggaklah, sembilan anak cukup, laki perempuan sama saja!” jawab SBG seakan mengadopsi motto program KB Indonesia.

Agak beda dengan istri pertama, Dewi Laksmi ini istri yang berani membantah titah suami, sehingga keduanya suka bentrok. Lembu Nandini yang pada dasarnya terpaksa jadi kendaraan istana Jonggring Salaka, selalu cari gara-gara agar bisa dipecat. Oleh karenanya kemudian sengaja membakar kecemburuan Dewi Laksmi akan ulah SBG manakala jalan sendirian ke ngercapada.

SBG ini wayangnya memang doyan banget soal begituan. Asal ketemu wanita cantik langsung gandrung (kasmaran). Misalnya, ketika memergoki Dewi Anjani mandi telanjang di telaga Madirda, mendadak SBG ejakulasi dini dan ketika kama (sperma) itu jatuh ke daun sinom dan dimakan, Anjani hamil dan melahirkan Anoman.

“Benarkah itu Nandini, jangan-jangan itu berita hoaks?” ujar Dewi Laksmi ragu.

“Suwerrrr, potong kupingku jika bohong.” Jawab lembu Nandini meyakinkan.

Langsung saja Dewi Laksmi cemburu dan protes pada SBG. Tentu saja SBG kaget, kenapa istri keduanya itu kok sampai tahu skandalnya dengan Dewi Anjani yang sebetulnya nggak disengaja, alias kecelakaan asmara belaka.

“Mama Laksmi kok tahu, dari mana kabar itu?” SBG mencoba menyelidik.

“Pokoknya ini menurut sumber yang layak dipercaya.” Jawab Dewi Laksmi mencoba melindungi lembu Nandini.

Tapi SBG sudah tahu siapa yang jadi biang keroknya, sebab saksi mata saat kejadian itu hanya lembu Nandini saja. Maka dengan alasan perekonomian Jonggring Salaka lagi lesu terdampak Covid-19, di-PHK-lah Nandini dan dikembalikan ke ngercapada. Tapi lembu Nandini malah kegirangan, karena telah menjadi lembu merdeka. (Ki Guna Watoncarita – tamat)