SESAJI RAJA NGAYA (1)

Bagong datang-datang ke Ngamarta sambil menangis, lalu dibujuk oleh Harjuna agar diam dulu.

PPKM  Darurat sudah dicabut sampai ke akar-akarnya, setelah diperpanjang melulu macam SIM. Ketika negeri Ngamarta mulai hendak membangun kembali ekonomi rakyatnya yang terpuruk, mendadak ada undangan dari kerajaan Jagad Binangun pimpinan Prabu Gandis Basuwedo. Isinya, agar ikut berpartisipasi pada program “Sesaji Raja Ngaya” yang akan digelar bulan Juli 2022 mendatang.

Apa maksud gelaran “Sesaji Raja Ngaya” tersebut? Itu adalah semacam kirim sajen penolak bala yang ditujukan kepada Betara Kala yang tinggal di kahyangan Nusa Kambangan, masih daerah teritorial Jonggring Salaka juga. Konon dengan sesaji itu wabah Covid-19 akan habis dengan sendirinya. Sebab selama ini mayoritas wayang yang terpapar Corona dan tewas, adalah mereka yang masuk kategori sukerta. Padahal sudah hukum kahyangan, wayang sukerta adalah makanan halal Betara Kala, tanpa perlu fatwa MUI.

“Undangan yang ujung-ujungnya duit lagi, duit lagi….” Keluh Prabu Puntadewa, setelah membaca surat tersebut.

“Ekonomi lagi lesu kok minta sumbangan, ke negeri lain lagi. Kok nggak malu ya?” kata Harjuna sembari baca surat berkop “Jagad Binangun” tersebut.

“Lalu kita dapat kompensasi apa dari sumbangan itu? Ini kan cari sponsor namanya,” tambah Bima Sena.

Dalam undangan  yang lebih tepat sebagai proposal itu disebutkan, setiap negeri diminta pasok Rp 10 miliar, sedangkan negara yang ikut ditargetkan 100 negara. Berarti jika terkumpul dana itu akan mencapai Rp 1 triliun, jumlah uang yang tidak sedikit. Betara Kala bisa tambah kaya raya dong, usaha gas melonnya makin menggurita. Rupanya dia belum puas punya monopoli usaha gas melon 3 Kg di Jonggring Salaka.

Prabu Puntadewa dan kedua adiknya pun segera membuat kalkulasi ekonomi. Ternyata memang masih ada untungnya juga. Dengan setor Rp 10 miliar langsung selesai pandemi Corona. Sedangkan selama ini negara sudah habis ratusan triliun status Corona baru sampai tahap melandai saja, belum nol. Karenanya  ketiga tokoh Pendawa Lima itu langsung menyatakan setuju.

“Bener nggak ini Betara Kala dari Jonggring Salaka, atau sekedar orang mencatut nama Betara Kala?” kata Sadewa yang dari tadi lebih banyak diam.

“Ya benerlah. Ngapain orang catut Betara Kala, lalu tanggemnya segede apa?” potong Werkudara.

Demikianlah, Pendawa Lima telah bertekad bulat hendak mendukung gelaran “Sesaji Raja Ngaya”. Dana Rp 10 miliar akan dianggarkan lewat APBN 2022. Tapi sebelum sidang ditutup, mendadak ada tamu dari Karang Kebolotan. Kilurah Bagong muncul dengan wajah sendu, bahkan kemudian menangis terisak-isak. Prabu Puntadewa pun segera ngedepin Harjuna, karena itu memang punakawan Ngamarta yang lebih banyak ikut Harjuna. Paling-paling minta bantuan Sembako.

Harjuna pun segera mengeluarkan dompetnya, ambil ratusan merah dua lembar dan diberikan kepada Bagong. Tapi uang itu kali ini ditolaknya, bahkan sikapnya nampak marah sebagai gambaran hatinya yang terluka. Ternyata kali ini Bagong ke Ngamarta bukan urusan uang, melainkan masalah penting dari yang terpenting.

“Kalian dengan sengaja menghina Bagong berikut jajarannnya. Dikiranya Bagong mata duitan? Segala urusan akan dianggap selesai jika ditutup pakai uang. Sorry ya…..,” kata Bagong jumawa habis.

“Sabar Bagong, sabar. Ada apa sih, datang-datang kok ngomel. Nggak pakai masker lagi. Covidmu nanti nyebar ke mana-mana.” Bujuk Harjuna sambil mengusap-usap pundak Bagong.

Sambil menangis terisak-isak Bagong cerita bahwa sudah 2 minggu ini Petruk menghilang dari Karangkebolotan. Ke mana perginya tak bisa dilacak, karena HP-nya selalu non aktif. Padahal punakawan tanpa Petruk jadi gothang (tak lengkap). Tentu saja Harjuna kaget. Kok Petruk dibilang pergi, padahal absennya selalu ada. Macam anggota DPR Senayan saja.

“Tenang saja Bagong, biar nanti Harjuna yang mencarinya.” Hibur Prabu Puntadewa.

“Ngapain dicari, nanti kehabisan duit Petruk kan juga pulang sendiri. Manja amat…” potong Werkudara zaklek.

Pada akhirnya Harjuna berangkat juga mencari Petruk. Saat pamitan pada kedua kakak dan kedua adiknya, dia masih juga dicolek Bagong macam kondektur bis narik bayaran ke penumpang. Sambil berbisik dia minta uang dua lembar ratusan merah yaang sedianya mau diberikan untuknya. Sambil tersenyum Harjuna menyerahkan uang tersebut, sementara Prabu Puntadewa tersenyum geli. Dasar Bagong, dari dulu karakternya tak pernah berubah.

Sementara Harjuna ke pertapan Wukir Retawu untuk minta petunjuk eyang Begawan Abiyasa, di negeri Jagad Binangun Prabu Gandis Basuwedo tengah berdiskusi dengan patih Sabrang Pawitan, membahas soal progres daripada proyek “Sesaji Raja Ngaya” yang hendak digelarnya tahun depan. Dia optimis akan berhasil, sebab dari 140 proposal yang dikirimkan, 75 persen menyatakan kesediannya, meskipun belum transver dananya.

“Yang saya heran Sinuwun, “Sesaji Raja Ngaya” kan untuk 100 negara, kenapa kita kirim proposal ke 140 negara. Apa nggak kelebihan dosis itu?” Patih Sabrang Pawitan bertanya dengan kritisnya.

“Seperti nggak tahu aja ente! Jika kita bikin pas 100 negara, jika meleset kita kan harus nombokin. Maka target harus kita lebihkan. Bila ternyata melebihi target, ya alhamudulillah wa syukurilah, nanti bisa kita sumbangkan ke panti sosial, atau bikin vaksin merdeka.” Jawab Prabu Gandis Basuwedo.

“Bingung saya, Sinuwun. Katanya proyek “Sesaji Raja Ngaya” kan untuk menangkal Covid-19 menjadi nol. Tapi kok masih ada vaksinasi merdeka segala. Apa janji Betara Kala ada tanda-tanda bakal meleset?”

“Oh, iya ding!” jawab Prabu Gandis Basuwedo sambil tersipu malu. (Ki Guna Watoncarita)