Pesugihan Makan Tumbal

Bocah AP (6 th) yang dianiaya untuk dijadikan tumbal oleh orang tua, paman dan kakeknya. Masih ada saja yang percaya hal-hal semacam itu.

DI ZAMAN now ini, masih ada saja orang yang mempercayai ilmu pesugihan yang bisa membuat kaya mendadak, asal bersedia mengorbankan atau menjadikan orang-orang terdekat termasuk anak kandung sendiri sebagai tumbalnya.

Boro-boro menjadi kaya, AP bocah perempuan di Gowa, Sulawesi Selatan berusia enam tahun malah hampir kehilangan penglihatannya akibat dianiaya kedua orang tua dibantu paman dan kakeknya yang sama-sama sedang berguru ilmu hitam.

Beruntung, teriakan AP terdengar oleh salah seorang paman lainnya yang sedang menuju ke rumahnya untuk melayat kematian AD, kakak AP yang ternyata meninggal karena dijadikan tumbal sebulan lalu, akibat dicekoki dua liter air garam sesuai perintah sang “guru”.

“Benar, penganiayaan terhadap AP yang mengakibatkan luka berat, dilakukan kedua orang tua korban, “kata Kasatreskrim Polres Gowa, AKP Boby Rachman saat dikonfirmasi, Sabtu lalu (4/9).

Menurut Boby, motif penganiayaan diduga akibat halusinasi pengaruh ilmu hitam yang merasuki ketiga pelaku. Sang ibu berusaha mencongkel mata anaknya yang diyakini ada “sesuatu”, sementara ayah, paman dan kakek korban memegangi tangan dan kakinya.

Polisi menyebutkan ada dua tersangka yang terlibat dalam kejadian ini yakni paman korban (US) dan kakek korban (BA) sedangkan kedua orang tuanya TT dan HA masih diobservasi kondisi kejiwaannya di rumah sakit setempat.

Dari hasil tes kejiwaan awal yang dilakukan Polres Gowa, para tersangka tidak mengalami gangguan jiwa, berarti sadar atas perbuatan yang mereka lakukan sehingga bisa dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman maksimal pidana mati.

Bisa Disembuhkan

AP sendiri, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, penglihatannya kemungkinan masih bisa dipulihkan setelah dilakukan perawatan medis secara intensif sekitar enam bulan.

Yang menjadi persoalan, kehidupan dan perlindungan bagi AP ke depan , karena ia tidak mungkin lagi tinggal bersama orang tuanya, mungkin  hak asuhnya diserahkan pada kerabat, pihak lain yang bersedia atau pada negara melalui dinas sosial setempat.

Pemberitaan terkait pesugihan yakni mahluk jadi-jadian babi ngepet di Kampung Bedahan, Kec. Sawangan Depok, Jawa Barat juga menjadi viral di media April lalu.

Ternyata kejadian itu hanya lah akal-akalan beberapa orang termasuk  ustadz Adam Ibrahim dengan menyebarkan hoaks tentang adanya mahluk jadi-jadian babi ngepet yang berkeliaran di kampungnya.

Berdasar pengakuannya pada polisi, Adam hanya ingin membuat sensasi agar namanya lebih dikenal di kampung sehingga diharapkan pengajian yang digelarnya dihadiri lebih banyak warga.

Adam mengajak komplotannya untuk menyebarkan isu, mereka kehilangan uang di rumah masing-masing akibat digondol babi ngepet, lalu ia membeli seekor babi seharga Rp900.000 dan melepaskannya di kampung, lalu ditangkap kelompoknya beramai-ramai.

Sang ustadz pun mengarang cerita, penangkapan babi dilakukan oleh  orang-orang (komplotannya) tanpa busana atau bugil, karena jika tidak, hewan itu bisa lolos dan menghilang. Untuk mempertanggungwabkan perbuatannya, Adam harus mendekam dibui.

Kepercayaan tentang ilmu pesugihan masih kenta,l tercermin misalnya di Pulau Jawa, lokasi-lokasi pertapaan untuk mengejar kekayaan atau harta tersebar misalnya di Jawa Tengah ada Gua Susuh Angin dan Gunung Kemukus (Salatiga), di Jawa Timur a.l. Gunung Kawi, Alas Purwo dan di Jawa Barat Gunung Gede (Bogor) dan Gunung Simpai (Kuningan).

Berbagai ritual dilakukan oleh pemohon yang ingin kaya mendadak atau mengejar jabatan, seperti bertapa, membawa sesajen berupa ternak, bahkan di Gunung Kemukus, ritualnya dilakukan melalui hubungan intim dengan lawan jenis yang belum dikenal.

Dukun-dukun yang dikenal “kesaktiannya” dari mulut ke mulut juga laris dikunjungi orang-orang yang mengejar jabatan saat pilkades, pilkada atau pemilihan legislatif, artis yang ingin dipuja-puja penggemarnya atau pedagang yang ingin jualannya laris.

Literasi publik harus terus digalakkan melalui penyuluhan-penyuluhan mulai dari tingkat desa agar masyarakat tidak mengambil jalan pintas atau kehilangan nalar untuk mendapatkan harta atau jabatan.

Selain bertentangan dengan agama, musyrik atau mempersekutukan Allah menurut ajaran Islam, upaya meraih sesuatu melalui praktek pesugihan juga tak bakal kesampaian