RI Pantasnya 10 Besar Paralympic

Dengan perencanaan dan pembinaan lebih baik, RI seharusnya bisa jadi 10 besar dunia untuk perolehan medali di event paralympic.

PEROLEHAN medali kontingen  RI di Paralympic Tokyo cukup membanggakan dan kerja keras para atlit harus diapresiasi termasuk dengan pemberian bonus, walau sepantasnya  lebih banyak medali lagi dikantongi di ajang pesta olahraga bagi disabilitas ini.

Selain mengakhiri 41 tahun tanpa medali emas, prestasi yang diraih  kontingen RI dalam Paralympic Tokyo 2020 yang terbaik selama keikutsertaan dalam lomba olahraga global bagi disabilitas itu.

Sembilan medali disabet tim RI yakni dua emas dari, tiga perak dan empat perunggu atau melampaui target yang dibebankan yakni satu emas, satu perak dan dua perunggu.

Medali emas diraih pasangan bulutangkis ganda campuran Hary Susanto/Leany Ratri Oktila (kualifikasi SL3 – SU5) dan ganda puteri Leany RO./Khalimatus Sadiyah (SL3 – SU5), sedangkan medali perak dihasilkan dari tunggal putera Dheva Anrimushti (SU-5) dan perunggu oleh Suryo Nugroho (SU5) dan Fredy Setiawan (S14).

Medali perak lainnya diraih dari cabang angkat berat oleh Ni Nengah Widiasih, sedangkan perunggu dari sprinter nomor seratus meter (T37) putra Saptoyogo Purnomo dan petenis meja David Jacobs (S10).

Perolehan medali tim “Merah Putih” di Tokyo yang tertinggi  pada event lomba penyandang disabilitas sejagat itu sejak pertama kali tampil di Toronto pada 1976 dengan dua emas, satu perak dan tiga perunggu, lalu di Arnhem, 1980 (dua emas dan empat perunggu).

Sejak itu, perolehan medali tim RI di ajang Paralympic mengalami musim paceklik panjang,  di Rio de Janeiro (2016) hanya satu perrunggu dari cabang angkat berat oleh Ni Nengah Widiasih dan tenis meja oleh David Jacobs di London (2012).

China Ranking I   

Tiga besar negara dengan medali terbanyak di paralympic Tokyo dipegang oleh China (207 medali: 96 emas, 60 perak dan 51 perunggu), disusul Inggeris (124 medali: 41 emas, 38 perak, 45 perunggu dan Amerika Serikat (104 medali: 37 emas, 36 perak dan 31 perunggu).

RI dengan 272 juta penduduk yang mestinya gudang talenta atlit olahraga, di Tokyo hanya menempati ranking ke-43, a.l. di bawah  Polandia (18),  (Meksiko (21), Thailand (26),  Tunisia (28), Cuba (36) atau Malaysia (40) .

Namun dengan sejumlah keterbatasaan pada pelaksanaan pelatnas Paralympic Tokyo 2020 di tengah pandemi Covid-19 mulai dari  pendanaan, prasarana dan sarana olahraga, minimnya ui coba atau latih tanding, agaknya hasil yang diarih di Tokyo sudah optimal.

Dengan perencanaan dan persiapan lebih baik, juga dukungan dana dan pembinaan intensif dari pemerintah, publik berharap agar pada Paralyimpic di Paris, 2024 nanti mestinya kontingen RI bisa masuk sepuluh besar.