Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Covid-19 tidak mungkin bisa dibasmi, sehingga jika penyebarannya mulai menurun, yang diperlukan strategi janga panjang untuk hidup berdampingan dengannya.

SETELAH tren penyebaran dan angka kematian akibat Covid-19 di tanah terus menurun secara signifikan sejak akhir Juli lalu, ke depannya perlu ditata pola hidup dan strategi bersama dalam jangka panjang.

Dari angka-angka, jumlah penambahan harian Covid-19 pada 7 September sebanyak 7.201 kasus  sehingga totalnya 4.410.634 kasus, angka kematian 683 orang menjadi 17.156 orang dan angka kesembuhan 14.159 orang menjadi 3.864.848 orang.

Dibandingkan dengan puncak penyebaran harian tertinggi yakni 15 Juli sebanyak 56.757 kasus dan kematian tertinggi pada 27 Juli sebanyak 2.069 orang, penurunan yang terjadi kini membangkitkan optimisme, pandemi Covid-19 bakal berakhir.

Indikator positif lainnya yakni turunnya keterisian tempat tidur di RS  misalnya di RS Darurat Covid, Wisma Atlit, Jakarta yang menjadi acuan  puncak pandemi, juga positivity rate yang sudah mendekati ambang batas WHO (lima persen) serta tingkat kesembuhan yang terus naik.

Namun jika lengah, terjadi euforia massa, dengan mulai mengendurkan prokes 5 M (mengenakan masker, sering mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas), ancaman ledakan gelombang baru bisa muncul sewaktu-waktu.

Sementara pemerintah melalui kewenangannya harus terus mengoordinasikan program 3 T (Tracing, Testing dan Treatment) serta perluasan cakupan vaksinasi termasuk bagi anak-anak sampai tercapai herd immunity yakni dua pertiga atau 208 juta penduduk.

Perbaiki Sistem Yankes

Sementara Ketua Umum Ikatan AHli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede S Darmawan menilai, stategi jangka panjang pemerintah untuk hidup berdampingan dengan Covid-19 sudah tepat, yang perlu ditingkatkan adalah sistem layanan kesehatan dan kesiapan publik.

Menurut Pelaksana Tugas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyait Kemenkes Maxi Rondonuwu, strategi yang disiapkan pemerintah adalah mengatasi berbagai hambatan dalam penerapan kebiasaan normal baru mulai dari persoalan prokes, 3T dan vaksinasi.

Berdasarkan panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO), strategi yang dilakukan pemerintah yakni berdasarkan pola penyebaran Covid-19 pada komunitas, kapasitas respons penanganannya dan juga kepatuhan publik terhadap prokes.

Yang perlu diwaspadai juga adalah terjadinya mutasi virus corona SARS-CoV-2 yang menciptakan varian-varian baru seperti yang sudah ada saat ini yakni varian B.117 (Alpha) asal Inggeris, B1.351 (Beta) asal Afrika Selatan, P1 (Gamma) asal Brazil, B 1.617 (Delta) asal India  dan yang teranyar Mu asal Kolombia.

Pandemi sendiri, menurut para epidemiolog, lama-kelamaan akan berubah menjadi endemi atau penyakit musiman yang bisa disembuhkan dengan obat-obat biasa.

Hal tu berkaca pada pandemi influenze (Flu Spanyol) yang menyerang dunia pada 1918 hingga kini masih ada, tetapi dianggap sebagai flu biasa yang disembuhkan dengan obat-obatan warung.

Bedanya,  pandemi influenza mengakibatkan 50 juta kematian dan memapar sekitar 500 juta warga dunia karena vaksin baru ditemukan 30 tahun kemudian.

Berbeda dengan Covid-19, hanya dalam waktu sekitar setahun, vaksin sudah ditemukan, bahkan hampir sepuluh macam, sehingga korban bisa ditekan, walau sampai (7/9) sudah menewaskan 4.588.109 orang dan memapar 221.947.348 penduduk dunia.

Peang melawan Covid-19 belum usai, terus patuhi prokes 5M dan program 3T serta percepatan dan perluasan cakupan usia program vaksinasi.