Lapas Kok Sering Kebakaran?

44 napi tewas mengenaskan akibat kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang (8/9) dinihari. Pembenahan Lapas mendesak mengingat ini kejadian ke-13 dalam tiga tahun terakhir.

KELEBIHAN kapasitas sehingga keselamatan terabaikan seolah-olah persoalan tanpa solusi di lapas-lapas termasuk kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang, Rabu yang menewaskan 44 napi penghuni, kebakaran ke-13 kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Api mulai berkobar Rabu (8/9) pukul 01.50 WIB. Dugaan sementara akibat arus pendek (kortsleting)  di Blok Chandiri Nenga (Blok C2) yang dihuni 119 warga binaan kasus narkoba, dua kasus terorisme, satu orang kasus pembunuhan dan satu orang napi asal Portugal dan Afrika Selatan.

Dua belas unit mobil pemadam kebakaran yang tiba di lokasi sekitar menit kemudian (sekitar pukul 02.05 WIB) berhasil menguasai api, namun 41 napi ditemukan tewas, delapan luka berat dan 74 luka ringan, sementara 64 selamat.

Tiga korban lagi menghembuskan nafas di rumah sakit, sehingga total korban tewas 44 orang terdiri dari 43 napi narkoba dan satu teroris.

Berita kebakaran Lapas Tangerang menyebar ke seluruh media dunia, sebagian mengutip dari kantor berita transnasional seperti Reuters, AP dan AFP dari koresponden mereka yang ditempatkan di Indonesia. Tentu peristiwa ini merupakan aib bagi penegakan hukum di negeri ini.

Di Indonesia sendiri kebakaran lapas bukan suatu yang langka, karena dalam tiga tahun terakhir ini saja sudah terjadi 13 kali dimana 10 kali diantaranya di lapas yang dijejali napi (overcrowded), penyebabnya tiga akibat kortsleting listrik, selebihnya karena huru-hara dan penyebab, tawuran antarnapi dan lainnya.

Menkumham Yasona Laoly dalam penjelasannya mengemukakan, Lapas Kelas I Tangerang memang kelebihan kapasitas, dimuat 2.072 napi, padahal kapasitasnya hanya 600 orang, sejak dibangun 1972 instalasi listriknya belum pernah direnovasi, padahal beban dayanya terus naik.

Saat kejadian, ruang-ruang di blok napi itu terkunci dari luar, karena protapnya memang demikian, karena dikunci pun tak kurang-kurangnya naoi kabur dari sejumlah lapas.

Di lapas-lapas di negara mana pun di seluruh dunia, tentu kondisinya sama, dikunci dari luar, tetapi persoalannya, jika sampai 44 orang tewas saat terjadi kebakaran, protapnya bagaimana? Siapa petugas yang bertanggungjawab memegang kunci sel jika terjadi apa-apa?

Dari data Ditjen Permasyrakatan Kemenkumham, ada 582 Lapas (untuk napi yang sudah divonis) dan Rutan (unuk tersangka atau terdakwa) dengan total kapasitas 135.561 orang namun saat ini dihuni 250.527 orang atau kelebihan 114.966 orang.

Kelebihan kapasitas bahkan lebih jauh dari angka resmi tersebut, mengingat di Lapas Tangerang saja kelebihan kapasitasnya mencapai hampir 3,5 kali lipat  (600 : 2.272).

Berjejalan tinggal di Lapas tentu saja bertolak belakang dari tujuan semula yakni membuat agar para napi insyaf dan tidak mengulangi lagi perbuatannya.

Selain itu menghuni sel yang tidak layak, jauh dari rasa nyaman dan aman,  kebersihan yang buruk, sanitasi terbatas juga sering memicu kerusuhan diantara mereka.

Yang juga pelu digarisbawahi, kata Komisioner Komnas HAM Hairansyah (Kompas, 9/9), napi atau warga binaan Lapas adalah orang-orang yang direnggut kemerdekannya dan berada dalam pengawasan dan tanggung jawab negara.

“Keselamatan mereka harus dipastikan oleh negara,” ujarnya.

Tidak hanya soal kelebihan kapasitas yang bagai tanpa solusi, praktek pungli terhadap keluarga yang mengunjungi mereka, pilih-pilih sel atau fasilitas lain, izin berobat, pemberian remisi dan transaksi narkoba juga masih menjadi rahasia umum di sejumlah lapas.

Kapan ya, rutan dan lapas dibenahi tuntas, tidak hanya ramai saat terjadi musibah, kerusuhan atau napi kabur?