Ancaman Covid: Euforia dan Varian Baru

Pengendalian Covid-19, mulai dari komitmen pemerintah melanjutkan program 3T dan percepatan vaksinasi sampai kepatuhan dan partisipasi masyarakat pada prokes, kunci perang bersama melawan pandemi akibat infeksi virus SARS-CoV-2 tersebut yang juga terus bermutasi membentuk varian baru.

PERANG melawan Covid-19 belum usai, gelombang serangan baru bisa saja tiba-tiba muncul akibat euforia dan pelonggaran PPKM serta  mutasi virus SARS-CoV-2 yang memunculkan varian baru.

PPKM di wilayah Jawa dan P. Bali sejak 7 sampai 13 September diturunkan dari level  ke 3 sejalan dengan terus berlanjutnya tren penurunan penyebaran Covid-19 dalam pekan-pekan terakhir ini.

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dilakukan secara bertahap di sekolah-sekolah dengan protokol ketat, sementara kegiatan ibadah juga dibuka kembali, begitu pula sejumlah pusat-pusat hiburan dan wisata.

Pada 9 September tercatat penambahan angka harian Covid-19 sebanyak 5.990 kasus sehingga total 4.153.355 kasus, sementara angka kematian 334 orang (total 138.116 kasus).

Dibandingkan Juli lalu dengan angka  penambahan kasus harian tertinggi (15/7) mencapai 56.775 kasus dan angka kematian 2.069 orang (27/7), kini kedua indikator penyebaran Covid-19 tersebut sudah turun drastis.

Terkait munculnya varian baru Mu asal Kolombia, kata Guru Besar FK UI Prof. Chandra Yoga Adhitama yang juga mantan Direktur WHO Asia Tenggara saat ini masih dalam kualifikasi “Variant of Interest” (VoI) yang terus dikaji oleh badan dunia kesehatan itu.

Varian virus Mu, masih terus dikaji terkait keganasan paparannya pada manusia, risiko dan juga pengaruhnya terhadap penurunan efikasi vaksin.

Menurut dia, dari gejala Covid-19, tidak bisa dipastikan varian virus  penyebabnya, kecuali melalui tehnik genom sequencing yakni pengurutan sekuens DNA menjadi gambaran genom utuh sebagai kunci utama memutus rantai trnsmisi virus.

Hal senada disampaikan Jubir Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi yang juga menjabat Direktur P2ML Kemenkes yang menyebutkan, bahaya atau tidaknya varian Mu masih terus dikaji.

Menyebar di 40 Negara

Varian Mu yang saat ini sudah menyebar di 40 negara termasuk di wilayah Asia yakni Jepang, India dan Korea Selatan, lanjut Nadia, terus diupayakan  pencegahannya dengan mengawasi pintu-pintu masuk di bandara.

Menurut dia, mutasi virus terus berlanjut, bahkan misalnya virus Alpha  (B.117) asal Inggeris juga telah bermutasi membentuk belasan sub varian baru.

Sementara Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengemukakan, monitoring dan evaluasi terhadap mobilitas masyarakat perlu terus ditingkatkan karena penularan virus terjadi antarmanusia.

Menurut dia, PPKM demi PPKM yang diberlakukan pemerintah secara bertahap sudah sesuai dengan petunjuk WHO, dan terbukti mampu meredam lonjakan penyebaran Covid-19.

“Namun demikian, pengawasan harus perlu ditingkatkan, “ tandasnya.

Di sisi lain, mengambil data indeks pengendalian Covid-19 di Indonesia  (19 Juli – 6 September yang diolah Litbang Kompas (Kompas , 10/9) di dua provinsi paling Barat, Aceh dan paling timur, Papua cukup memprihatinkan (62).

Indeks Pengendalian Covid-19 di Papua sejak 19 Juli 2021 yang semula  lebih baik dari rata-rata nasional trennnya mulai menurun pada pekan kedua, membaik pada minggu ke-4 dan turun lagi pada minggu ke-6.

Pada periode 1 sampai 30 Juli tercatat penambahan kasus Covid-19 tertinggi sepanjang pandemi di Papua yakni 11.026 kasus atau rata-rata 368 kasus per hari dan angka kematian 371 orang.

Saat itu tingkat keterisian tempat tidur RS di wilayah Papua melonjak sehingga banyak pasien Covid-19 yang terpaksa diisolasi di rumah, bahkan Jayapura kehabisan stok oksigen.

Penanganan Covid di Aceh

Hal sama terjadi di provinsi Aceh yang pada awal pengukuran indeks yakni pada periode 13 sampai 19 Juli masih cukup baik, namun lalu turun sejak minggu ke-2 sampai ke-7, artinya memburuk selama tujuh minggu terakhir.

Minat warga untuk melakukan testing Covid-19 masih rendah, begitu pula  mengikuti vaksinasi yang hanya sempat naik saat dijadikan syarat wajib bagi pendaftaran studi di Universitas Syah Kuala, Banda Aceh.

Indeks pengendalian Covid-19 di Aceh (37 atau terendah) tercermin dari jumlah pasien baru Covid-19 yang tercatat pada 3 September lalu yakni 339 orang dibandingkan dengan pasien baru 239 orang.

Koordinasi pengendalian Covid-19 antarinstansi pemerintah termasuk di daerah perlu terus diperbaiki, begitu pula kepatuhan publik terhadap prokes.  (Kompas/ns)