Atlit:  Sengsara di Hari Tua

Atlit berprestasi dielu-elukan dan dibanjiri bonus, namun pada hari tua banyak yang terlunta-lunta dan sengsara. Perlu difikirkan skema perlindungan hari tua buat mereka.

ATLIT berprestasi yang pulang membawa medali tampil bak selebriti di negeri ini di arak-arak, dielu-elukan dan diundang di sana-sini, dibanjiri bonus miliaran rupiah serta seabrek penghargaan, namun pada hari tua, banyak yang sengsara dan terlunta-lunta.

Dari pemerintah saja, para peraih medali emas di ajang Olimpiade dan Paralympic Games, Tokyo baru-baru ini, masing-masing mendapat Rp5,5 miliar, Rp2,5 miliar peraih medali perak dan Rp1 miliar medali perunggu,  sedangkan tiap atlit yang berlaga mendapat Rp100-juta.

Tidak hanya itu, bonus juga mengalir dari perseorangan mau pun korporasi, ada yang memberikan rumah, berlibur ke destinasi swasta atau sekedar santap gratis yang dipersembahkan pengusaha resto atau gerai kuliner.

Namun seperti diungkapkan mantan perenang dan juga mantan olimpian Richard Sam Bera, bonus bukan bertujuan untuk menaikkan kesejahteraan, melainkan (sekedar) penghargaan atas suatu capaian, padahal yang lebih dibutuhkan adalah skema jaminan hari tua atlit.

Sejumlah atlit yang pernah menorehkan sejarah, hidup dalam kesepian dan terlunta-lunta, bekerja serabutan karena terhimpit kesulitan ekonomi dan terbelit utang atau terbebani biaya pengobatan.

Almarhum Gurnam Singh,

Sebut saja Gurnam Singh, manusia tecepat se-Asia, juara lari Asian Games IV di Jakarta  1962, hidup berpindah-pindah di rumah kerabatnya di Medan karena rumah pemberian pemerintah yang semula dihuninya digusur karena tidak memiliki IMB.

Ia kemana-mana mengayuh sepeda butut, satu-satu miliknya, dan pada 2015 saat berusia 74 tahun ia pernah berusaha meminta bantuan kepada petinggi olahraga di Jakarta namun gagal. Gurnam Singh menutup mata dalam sunyi pada 2016.

Nasib serupa dialami legenda bulu tangkis puteri Tati Sumirah yang berhasil menyabet Piala Uber Cup 1975, lalu setelah pensiun pernah bekerja untuk menyambung hidup sebagai kasir apotik, staf perpustakaan di sebuah perusahaan sebelum sakit-sakitan dan meninggal pada Februai 2020.

Menjelang akhir hayatnya, saat diwawancarai, Tati mengaku setelah gantung raket ia enggan  menyaksikan pertandingan bulu tangkis. “Cuma bikin sedih, “ tuturya lirih.

Lain lagi Karni, atlet dayung puteri peraih tiga medali emas dan satu perak di Sea Games 1997 asal Blora yang jadi tukang sapu atau Sandra Diana sari juara junior angkat berat empat medali emas Kejuaraa Asia 2017 yang  mengumpulkan receh di jalan raya di kota Padang.

Kelamnya masa depan atlit tercermin dari hasil survey  Litbang Kompas (Kompas 13/9) terhadap 330 responden atlit di 34 provinsi 1 – 10 Sept. dimana 54,2 persen mengaku belum sejahtera secara keuangan, 84,2 persen atlit aktif dan 75,2 persen mantan aktif tidak memiliki jaminan hari tua, bahkan 35,2 persen tidak memegang asuransi kesehatan.

Sudah saatnya, jaminan hari tua, minimal uang pensiunan dan asuransi kesehatan (BPJS) diberikan pada atlit berprestasi dengan kriteria tertentu, sehingga tak ada lagi kesan “habis manis sepah dibuang”.