SESAJI RAJA NGAYA (2)

Patih Sabrang Pawitan berpesan kepada Prabu Gandis Basuwedo agar bikin statemen hati-hati, capek nanti yang harus meluruskan.

PRABU Gandis Basuwedo ini memang raja lumayan koplak. Sepanjang tampuk pemerintahannya sering menciptakan kebijakan kontroversi. Namun demikian di mata para pendukungnya itu dinilai sebuah gebrakan yang membumi. Misalnya nih, selama pandemi Corona jalan-jalan dipersempit dengan alasan biar macet dan penduduk malas keluar rumah. Maka tak mengherankan, Jagad Binangun tercatat sebagai negeri yang tata kotanya terburuk di dunia termasuk tingkat kesetressan para pengendara.

Berkat penduduknya dipaksa WFH (Work From Home), penyebaran Covid-19 memang menurun. Tapi itu belum cukup, Prabu Gandis Basuwedo terus bikin program penuh kontrovesi! Berdasarkan survei para ahli yang margin errornya sampai 25 persen, diketahui bahwa mayoritas korban tewas penderita Covid-19 adalah para wayang sukerta yang jadi halalan tayiban untuk dimakan Betara Kala. Kelihatannya sih dimakamkan di TPU khusus korban Corona, tapi sejenak kemudian jenazah itu telah hilang dimakan Betara Kala.

“Sinuwun Prabu Gandis Basuwedo, bisa nggak kiranya kriteria wayang sukerta dipersempit? Dengan demikian banyak wayang Jagad Binangun bisa diselamatkan. Masak iya sih, punya anak 5 lelaki semua, juga masuk kategori wayang sukerta. Ini kan nggak bener. Coba usulkan pada Betara Kala, Sinuwun….!” usul patih Sabrang Pawitan.

“Masuk akal juga usulanmu. Tapi pesan politiknya Betara Kala kala itu adalah, agar setiap keluarga membatasi kelahiran, dukung program KB. Tapi percayalah, usulanmu itu tak perlu lagi. Sebab dengan program “Sesaji Raja Ngaya” semua wayang akan terselamatkan dari ancaman Covid-19. Maka ente harus rajin menegur negara  yang lelet menyetor dana tersebut.” Jawab Prabu Gandis Basuwedo, sekaligus perintah.

Jika bicara teori, Prabu Gandis Basuwedo memang ahlinya. Tapi ketika diterapkan di lapangan, sering melesetnya. Rakyat pun protes, dan buru-buru patih Sabrang Pawitan menjelaskan untuk menetralisir. Sedangkan Prabu Basuwedo sendiri malah ghosting alias ngilang entah ke mana. Tapi giliran sebuah keberhasilan dipublish lembaga survei, langsung beliaunya bikin konprensi pers sendiri, patihnya tak diajak.

Maka dalam hal program “Sesaji Raja Ngaya” ini, belum-belum patih Sabrang Pawitan  memendam rasa kekhawatiran. Soalnya targetnya  ngaya (memaksakan diri) banget. Dalam kondisi begini kok setiap negara diminta setor Rp 10 miliar. Jika tak tercapai, bagaimana? Tapi ketika dikritisi pers, Prabu Gandis Basuwedo justru menuduh pers tidak paham dengan niat luhur pemerintah. Akhirnya rakyat hanya bisa ngegerundel, “Pemahaman nenek lu…!”

“Patih Sabrang Pawitan, ente tunggu istana ya, panjenganingsun mau meninju pembangunan padupan agung tempat bikin sesaji nanti.” ujar Prau Gandis Basuwedo.

“Siap Sinuwun, tapi tolong jangan bikin statemen yang aneh-aneh. Nanti repot saya harus meluruskan.” Pesan sang patih.

Prabu Gandis Basuwedo hanya nyengir kuda disindir oleh Patih. Dia memang suka nuduh orang waton nyata. Tapi  bagaimana pun dia adalah tangan kanannya, sosok yang selalu mrantasi gawe (berhasil menyelesaikan masalah). Dulu Prabu Gandis Basuwedo pernah punya patih yang lebih loyal dan juga siap jadi bemper. Tapi saking loyalnya dia sampai terkena Covid-19 dan wasalam dalam tugas.

Demikianlah, Prabu Basuwedo meninggalkan istana menuju ke alun-alun kerajaan. Dia berencana membangun padupan agung di tengah alun-alun. Meski di situ sudah tumbuh dua wringin kurung nan subur, demi proyeknya mau ditebang saja. Banyak pengamat lingkungan menyarankan padupan tersebut di bangun di sisi lain, tapi Prabu Gandis Basuwedo bersikukuh, dia maunya di titik atau asnya alun-alun.

“Bukannya apa-apa, dibangun di tengah alun-alun, efeknya langsung terlihat dari kahyangan Sela Mangumpeng tempat keberadaan Betara Kala. Dari sana dia lewat CCTV bisa melihat langsung pembangunan padupan agung. Kita ingin menunjukkan bahwa memang serius membangun padupan tersebut demi keselamatan rakyat.” Kata Prabu Gadis Basuwedo.

“Itu CCTV atau teropong gethuk, kok ribet banget. Masa raja kok malah merusak planing tata ruang!” protes seseorang dari LSM bidang lingkungan.

Meskipun terasa naif sekali, pohon wringin kurung kembar itu pada akhirnya ditebang juga. Bangunan padupan atau tempat menaruh sesaji dibangun semegah mungkin. Tapi proyek itu tidak melalui lelang, hanya penunjukan belaka. Sayangnya, meskipun dikritik dari berbagai penjuru, Prabu Gandis Basuwedo bergeming. Yang capek tentu saja patih Sabrang Pawitan, lantaran sebentar-sebentar harus menjawab pertanyaan pers, malah sering pula diundang ke TV swasta untuk talkshow, tapi sebetulnya lebih tepat “diadili”.

Sementara itu di pertapan Saptaharga Begawan Abiyasa sedang ngobrol dengan para cantrik, membicarakan keadaan sehari-hari. Alhamdulillah mereka sudah divaksin semua, malah dapat “bonus” sembako lewat vaksinasi merdeka. Itu berkat kerjasama pertapan dengan pemerintahan Ngamarta. Memang, setelah tak lengser keprabon puluhan tahun lalu dari kerajaan Ngastina, Begawan Abiyasa lebih fokus pada kegiatan sosial dan amal. Dia tak mau terlibat urusan politik, apa lagi mendanai dan mengotaki terpilihnya calon Kepala Daerah.

Tiba-tiba datang tamu dari Madukara, siapa lagi kalau bukan Harjuna. Tapi beda dengan biasanya, kali ini wajahnya nampak kuyu dan mata sayu, mirip anggota DPR belum minum multi vitamin seharga Rp 3,4 juta per anggota dewan.

“Kenapa gerangan cucuku, kok kamu kelihatan sedih sekali. Apa ada masalah dengan Satgas BLBI, utangmu berapa triliun?” mantan raja Ngastina ini to the point saja.

“Alhamdulillah nggak ada Eyang. Tapi masalah ini bagi kami lebih penting ketimbang duit negara ribuan bagor yang dikemplang para obligor.” Jawab Harjuna takzim.

“Lalu apa kira-kira, kalau Eyang boleh tahu?”

“Begini Eyang, sudah beberapa minggu ini Petruk Kantongbolong menghilang dari Ngamarta. Padahal Ngamarta tanpa Petruk Kantongbolong, menjadi ada sesuatu yang hilang. Ini pertanda apa Eyang?”

Begawan Abiyasa terdiam, muka menunduk bagaikan mengheningkan cipta peringatan 10 Nopember. Lalu nasihatnya kemudian, Petruk masih tertutup warana (tabir), di mana keberadaannya hanya Sang Akarya Jagad yang tahu,  kita umat wayang tidak boleh nggege mangsa (mendahului). Tapi percayalah, pada saatnya nanti Petruk akan kembali hadir di tengah-tengah kita dengan sejumlah kejutan, tapi jelas itu bukan mercon. (Ki Guna Watoncarita).