Covid-19 Mereda, Antisipasi Gelombang ke-3

Penyebaran Covid-19 sudah mereda dan diharapkan sebentar lagi dari pandemi berubah menjadi endemi atau penyakit musiman. Namun tetap waspada, jangan euforia! Varian baru bisa saja mengintai.

KURVA penyebaran Covid-19 terus menurun dan berbagai indikator menujukkan perkembangan yang terus membaik walau tetap dituntut kesiapsiagaan untuk mengantisipasi gelombang serangan berikutnya.

Sejumlah indikator penyebaran Covid-19 juga membangkitkan optimisme, pandemi akibat virus SARS-CoV-2 yang mulai terdeteksi penyebarannya di tanah air pada 2 Maret 2020 itu sudah terkendali.

Dari angka penambahan harian kasus Covid-19, pada 13 September  tercatat 2.577 kasus, atau turun jauh dibandingkan puncaknya pada 15 Juli sebanyak 56.757 kasus, begitu pula angka kematian tinggal 276 orang dibandingkan yang tertinggi 2.069 orang pada 27 Juli.

Positivity rate (rasio jumlah korban terpapar dibandingkan jumlah yang dites) saat puncaknya Juli lalu pernah mencapai di atas 37 persen, kini  tinggal 2,17 persen atau di bawah ambang batas lima persen yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Tingkat keterisisian tempat tidur (BOR) di RS Darurat Covid-19 di Wisma Atlit Kemayoran, Jakarta pada 13 September sudah di bawah 10 persen dari kapasitas (567 pasien), padahal Juli lalu pernah sampai di atas 70 persen atau lebih 6.000 dari tptal kapasitasnya sekitar 7.000 pasien.

Namun epidemiolog Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengingatkan agar pelonggaran PPKM terutama di daerah-daerah harus terus diawasi.

“Jangan buru-buru menurunkan level PPKM. Harus dievaluasi dulu, begitu pula dengan pembukaan kembali sekolah-sekolah untuk Pembelajaran Tatap Muka, “ ujarnya.

Awasi Libur Panjang

Sementara Kabid Komunikasi Publik Satgas Covid-19 Tri Heriyanto juga mengingatkan selain monitoring terhadap pelaksanaan PJM, antisipasi lonjakan Covid-19 seperti terjadi pada libur-libur panjang sebelumnya harus dilakukan.

Ia menyebutkan event PON Papua (2 – 15 Okt), uji coba sirkuit MotoGP Mandalika di Lombok, NTB (11 – 13 Feb 2022) serta libur Natal dan Tahun Baru yang bisa memicu lonjakan penyebaran Covid-19.

Sementara Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengemukakan, aplikasi pedulilindungi  diterapkan pemerintah untuk mendeteksi penyebaran Covid-19 di ruang-ruang publik dengan cepat.

Sementara mengingat hampir seluruhnya (98 persen) penyebaran Covid-19 didominasi arian Delta (B.1.617.2) asal India, ia mengingatkan agar pintu-pintu masuk, terutama melalui jalur laut diperketat, juga karantina bagi orang-orangnya.

Program testing dan tracing juga perlu terus digalakkan, begitu pula vaksinasi yang ternyata terbukti berkontribusi besar menekan  penyebaran Covid-19 tercermin dari banyaknya orang belum divaksin yang terpapar.

Menurut catatan, program vaksinasi  sampai 12 September untuk dosis pertama sudah menjangkau lebih 73,8 juta penduduk (35,4 persen) dan dosis kedua 42,3 juta lebih (20,3 persen), hanya untuk lansia masih rendah (seitar 15 persen).

Jika pandemi bisa terkendali sepenuhnya nanti, diperkirakan Covid-19 bakal menjadi endemi yang muncul di lokasi tertentu secara musiman dan bisa disembuhkan dengan obat-obatan dari apotik atau warung di lingkungan perumahan.

Waspada dan tetap patuhi Prokes, tingkatkan testing, tracing dan percepat vaksinasi sampai tercipta “herd immunity” serta “last but not least”, jangan euforia dan lalai.

Covid masih ada!