Jepang Diminta Lebih Berani Hadapi China

Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) walaupun kecil bukan "kaleng-kaleng", dan terus diperkuat khususnya untuk menghadapi potensi ancaman raksasa, China.

MILITER Jepang perlu diperkuat sehingga memiliki nyali melawan provokasi China yang intensitasnya terus meningkat di wilayah-wilayah atau atas pulau yang masih disengketakan oleh kedua negara.

“Memiliki kemampuan mumpuni untuk melancarkan offensif adalah pilihan utama untuk memperkokoh pertahanan, “  ujar mantan Menlu Jepang Fumio Kishida yang juga salah satu dari tiga calon ketua Partai Demokrasi Liberal (LDP) dalam konferensi pers di Tokyo (13/9).

Kishida menilai, potensi konflik di sekitar Jepang kian terasa sehingga keamanan maritim dengan memperkuat kemampuan penjaga pantai yang memungkinkan mereka berkoordinasi dengan Pasukan Bela Diri (JSDF).

Pernyataan Kishida tersebut agaknya dikaitkan dengan aksi-aksi provokatif yang dilancarkan China di sekitar perairan sengketa atau dekat wilayah teritorial Jepang.

Sepanjang 2020 China tercatat 21 kali mengirimkan kapal perang ke dekat territorial Jepang dan berkali-kali mengirimkan pesawat tempurnya di atas pulau yang masih dalam sengketa.

Dalam kejadian teranyar (12/9), sebuah kapal perusak (destroyer)  berpeluncur rudal dikawal kapal selam, diduga milik AL China berlayar sekitar 700 Km dari pulau yang diklaim oleh kedua negara.

Persoalannya, berdasarkan ketentuan int’l,  kapal-kapal harus mengindentifikasi dirinya saat berlayar mendekati teritorial suatu negara dan kapal selam juga harus muncul di permukaan, tidak seperti kapal selam China tersebut.

Bukan Kaleng-kaleng

Dari sisi militer, Jepang bukan “kaleng-kaleng” walau besarnya jauh lebih kecil dibanding China, namun alutsista yang dimilikinya, baik buatan loal maupun pasokan Amerika Serikat, sekutunya  tergolong canggih.

Anggaran militer Jepang, menurut Global Firepower,  cukup tinggi, ke-6 di dunia: 51,5 miliar dollar AS (sekitar Rp721 triliun), sementara China 178,2 miliar dollar AS (sekitar Rp2,5 quadriliun) atau ranking ke-2 setelah AS 740,5 miliar dollar (sekitar 10,4 quadriliun).

Jepang juga terus memupuk kekuatan militerya, pada tahun ini menganggarkan 22 miliar dollar AS (sekitar Rp 308 triliun) untuk membeli lima kapal perang, 12 pesawat tempur generasi ke-5 buatan AS F-35 Super Lightning-II dan memproduksi pesawat sendiri.

JSDF dengan 247.000 personil, di darat a.l dilengkapi masing-masing sekitar 1.000 tank-tank tempur utama (type 9 dan 10) dan kendaraan lapis baja buatan dalam negeri, ratusan pucuk artileri tarik dan swa gerak, peluncur roket multi laras dan aneka rudal.

Matra udara JSDF didukung 279 pesawat seperti F-15 Eagle dan  F-4 Phantom (buatan AS),  lebih 600 helikopter (UH-60 Black Hawk,  CH-47 Chinook dan AH-64 Apache) serta pesawat tempur buatan lokal Mitsubishi F-2.

Pembelian 105 unit pesawat F-35 yang 42 diantaranya jenis yang  mampu take off dan landing secara vertikal untuk dioperasikan dikapal induk mulai tahun ini diharapkan bakal melipatgandakan supremasi   kekuatan udaranya.

Di laut, JSDF memiliki kapal induk Izumo dan Hyuga, 46 kapal perusak termasuk kelas Arleigh Burke buatan AS yang dilengkapi sistem rudal pertahanan udara Aegis dan kapal-kapal selam Shoryu buatan lokal.

Walau cuma disebut Pasukan Bela Diri (JSDF), pasukan Jepang terus diasah dan dipupuk karena potensi lawan yang dihadapinya yakni China dan Korea Utara juga tidak bisa dianggap enteng.

Ingin Geser AS

Sebaliknya, ambisi China menggeser posisi AS sebagai militer terkuat dunia tercermin dari anggaran militernya sebesar 178,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp2,5 quadriliun. Bandingkan dengan anggaran TNI sekitar Rp110 triliun.

China a.l mengembangkan rudal balistik antarbenua Dong Feng DF-41 yang katanya berjangkauan  15-ribu Km atau lebih sepertiga keliling bumi, mampu menyasar AS .

Selain DF-41 yang mampu membawa 10 hulu ledak dengan target berbeda dan berkecepatan 25 kali kecepatan suara, varian lain yakni DF-31 dan DF-100 didisain khusus untuk sasaran di laut termasuk kapal induk serta rudal balistik JL-2 dan JL3 yang berbasis di kapal selam.

Teknologi dirgantara China menampilkan pesawat tempur generasi kelima J-20 Chengdu yang disebut-sebut bisa disejajarkan dengan pesawat-pesawat tempur buatan AS seperti F-22 Raptor dan F-35 Super Lightning II.

China yang di era ’60-an masih mengopi paste pesawat-pesawat tempur buatan Uni Soviet seperti berbagai varian MiG (MiG-21, Mig-23 sampai MiG-29) dan juga Sukhoi SU-27 dan S-30 kini sudah mampu memproduksi sendiri seluruh komponen pesawat.

Di laut, China juga sudah mengoperasikan kapal induk Lioning buatan Ukraina yang dimodifikasi, dan sekarang sedang membangun dua kapal induk lainnya di galangan dalam negeri.

PLA yang didukung sekitar 2,7 juta personil tetap, di darat mengoperasikan 13.000 tank termasuk tank type 15 buatannya, 40.000 kendaraan tempur 10.000 pucuk artileri dan 2.000 peluncur roket.

Kekuatan udara China didukung 1.300 pesawat tempur berbagai jenis termasuk varian jiplakan MiG dan Sukhoi buatan Rusia (J-16 dari SU-27, Shenjang-15 dari SU-33) atau J-10 (imitasi F-16 buatan AS).

Sedangkan AL China selain mengoperasikan satu kapal induk, didukung 33 destroyer, 52 fregat, 42 korvet serta 76 kapal selam, sebagian bertenaga nuklir dan juga membawa rudal berhulu ledak nuklir.

Perang terbuka antara Jepang dan China agaknya tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini dan jika ada insiden kecil-kecilan agaknya cuma digunakan sekedar gertakan atau mengukur “kekuatan lawan”.   (Ap/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pesawat Bomber H-6N

Seorang pria mengambil foto Jet Komersial Embraer E190-E2 saat ditampilkan dalam Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional ke-12 China atau Airshow China 2018 di Kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, Rabu (7/11). (AP Photo/Kin Cheung)

Pesawat H-6 telah menjadi alutsista inti pembom jarak jauh Beijing selama bertahun-tahun, tetapi gambar yang diambil selama latihan untuk parade hari Selasa 1 Oktober mendatang menunjukkan apa yang bisa menjadi peningkatan signifikan dari burun tempur tersebut.

Foto yang diposting di situs media sosial di China – yang telah bermunculan di situs Barat – menunjukkan apa yang tampaknya modifikasi teknologi agar pesawat mampu membawa rudal besar.

Ini bisa berupa rudal balistik anti-kapal DF-21, menurut Joseph Trevethick, yang menulis di situs blog militer War Zone.

Kemampuan untuk membawa DF-21 akan memberikan bomber “kemampuan bertahan yang mengesankan terhadap kapal perang musuh besar, terutama kapal induk,” kata Trevethick.

Jane’s Defense Weekly mencatat pembaruan lain pada H-6N atas pendahulunya, H-6K – sebuah probe yang dipasang di hidung untuk pengisian bahan bakar udara. Itu memberi bomber kemampuan untuk terbang lebih jauh ke Pasifik dari daratan China.

Jika kedua perkembangan itu digabungkan, berarti kapal induk AS harus menjaga jarak di laut jauh selama konflik dan pesawat mereka, yang sebagian besar merupakan jet F / A-18, akan lebih sulit mencapai target.

6 dari 10 halaman

  1. Drone DR-8

Pesawat tak berawak AVIC A-Hawk II ditampilkan dalam Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional ke-12 China atau Airshow China 2018 di Kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, Selasa (6/11). (AP Photo/Kin Cheung)

Drone siluman ini menarik banyak perhatian menjelang parade, sebagian besar karena bentuknya yang ramping dan memiliki kecepatan supersonik.

Diduga mampu terbang hingga lima kali kecepatan suara, DR-8 bisa berada sangat dekat dengan kapal induk asing selama konflik dan mengirim informasi penargetan kembali ke peluncur rudal, menurut laporan.

Beberapa analis mencatat bahwa gambar satelit dari apa yang diyakini sebagai DR-8, serta benda-benda yang ditutupi terpal terlihat dalam latihan parade, menyerupai drone pengintaian supersonik D-21 militer AS, yang diperkenalkan pada 1960-an.

D-21 akan hancur sendiri setelah menjatuhkan muatan kamera beresolusi tinggi ke tangan negara sekutu. Namun, program ini dibatalkan pada tahun 1971 setelah empat pesawat hilang dalam misi selama terbang di China.

7 dari 10 halaman

  1. Drone Sharp Sword

(Ilustrasi) Suasana Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional ke-12 China atau Airshow China 2018 di Kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, Selasa (6/11). (AP Photo/Kin Cheung)

Para pengamat militer China telah mentweet gambar dari apa yang mereka perkirakan sebagai Sharp Sword, sebuah drone berbentuk sayap kelelawar yang dirancang untuk diterbangkan dari kapal induk.

Drone itu diperkirakan memiliki dua rongga bom internal dan desainnya yang tersembunyi menunjukkan bahwa itu dibuat untuk jenis perang drone yang baru, kata analis Sam Roggeveen, yang menulis di blog Interpreter milik Lowy Institute.

“Apa yang membuat Sharp Sword berbeda … adalah bahwa itu tersembunyi, yang berarti itu dibuat bukan untuk skenario tipe Afghanistan, di mana musuh dilengkapi dengan sedikit lebih dari senapan, tetapi untuk situasi di mana ia mungkin harus menghindari pertahanan udara canggih,” kata Roggeven.

Sharp Sword pertama kali diuji pada 2013, dan penampilan di parade 1 Oktober 2019 bisa menandakan bahwa itu dekat dengan misi operasi pertamanya.

Negara-negara lain, termasuk AS, telah mengembangkan drone yang bisa diterbangkan dari kapal induk. MQ-25 Stingray milik Angkatan Laut AS baru saja memulai uji terbang dengan perkiraan penempatan pada 2024 sebagai kapal tanker udara.

8 dari 10 halaman

  1. Drone Kapal Selam / Kapal Selam Nirawak

Ilustrasi drone kapal selam (sumber: Boeing) *gambar tidak merepresentasikan isi artikel

Gambar muncul secara online dari apa yang tampak seperti torpedo besar yang diangkut oleh sebuah truk.

Namun, surat kabar pemerintah Global Times mencatat kemunculan senjata itu sebagai “Kendaraan bawah air otonom (nirawak) besar. Rinciannya tetap tidak diketahui.”

Ini bisa menjadi salah satu drone bawah laut pertama China.

Sebuah laporan tahun 2015 dari lembaga think tank Rand Corporation

 

Militer China Makin Perkasa

TIDAK hanya perekonomiannya yang bersaing dan terlibat perang dagang dengan Amerika Serikat, kekuatan militer China saat ini juga sudah membayang-bayangi negara adi daya itu.

Tekad China menjadi yang terkuat di dunia, tercermin dari peningkatan 7,5 persen anggaran militer 2019 menjadi 177,5 milyar dollar AS atau sekitar Rp2.500 triliun.

Sebagai perbandingan: APBN Indonesia 2019 tercatat sekitar Rp2.460 triliun, sedangkan alokasi untuk anggaran belanja militer Rp106 triliun saja atau sekitar seperduapuluh empat anggaran militer China.

Dengan anggaran pertahanan sejumlah itu China menempati peringkat kedua terbesar dalam anggaran pertahanan di bawah AS sebesar 610 milyar dollar (sekitar Rp8.540 triliun).

Yang mengejutkan, Arab Saudi berada di posisi ke-3 dengan anggaran 69,4 milyar dollar (sekitar Rp971,6 triliun) menyalip posisi Rusia (66,3 milyar dollar atau sekitar Rp 928,2 triliun).

PM China Li Keqiang saat mengumumkan APBN China dalam sidang tahunan Kongres Rakyat Nasional, di Beijing Selasa lalu (5/3) menyampaikan lagi tekad China untuk memperkuat angkatan perang.

“Kita akan merancang strategi perang menyongsong era baru, meningkatkan latihan untuk mengkondisikan agar pasukan siap tempur dan siap melindungi kedaulatan, keamanan dan kepentingan negara, “ ujarnya.

Dalam beberapa tahun ini China tampak memang berupaya memodernisasikan kekuatan militernya sehingga mencemaskan tidak saja seteru utamanya AS tetapi juga negara-negara sekawasan.

 

Kelas Dunia     

Tekad China untuk mengubah tentara rakyat menjadi militer kelas dunia dan mengejar teknologi dari AS dan negara-negara Eropah kerap dilontarkan oleh Presiden China Xi Jinping dalam berbagai kesempatan.

Sosok militer China juga membuat ketar-ketir sejumlah negara yang memiliki klaim teritorial di Laut China Selatan seperti Brunei, Filipina,  Malaysia, Taiwan dan Vietnam, juga Jepang.

AL China saat ini mengoperasikan satu kapal induk Liao Ning yang diteruskan pembuatannya  galangan Ukraina, dan sedang membangun sendiri kapal induk (type 001A) sepenuhnya buatan dalam negeri.

AL China saat ini juga diperkuat 79 kapal selam, empat diantaranya betenaga nuklir buatan sendiri dan mengembangkan rudal balistik Dong Feng (DF-21) yang bisa membawa   hulu ledak untuk menghancurkan kapal induk lawan.

Pesawat tempur generasi ke-5 berkemampuan siluman yang dikembangkan China J-20 Cheng Du atau Elang Hitam dikabarkan keandalannya menyamai pesawat mutakhir A-22 Raptor dan F-35 Lightening buatan AS.

Seperti halnya China, Indonesia, negara maritim dengan sekitar 17.000 pulau juga memerlukan angkatan perang yang kuat dan solid untuk menjaga kedaulatannya. (Sumber: Kantor-kanto Berita Transnasional)

 

 

 

 

 

 

 

Jepang Diminta Lebih Berani Hadapi China

MILITER Jepang perlu diperkuat sehingga memiliki nyali melawan provokasi China yang intensitasnya terus meningkat di wilayah-wilayah atau atas pulau yang masih disengketakan oleh kedua negara.

“Memiliki kemampuan mumpuni untuk melancarkan offensif adalah pilihan utama untuk memperkokoh pertahanan, “  ujar mantan Menlu Jepang Fumio Kishida yang juga salah satu dari tiga calon ketua Partai Demokrasi Liberal (LDP) dalam konferensi pers di Tokyo (13/9).

Kishida menilai, potensi konflik di sekitar Jepang kian terasa sehingga keamanan maritim dengan memperkuat kemampuan penjaga pantai yang memungkinkan mereka berkoordinasi dengan Pasukan Bela Diri (JSDF).

Pernyataan Kishida tersebut agaknya dikaitkan dengan aksi-aksi provokatif yang dilancarkan China di sekitar perairan sengketa atau dekat wilayah teritorial Jepang.

Sepanjang 2020 China tercatat 21 kali mengirimkan kapal perang ke dekat territorial Jepang dan berkali-kali mengirimkan pesawat tempurnya di atas pulau yang masih dalam sengketa.

Dalam kejadian teranyar (12/9), sebuah kapal perusak (destroyer)  berpeluncur rudal dikawal kapal selam, diduga milik AL China berlayar sekitar 700 Km dari pulau yang diklaim oleh kedua negara.

Persoalannya, berdasarkan ketentuan int’l,  kapal-kapal harus mengindentifikasi dirinya saat berlayar mendekati teritorial suatu negara dan kapal selam juga harus muncul di permukaan, tidak seperti kapal selam China tersebut.

Bukan Kaleng-kaleng

Dari sisi militer, Jepang bukan “kaleng-kaleng” walau besarnya jauh lebih kecil dibanding China, namun alutsista yang dimilikinya, baik buatan loal maupun pasokan Amerika Serikat, sekutunya  tergolong canggih.

Anggaran militer Jepang, menurut Global Firepower,  cukup tinggi, ke-6 di dunia: 51,5 miliar dollar AS (sekitar Rp721 triliun), sementara China 178,2 miliar dollar AS (sekitar Rp2,5 quadriliun) atau ranking ke-2 setelah AS 740,5 miliar dollar (sekitar 10,4 quadriliun).

Jepang juga terus memupuk kekuatan militerya, pada tahun ini menganggarkan 22 miliar dollar AS (sekitar Rp 308 triliun) untuk membeli lima kapal perang, 12 pesawat tempur generasi ke-5 buatan AS F-35 Super Lightning-II dan memproduksi pesawat sendiri.

JSDF dengan 247.000 personil, di darat a.l dilengkapi masing-masing sekitar 1.000 tank-tank tempur utama (type 9 dan 10) dan kendaraan lapis baja buatan dalam negeri, ratusan pucuk artileri tarik dan swa gerak, peluncur roket multi laras dan aneka rudal.

Matra udara JSDF didukung 279 pesawat seperti F-15 Eagle dan  F-4 Phantom (buatan AS),  lebih 600 helikopter (UH-60 Black Hawk,  CH-47 Chinook dan AH-64 Apache) serta pesawat tempur buatan lokal Mitsubishi F-2.

Pembelian 105 unit pesawat F-35 yang 42 diantaranya jenis yang  mampu take off dan landing secara vertikal untuk dioperasikan dikapal induk mulai tahun ini diharapkan bakal melipatgandakan supremasi   kekuatan udaranya.

Di laut, JSDF memiliki kapal induk Izumo dan Hyuga, 46 kapal perusak termasuk kelas Arleigh Burke buatan AS yang dilengkapi sistem rudal pertahanan udara Aegis dan kapal-kapal selam Shoryu buatan lokal.

Walau cuma disebut Pasukan Bela Diri (JSDF), pasukan Jepang terus diasah dan dipupuk karena potensi lawan yang dihadapinya yakni China dan Korea Utara juga tidak bisa dianggap enteng.

Ingin Geser AS

Sebaliknya, ambisi China menggeser posisi AS sebagai militer terkuat dunia tercermin dari anggaran militernya sebesar 178,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp2,5 quadriliun. Bandingkan dengan anggaran TNI sekitar Rp110 triliun.

China a.l mengembangkan rudal balistik antarbenua Dong Feng DF-41 yang katanya berjangkauan  15-ribu Km atau lebih sepertiga keliling bumi, mampu menyasar AS .

Selain DF-41 yang mampu membawa 10 hulu ledak dengan target berbeda dan berkecepatan 25 kali kecepatan suara, varian lain yakni DF-31 dan DF-100 didisain khusus untuk sasaran di laut termasuk kapal induk serta rudal balistik JL-2 dan JL3 yang berbasis di kapal selam.

Teknologi dirgantara China menampilkan pesawat tempur generasi kelima J-20 Chengdu yang disebut-sebut bisa disejajarkan dengan pesawat-pesawat tempur buatan AS seperti F-22 Raptor dan F-35 Super Lightning II.

China yang di era ’60-an masih mengopi paste pesawat-pesawat tempur buatan Uni Soviet seperti berbagai varian MiG (MiG-21, Mig-23 sampai MiG-29) dan juga Sukhoi SU-27 dan S-30 kini sudah mampu memproduksi sendiri seluruh komponen pesawat.

Di laut, China juga sudah mengoperasikan kapal induk Lioning buatan Ukraina yang dimodifikasi, dan sekarang sedang membangun dua kapal induk lainnya di galangan dalam negeri.

PLA yang didukung sekitar 2,7 juta personil tetap, di darat mengoperasikan 13.000 tank termasuk tank type 15 buatannya, 40.000 kendaraan tempur 10.000 pucuk artileri dan 2.000 peluncur roket.

Kekuatan udara China didukung 1.300 pesawat tempur berbagai jenis termasuk varian jiplakan MiG dan Sukhoi buatan Rusia (J-16 dari SU-27, Shenjang-15 dari SU-33) atau J-10 (imitasi F-16 buatan AS).

Sedangkan AL China selain mengoperasikan satu kapal induk, didukung 33 destroyer, 52 fregat, 42 korvet serta 76 kapal selam, sebagian bertenaga nuklir dan juga membawa rudal berhulu ledak nuklir.

Perang terbuka antara Jepang dan China agaknya tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini dan jika ada insiden kecil-kecilan agaknya cuma digunakan sekedar gertakan atau mengukur “kekuatan lawan”.          (Ap/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pesawat Bomber H-6N

Seorang pria mengambil foto Jet Komersial Embraer E190-E2 saat ditampilkan dalam Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional ke-12 China atau Airshow China 2018 di Kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, Rabu (7/11). (AP Photo/Kin Cheung)

Pesawat H-6 telah menjadi alutsista inti pembom jarak jauh Beijing selama bertahun-tahun, tetapi gambar yang diambil selama latihan untuk parade hari Selasa 1 Oktober mendatang menunjukkan apa yang bisa menjadi peningkatan signifikan dari burun tempur tersebut.

Foto yang diposting di situs media sosial di China – yang telah bermunculan di situs Barat – menunjukkan apa yang tampaknya modifikasi teknologi agar pesawat mampu membawa rudal besar.

Ini bisa berupa rudal balistik anti-kapal DF-21, menurut Joseph Trevethick, yang menulis di situs blog militer War Zone.

Kemampuan untuk membawa DF-21 akan memberikan bomber “kemampuan bertahan yang mengesankan terhadap kapal perang musuh besar, terutama kapal induk,” kata Trevethick.

Jane’s Defense Weekly mencatat pembaruan lain pada H-6N atas pendahulunya, H-6K – sebuah probe yang dipasang di hidung untuk pengisian bahan bakar udara. Itu memberi bomber kemampuan untuk terbang lebih jauh ke Pasifik dari daratan China.

Jika kedua perkembangan itu digabungkan, berarti kapal induk AS harus menjaga jarak di laut jauh selama konflik dan pesawat mereka, yang sebagian besar merupakan jet F / A-18, akan lebih sulit mencapai target.

6 dari 10 halaman

  1. Drone DR-8

Pesawat tak berawak AVIC A-Hawk II ditampilkan dalam Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional ke-12 China atau Airshow China 2018 di Kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, Selasa (6/11). (AP Photo/Kin Cheung)

Drone siluman ini menarik banyak perhatian menjelang parade, sebagian besar karena bentuknya yang ramping dan memiliki kecepatan supersonik.

Diduga mampu terbang hingga lima kali kecepatan suara, DR-8 bisa berada sangat dekat dengan kapal induk asing selama konflik dan mengirim informasi penargetan kembali ke peluncur rudal, menurut laporan.

Beberapa analis mencatat bahwa gambar satelit dari apa yang diyakini sebagai DR-8, serta benda-benda yang ditutupi terpal terlihat dalam latihan parade, menyerupai drone pengintaian supersonik D-21 militer AS, yang diperkenalkan pada 1960-an.

D-21 akan hancur sendiri setelah menjatuhkan muatan kamera beresolusi tinggi ke tangan negara sekutu. Namun, program ini dibatalkan pada tahun 1971 setelah empat pesawat hilang dalam misi selama terbang di China.

7 dari 10 halaman

  1. Drone Sharp Sword

(Ilustrasi) Suasana Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional ke-12 China atau Airshow China 2018 di Kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, Selasa (6/11). (AP Photo/Kin Cheung)

Para pengamat militer China telah mentweet gambar dari apa yang mereka perkirakan sebagai Sharp Sword, sebuah drone berbentuk sayap kelelawar yang dirancang untuk diterbangkan dari kapal induk.

Drone itu diperkirakan memiliki dua rongga bom internal dan desainnya yang tersembunyi menunjukkan bahwa itu dibuat untuk jenis perang drone yang baru, kata analis Sam Roggeveen, yang menulis di blog Interpreter milik Lowy Institute.

“Apa yang membuat Sharp Sword berbeda … adalah bahwa itu tersembunyi, yang berarti itu dibuat bukan untuk skenario tipe Afghanistan, di mana musuh dilengkapi dengan sedikit lebih dari senapan, tetapi untuk situasi di mana ia mungkin harus menghindari pertahanan udara canggih,” kata Roggeven.

Sharp Sword pertama kali diuji pada 2013, dan penampilan di parade 1 Oktober 2019 bisa menandakan bahwa itu dekat dengan misi operasi pertamanya.

Negara-negara lain, termasuk AS, telah mengembangkan drone yang bisa diterbangkan dari kapal induk. MQ-25 Stingray milik Angkatan Laut AS baru saja memulai uji terbang dengan perkiraan penempatan pada 2024 sebagai kapal tanker udara.

8 dari 10 halaman

  1. Drone Kapal Selam / Kapal Selam Nirawak

Ilustrasi drone kapal selam (sumber: Boeing) *gambar tidak merepresentasikan isi artikel

Gambar muncul secara online dari apa yang tampak seperti torpedo besar yang diangkut oleh sebuah truk.

Namun, surat kabar pemerintah Global Times mencatat kemunculan senjata itu sebagai “Kendaraan bawah air otonom (nirawak) besar. Rinciannya tetap tidak diketahui.”

Ini bisa menjadi salah satu drone bawah laut pertama China.

Sebuah laporan tahun 2015 dari lembaga think tank Rand Corporation

 

Militer China Makin Perkasa

TIDAK hanya perekonomiannya yang bersaing dan terlibat perang dagang dengan Amerika Serikat, kekuatan militer China saat ini juga sudah membayang-bayangi negara adi daya itu.

Tekad China menjadi yang terkuat di dunia, tercermin dari peningkatan 7,5 persen anggaran militer 2019 menjadi 177,5 milyar dollar AS atau sekitar Rp2.500 triliun.

Sebagai perbandingan: APBN Indonesia 2019 tercatat sekitar Rp2.460 triliun, sedangkan alokasi untuk anggaran belanja militer Rp106 triliun saja atau sekitar seperduapuluh empat anggaran militer China.

Dengan anggaran pertahanan sejumlah itu China menempati peringkat kedua terbesar dalam anggaran pertahanan di bawah AS sebesar 610 milyar dollar (sekitar Rp8.540 triliun).

Yang mengejutkan, Arab Saudi berada di posisi ke-3 dengan anggaran 69,4 milyar dollar (sekitar Rp971,6 triliun) menyalip posisi Rusia (66,3 milyar dollar atau sekitar Rp 928,2 triliun).

PM China Li Keqiang saat mengumumkan APBN China dalam sidang tahunan Kongres Rakyat Nasional, di Beijing Selasa lalu (5/3) menyampaikan lagi tekad China untuk memperkuat angkatan perang.

“Kita akan merancang strategi perang menyongsong era baru, meningkatkan latihan untuk mengkondisikan agar pasukan siap tempur dan siap melindungi kedaulatan, keamanan dan kepentingan negara, “ ujarnya.

Dalam beberapa tahun ini China tampak memang berupaya memodernisasikan kekuatan militernya sehingga mencemaskan tidak saja seteru utamanya AS tetapi juga negara-negara sekawasan.

 

Kelas Dunia     

Tekad China untuk mengubah tentara rakyat menjadi militer kelas dunia dan mengejar teknologi dari AS dan negara-negara Eropah kerap dilontarkan oleh Presiden China Xi Jinping dalam berbagai kesempatan.

Sosok militer China juga membuat ketar-ketir sejumlah negara yang memiliki klaim teritorial di Laut China Selatan seperti Brunei, Filipina,  Malaysia, Taiwan dan Vietnam, juga Jepang.

AL China saat ini mengoperasikan satu kapal induk Liao Ning yang diteruskan pembuatannya  galangan Ukraina, dan sedang membangun sendiri kapal induk (type 001A) sepenuhnya buatan dalam negeri.

AL China saat ini juga diperkuat 79 kapal selam, empat diantaranya betenaga nuklir buatan sendiri dan mengembangkan rudal balistik Dong Feng (DF-21) yang bisa membawa   hulu ledak untuk menghancurkan kapal induk lawan.

Pesawat tempur generasi ke-5 berkemampuan siluman yang dikembangkan China J-20 Cheng Du atau Elang Hitam dikabarkan keandalannya menyamai pesawat mutakhir A-22 Raptor dan F-35 Lightening buatan AS.

Seperti halnya China, Indonesia, negara maritim dengan sekitar 17.000 pulau juga memerlukan angkatan perang yang kuat dan solid untuk menjaga kedaulatannya. (Sumber: Kantor-kanto Berita Transnasional)