Nama Sama Rejeki Beda

Joko Widodo-Delanggu sangat beruntung, tanpa harus menjawab kuis dapat uang banyak dari Presiden Jokowi.

NAMA seseorang sama, sebetulnya hal biasa, apa lagi jika itu nama pasaran. Tapi jika kesamaan nama itu menyangkut tokoh penting,  dan tanpa sengaja dipertemukan, akan menjadi hal menarik. Dan ini terjadi Senin siang (13/09) kemarin. Saat Presiden Jokowi meninjau vaksinasi rakyat di Desa Segaran Kecamatan Delanggu Klaten (Jateng), eh…..ketemu warga yang tengah antri vaksinasi, ternyata bernama sama, yakni Joko Widodo. Cuma rejeki saja yang beda, Joko Widodo asal Solo jadi Presiden RI ke-7 sedangkan Joko Widodo Delanggu hanya tukang pande besi.

Hari itu Presiden Jokowi didampingi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sedang meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dari pintu ke pintu (door to door) di dukuh Ngledok. Melihat anak muda duduk pakai kursi plastik merah dengan pakai masker bercorak hitam garis putih dan face shield, Presiden Jokowi menghampirinya. Terjadi dialog keduanya. Anak muda itu berkaca-kaca matanya. Dia gembira sekali disapa orang nomer satu di Indonesia. Sejak semalam dia tak bisa tidur, karena bakal melihat presiden secara dekat dan langsung. Eh….malah disapa sekalian.

Tiba-tiba Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bertanya, siapa namamu Mas?  Jawab anak muda itu, “Joko Widodo, Pak!” Orang pun tertawa, termasuk Presiden Jokowi sendiri. Beliaunya terkejut, karena ternyata di kampung itu ada warga yang bernama sama dengan dirinya. Gubernur Ganjar  pun segera menimpali, “Wah, di sini ada saudara kembarnya ya?”

Joko Widodo-Delanggu layak terharu, jarang ada kesempatan bisa bertemu dengan presiden. Dia bukan pejabat tinggi negara, karena meski orang pandai hanyalah pandai (pande) besi belaka, kerjanya menempa besi untuk dijadikan golok atau pacul. Tapi karena presiden RI ke-7 ini sangat merakyat, dia bisa ketemu langsung tanpa penjagaan ketat.

Di masa Orde Baru sebenarnya rakyat ketemu Presiden Soeharto juga bisa terjadi, tapi itu lewat protokol ketat, orangnya pun sudah diseleksi  dan konon pertanyaan pada Pak Harto sudah distel. Biasanya kesempatan ini ada ketika Presiden Soeharto temu wicara di suatu tempat, disaksikan oleh menteri, gubernur dan bupatinya daerah itu. Lalu malam harinya disiarkan di TVRI secara nasional.

Ketika Orde Baru berjaya, Joko Widodo-Delanggu masih anak-anak atau bahkan mungkin masih berada di pucuk pring (baca: belum lahir). Dan di masa dewasanya kini, dia berkesempatan disapa oleh Presiden Joko Widodo, yang priyayi-ya memang merakyat. Setidaknya, setelah ketemu presiden dan kebetulan nama sama, Joko Widodo-Delanggu akan viral di lingkungannya. Dia akan jadi topik pembahasan dalam setiap obrolan warga.

Nama Joko Widodo memang termasuk nama pasaran, sehingga ombyokan orang Jawa bernama itu. Karena nama adalah sebuah doa, orangtuanya saat bayi itu lahir berharap semoga anaknya jadi pemuda atau orang yang selalu selamat. Sebab jaka mengandung makna pemuda, dan widada berarti selamat. Tapi dalam kamus Jawa, kosa kata widada bisa juga bermakna selama-lamanya. Tentu saja orangtuanya tak pernah berharap bayi lelakinya itu nanti jadi perjaka tua!

Karena nama adalah harapan, maka orang bernama Tirto Utama ternyata sukses jadi pengusaha air mineral. Nama Jaya Wahono berhasil jadi pengusaha angkutan, karena wahana dalam bahasa Kawi artinya: kendaraan. Diberi nama Sri Wilujeng ternyata jarang sakit, usianya sampai 80 tahun lebih. Tapi banyak juga doa orangtua yang tak terkabul, diberi nama Slamet masih boca sudah keburu meninggal karena kecelakaan. Jika hanya luka-luka masih mending, sebab bisa diganti nama lain, misalnya dari Latono menjadi Sarino, atau Kuncung menjadi Bawuk.

Akan halnya Joko Widodo-Delanggu, meski tak jadi presiden, diharapkan dari tukang pandai besi bisa meningkat jadi pengusaha apalah. Apa lagi dia sudah dapat modal dari Presiden Jokowi, gara-gara bernama sama. Uang pemberian presiden yang jumlahnya dirahasiakan, bisa untuk mengembangkan usahanya. Dia sangatlah beruntung. Tanpa menjawab kuis nama ikan atau suku-suku di Indonesia, dia dapat uang banyak bukan hanya sekedar sepeda. (Cantrik Metaram).