Survei IDEAS: 30 Persen Masyarakat Kehilangan Kerabat Saat Gelombang Kedua Pandemi

Petugas pemakaman di sejumlah wilayah di Jawa harus kerja ekstra keras akibat membludaknya korban Covid-19 yang meninggal tiap hari. Pemerintah memberlakukan PPKM Darurat di 122 kabupaten/kota di Jawa dan Bali dari 3 sampai 20 Juli demi memutus rantai penyebaran Covid-19.

JAKARTA – Survei lembaga riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) mengungkapkan dalam 3 bulan terakhir sebanyak 29,8 persen masyarakat mengaku ada kerabat dekat mereka yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19 saat gelombang kedua pandemi, Juli 2021 lalu.

Kerabat dekat yang dimaksud adalah bapak-ibu mertua, kakak-adik ipar, kakek-nenek, paman-bibi, dan sepupu.

“Selain itu 5,9 persen masyarakat mengaku ada anggota keluarga inti mereka yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19,” kata Yusuf Wibisono, Direktur IDEAS dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (15/9/2021).

Yusuf menambahkan sebanyak 60,8 persen responden mengaku ada tetangga atau teman dekat mereka yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19.

“Bahkan, secara mengejutkan, dalam 3 bulan terakhir sebanyak 30,6 persen responden mengaku ada tetangga, teman dekat, kerabat, atau anggota keluarga mereka yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19 tanpa mendapat perawatan di rumah sakit,” ucap Yusuf.

Temuan ini mengkonfirmasi berbagai pemberitaan tentang banyaknya kasus kematian Covid-19 di luar RS. Lapor Covid-19, per 7 Agustus 2021, melaporkan kematian isolasi mandiri dan di luar rumah sakit mencapai 3.013 kasus di 18 provinsi.

“Secara umum, temuan survei kami menunjukkan bahwa pengalaman kehilangan orang yang dicintai yang dialami masyarakat di tengah pandemi yang tidak terkendali adalah signifikan,” ujar Yusuf.

Survei tentang pengalaman ketidakamanan pandemi (pandemic insecurity experience) itu digelar IDEAS secara daring pada 29 Juli–30 Agustus 2021 dan berhasil mendapatkan 1.764 responden yang tersebar di 33 provinsi dan 209 kabupaten-kota.

Meski demikian, survei tersebut didominasi kelas menengah yaitu 88,2 persen responden berpendidikan diatas SMA (diploma, S1 dan S2-S3) dan 45,2 persen responden berpenghasilan rata-rata diatas Rp 5 juta per bulan.

Serta didominasi masyarakat perkotaan Jawa dimana 87,1 persen responden bertempat tinggal di Jawa dengan 57,7 persen diantaranya berlokasi di Jabodetabek.

Dalam pandemic insecurity experience scale yang dikembangkan IDEAS, pengalaman masyarakat kehilangan orang yang dicintai di tengah pandemi yang tidak terkendali diukur dengan 4 indikator.

Indikator yang dimaksud yaitu tetangga/teman dekat meninggal karena terpapar virus, kerabat meninggal karena terpapar virus, anggota keluarga inti meninggal karena terpapar virus, dan meninggal karena terpapar virus tanpa mendapat perawatan di RS.

“Dengan 4 indikator ini, pengalaman masyarakat kehilangan orang yang dicintai di tengah gelombang ke-2 terkonfirmasi dengan kuat. Sebesar 70,1 persen responden mengaku pernah mengalami setidaknya salah satu dari 4 indikator diatas, dengan 3,2 persen diantaranya mengaku pernah mengalami 4 indikator diatas sekaligus,” ucap Yusuf.

Menurut Yusuf Secara keseluruhan, temuan survei lembaganya menunjukkan bahwa ketidakamanan yang dirasakan masyarakat di tengah pandemi adalah sangat serius.

“Dalam situasi pandemi, kebijakan yang paling dibutuhkan dan diharapkan adalah melindungi setiap nyawa anak bangsa. Tiada artinya perputaran uang dan pertumbuhan ekonomi jika hal itu akan membunuh kita. Pertumbuhan ekonomi hanyalah alat, tujuan akhir yang harus dikejar adalah kualitas dan kebahagiaan hidup masyarakat, dimana faktor terpenting yang berkontribusi untuk itu adalah tetap hidup, tidak mati karena pandemi,” tutup Yusuf.