Keselamatan Komodo atau Pariwisata?

Pilihan antara pengembangan Taman Nasional Komodo dan pelestarian satwa liar yang dilindungi dunia tersebut merupakan persoalan dilematis.

OPSI antara perlindungan bagi komodo yang merupakan satwa langka di dunia yang habitatnya hanya ada di P. Komodo dan sekitarnya dan pengembangan wisata di wilayah tersebut sangat dilematis karena di lapangan kedua program sering berbenturan.

Padahal, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Zeth Sonny Libing kepada Kompas (15/9),  perlindungan terhadap komodo dan pengembangan pariwisata di NTT tidak bisa dipisahkan. “Tanpa komodo, pariwisata NTT nggak bakal maju, “ ujarya.

Perlindungan antara lain berupa pengamanan satwa yang hidup di alam bebas di wilayah itu dari pencurian serta menjamin pasokan pakan komodo yakni babi hutan dan rusa yang juga hidup liar di sana.

Yang juga penting, lanjutnya, memastikan proyek penataan lokasi di Taman Nasional Kmodo (TNK) yang sedang dikerjakan saat ini tidak menjadi tekanan bagi habitat komodo.

Sementara terkait pembangunan dermaga di P. Rinca seluas 3,1 Ha dari total luas pulau 580 Ha yang menjadi sorotan, menurut dia, sudah mempertimbangkan aspek keamanan bagi habitat satwa langka itu.

Berdasarkan catatan Kementerian LH dan Kehutanan pada 2018, tercatat ada 3.022 ekor komodo, sebagian besar di P. Komodo, dan P. Rinca, selebihnya di P. Padar (tujuh ekor), P. Gili Motang (69 ekor), dan Nusa Kode (91 ekor).

Tak kurang dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) meminta penundaan sementara pembangunan infrastruktur di TNK yang masuk daftar situs warisan dunia pada 1991 sampai ada hasil kajian lebih lanjut.

TNK seluas 730.000 HA ditetapkan sebagai taman nasional pada 6 Maret 1980  bertujuan untuk menjaga kelestarian komodo, namun  seiring penetapan Labuan Bajo sebagai kawasan strategis pariwisata nasional, pembangunan infrastruktur di wilayah itu terus dipacu.

Saat ini ada enam investor di kawasan TNK yakni di P. Komodo, P. Tatawar dan P. Padar, sedangkan proyek pembangunan resor sarana penunjang di P. Rinca sudah selesai 70 persen.

Menurut pegiat pariwisata konvensi di TNK Doni Parera, ancaman bagi komodo tak hanya akibat perubahan iklim tetapi tetapi juga oleh proyek penataan yang dilakukan di P. Rinca.

Satwa komodo sendiri berdasarkan hasil kongres UNESCO di Paris pada 21 September, 2021 ditingkatkan statusnya ke dalam daftar merah satwa terancam punah dari status rentan sebelumnya.

Menyelamatkan komodo atau mengembangkan pariwisata? Keduanya harus berjalan seiring, walau hal itu cuma mudah diomongkan, sulit dijalankan.