Aliansi Baru di Indo-Pasifik

Australia, AS dan Inggeris membentuk aliansi militer termasuk membantu Australia membangun delapan kapal selam nuklir, kemungkinan guna mengimbangi armada laut China yang semakin akif di Laut China Sealatan.

INDONESIA sebagai negara yang menganut politik bebas aktif harus berhati-hati dan tidak terjebak dengan pembentukan aliansi baru di Kawasan Indo-Pasifik seperti dilakukan Australia, Amerika Serikat dan Inggeris.

Kemlu RI dalam siaran pers, Jumat lalu (17/9) a.l. menyatakan, RI mencermati dengan penuh kehati-hatian terkait kesepakatan antara Australia, Amerika Serikat dan Inggeris untuk membentuk aliansi militer bersama.

Pembentukan aliansi dinamai AUKUS tersebut (Australia, United Kingdom dan AS) diumumkan oleh Presiden AS Joe Biden, PM Inggeris Boris Johnson dan PM Australia Scott Morison

RI menekankan pada Australia kewajiban negara itu untuk ikut ambil bagian dalam pengendalian persenjataan nuklir demi terciptanya kedamaian, stabilitas dan keamanan kawasan dan mengingatkan semua pihak untuk menghomati hukum int’l termasuk Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982.

“Kami prihatin dengan terus berlanjutnya perlombaan senjata dan pemupukan kekuatan militer di Kawasan ini, “ demikian isi pernyataan Kemlu RI.

Dikhawatirkan, pembentukan blok blok militer baru hanya akan menciptakan eskalasi sengketa dan perebutan hegemoni antara Barat dipimpin AS dan China di wilayah Laut China Selatan (LCS) seperti situasi yang terjadi di era Perang Dingin lalu.

Salah satu butir kesepakatan dalam pembentukan aliansi antara AS, Australia dan Inggeris tersebut yang dicemaskan China adalah rencana pembangunan delapan kapal selam bertenaga nuklir untuk Australia.

Respons Aksi China

China sendiri akhir-akhir ini cukup proaktif mengirimkan kapal-kapal perang dan satuan Cost Guard sesuai dengan klaim sepihak yang disebutnya sebagai wilayah operasi nelayan tradisional yang di peta tampak sebagai Sembilan Garis Putus-putus (nine dash line) walau klaim tersebut ditolak PBB.

Pembentukan aliansi antara Australia, AS dan Inggeris tersebut diduga erat kaitannya dengan semakin aktifnya kegiatan armada China di LCS sehingga mereka bersepakat mengantisipasi ancaman tersebut.

Selain China, runei, Malaysia, Filipina dan Vietnam yang juga mengklaim sebagian pula atau perairan LCS sebagai wilayah teritorial kedaulatan mereka.

Bahkan kapal perusak China Kunming dengan nomor lambung 172 bersama lima kapal lainnya terpantau oleh nelayan lokal berada di perairan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia 13 Sept. lalu.

China sendiri mengecam pakta pertahanan ketiga negara itu yang digambarkannya sebagai kolaborasi sikap sangat tidak bertanggung jawab” dan berpikiran sempit”.

Jubir Kemlu China, Zhao Lijian mennilai, aliansi tiga negara itu berisiko “sangat merusak perdamaian regional dan memicu perlombaan senjata dan mengingatkan, kesepakatan itu merugikan mereka sendiri.

“Ini bentuk Parang Dingin yang sudah usang, “ tuturnya.

Sejauh ini, negara yang memiliki armada kapal selam nuklir yakni AS 68 unit (14 kapal selam nuklir dengan pesenjataan rudal balistik nuklir/54 kapal selam nuklir lainnya),  Rusia 29 unit (11 dan 18),China (6/6), Inggeris (4/7), Perancis (4/4) dan India satu unit.

Adu-adu otot dengan menampilkan kekuatan militer di era globalisasi dan kemitraaan saat ini terkesan kemunduran atau memutar balik arah perputaran waktu.