Pandemi Harta Bersemi

Orang DPR meskipun gajinya sudah ratusan juga, untuk multi vitamin saja masih minta pada negara.

BESAR atau kecil, semua rejeki itu pemberian Allah Swt, umat tinggal mensyukuri dan menikmati. Dan jika Allah menghendaki, pembagian rejeki kadang tak masuk akal. Misalnya pada kondisi sekarang ini. Sudah setahun lebih kita diteror wabah Corona, tapi pada kenyatannnya banyak orang yang hartanya naik berlipat di masa pandemi ini, padahal dia bukanlah Youtuber handal. Aneh kan, di masa pendemi harta malah bisa tambah bersemi.

Ini setidaknya menurut Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan. Beberapa hari lalu dalam sebuah webinar dia mengungkapkan bahwa selama pandemi Corona ini 70 persen kekayaan pejabat negara bertambah. Bisa disebut, mereka adalah presiden, sejumlah mentri dan anggota dewan. Hanya 3 persen menteri yang melaporkan kekayaannya turun. Kekayaan mereka bisa dimonitor lewat LHKPN yang diserahkan ke KPK setiap tahun.

Tahun 2019, kekayaan Presiden Jokowi tercatat Rp 54.718.200.893.- Tapi tahun 2020 yang kemudian dilaporkan ke KPK 12 Maret 2021, telah menjadi Rp 63.616.935.818,-. Berarti ada kenaikan sekitar Rp 8,8 miliar. Sedang menterinya, seperti Menag Yaqut Kholil Coumas, dari Rp. 936.000.000,- (sebelum jadi menteri) meningkat 10 kali lipat menjadi Rp. 11.158.093.639,- atau 10 kali lipat dalam tempo 9 bulan jadi menteri.

Bagi rakyat kebanyakan, kenaikan harta sampai segitu, sudah bikin woww…… Maklumah, orang kecil jarang melihat uang miliaran, kecuali yang baru dapat ganti untung proyek tol di Sleman DIY, atau proyek Pertamina di Paiton, Probolinggo (Jatim). Golongan si kaya dan si miskin inilah yang kemudian disindir Rhoma Irama dengan lagunya, “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin (lagu Indonesia).”

Sebetulnya jika mengikuti standar Badan Pusat Statistik (BPS), orang Indonesia sudah berjuta-juta bisa disebut kaya. Sebab definisi mereka, orang miskin adalah yang punya penghasilan di bawah Rp 500.000,- sebulan. Padahal realitanya, punya penghasilan Rp 1 juta pun dalam sebulan, menu makan sehari-hari bagaikan lagu “Bandar Jakarta” kaya Menpen Maladi era Bung Karno, “Awan lembayung, sore kangkung…….!”

Kekayaan Presiden Jokowi dan Menag Gus Yaqut tak urung jadi sorotan medsos. Eks Menpora Roy Suryo misalnya, mempertanyakan bagaimana caranya harta Presiden Jokowi naik Rp 8,8 miliar dalam waktu setahun. Lalu priyayi Pakualaman tapi rupanya kurang pengalaman itu kemudian diajari Youtuber Alifurachman tentang bedanya penghasilan dan aset.

Adapun Menag Gus Yaqut ternyata, kekayaan yang meledak itu terjadi ketika dia telah menjadi anggota DPR. Ini memang jabatan yang banyak dimimpikan para politisi. Sampai-sampai Harun Masiku politisi PDIP hendak “membajak” suara kader lainnya dengan memperalat orang KPU. Tapi hasilnya, dia sendiri yang “menyublim” alias hilang entah ke mana.

Secara tak langsung politisi PDIP Krisdayanti telah menjelaskan pertanyaan publik atas kekayaan Gus Yaqut. Berdasarkan pengalaman sendiri selama menjadi anggota dewan, rejekinya sambung-menyambung tiada henti. Setiap minggu ada transveran masuk yang jumlahnya berjut-jut. Tanggal 1 tit…..ada masuk Rp 16 juta, tanggal 5 masuk lagi Rp 59 juta. Belum lagi dana aspirasi Rp 450 juta kali 5 dalam waktu setahun. Anehnya, duitnya sudah bejibun anggota DPR itu hanya soal multi vitamin saja masih minta pada negara.

Sebetulnya pejabat menjadi kaya itu hal yang lumrah saja, sebab orang jadi pejabat kebanyakan kan karena kepengin kaya. Jarang orang yang mau jadi pejabat dengan motif untuk mengabdi pada rakyatnya. Kebanyakan sih, mengabdi untuk rakyat hanya slogan menjelang Pilkada atau Pileg. Setelah terpilih, janji-janji itu kebanyakan wasalam…….

Yang kini banyak terjadi, ketika menjadi pejabat merangkap jadi penjahat. Bukan menodong dan merampok harta orang di jalan atau rumah secara langsung, tapi merampok pakai tanda tangan di atas meja, tapi duitnya diterima di bawah meja. Ini yang menjadi salah satu penyebab pejabat di masa pandemi hartanya terus bersemi. Tapi ingat janji Allah tak pernah meleset, sapa salah bakal seleh.

Sudah ombyokan pejabat jadi penjahat yang dikandangi KPK. Untuk Kepala Daearah saja jumlanya sudah lebih dari 302 sejak KPK berdiri tahun 2004. Belum yang anggota DPR, DPRD, bahkan menteri pun ikut-ikutan pula. Bayangkan, di Kemensos ada 2 menterinya jadi pasien KPK. Yuliari Batubara kesrimpet Bansos, dan Idrus Marham kesandung proyek PLTU Riau-1.

Yang unik, ketika di Golkar dia itu bahu membahu dengan Setyo Novanto yang kini sudah “penak nggone” di LP Sukamiskin Bandung. Setnov sebagai Ketum dan Idrus Marham menjadi Sekjennya. Tapi dinamika kehidupan menjadikan dua-duanya sama-sama masuk penjara gara-gara korupsi. Unik kan? Semula niatnya membina Golkar, akhirnya malah jadi warga binaan di Lapas. (Cantrik Metaram).