SESAJI RAJA NGAYA (3)

Jin Iprit Sayeksa curhat ke Harjuna bahwa nasibnya lebh buruk dari Rocky Gerung Bojongkoneng.

PADA akhirnya disarankan oleh Begawan Abiyasa, agar Harjuna berjalan lempeng ke arah barat lewat tol Solo – Jakarta lewat pantura. Ketemu rest area tak boleh berhenti, ketemu pom bensin tak boleh ngisi. Soalnya ini bagian dari ujian untuk mencapai sebuah tujuan mulia. Dan Begawan Abiyasa yakin, Harjuna yang sudah biasa menjadi pelanggan wahyu pasti bisa.

“Wah berat ini Eyang begawan. Saya kebetulan sedang beser, kalau satu jam nggak ke toilet, kerja nggak fokus lagi.” Ujar Harjuna, nadanya minta dispensasi.

“Ini ujian ringan, cucuku. Lebih berat ikut test TWK di KPK. Jika tak lulus bukan hanya tak naik pangkat, tapi langsung dipecat. Biar mengadu ke presiden tetap nggak digubris.” Jawab Begawan Abiyasa.

Mengapa Begawan Abiyasa memberikan saran yang aneh-aneh? Sebetulnya ini hanya kiat agar Harjuna tidak banyak godaan di sepanjang jalan. Masalahnya beliaunya tahu persis bahwa Harjuna ini tak bisa menahan diri asal ketemu jidat licin. Di rest area pasti bakal ketemu perempuan-perempuan cantik, Apa lagi di pom bensin, petugas pengisi BBM ke mobil mayoritas kaum Hawa yang seksi-seksi. Bisa kacau ini barang, tujuannya mencari Petruk malah ketemu penyakit.

Jika Harjuna wayang serius, pasti menurut semua petunjuk Eyang Abiyasa. Tapi ini kan Harjuna wayang parodi, sehingga melanggar pepacuh (larangan) pun takkan diharamkan MUI. Karena itulah Harjuna tak mau lewat jalan tol, tapi lewat jalur pantura yang biasa. Betatapun lebih lama tapi kan bisa ngirit. Ke toilet bisa numpang ke mesjid, sekalian salat bila telah tiba waktunya.

Baru sampai Celeng daerah Indramayu, Harjuna ketemu wayang misterius yang kakinya tak menyentuh tanah. Harjuna bisa mengenalinya karena memiliki minyak Jayeng Katon, sehingga mampu melihat makhluk halus atau lelembut. Tapi minyak ini hanya dipakai pada waktu-waktu tertentu saja. Sehari-hari kini dia bawa minyak kayu putih, sekedar untuk mendeteksi daya penciumannya. Jika daya penciumannya hilang, ini ada indikasi terpapar Covid-19.

“Tolong berhenti sebentar raden, kalau boleh tahu Anda mau ke mana?” tanya jin Iprit Sayeksa sopan sekali.

“Saya mau pergi ke arah barat, mencari kepergian punakawan kami, Petruk Kantong Bolong. Mengapa sampeyan menghentikan perjalan saya?” jawab Harjuna ikutan sopan juga. Padahal tadinya sudah dicurigai sebagai teman Cakil, musuh bebuyutan Harjuna.

“Semoga berhasil ya raden. Kalau tidak mengganggu, saya sebetulnya ingin minta bantuan pada Anda.” Kata jin Iprit Sayeksa hati-hati.

“Satria Madukara selalu siap membantu orang, asalkan bukan bantuan uang saja.” Jawab Harjuna terus terang, dia  khawatir ketemu jin tukang palak.

Jin Iprit lalu buka kartu bahwa dia adalah jin yang terusir dari wringin kembar dari alun-alun kraton Jagad Binangun. Pohon yang diadopsi sebagai logo Golkar itu ditebang oleh Prabu Gandis Basuwedo tanpa pemberitahuan. Alasannya, lokasi itu mau dimanfaatkan untuk membangun padupan agung dalam rangka proyek “Sesaja Raja Ngaya”.

Diakuinya, nasib keluarganya kini lebih parah ketimbang Rocky Gerung dari Bojong Koneng. Dia baru diancam gusur oleh PT Sentul City, sedangkan dirinya tanpa peringatan I, II dan III langsung digusur. Jin Iprit Sayeksa juga menyadari bahwa dirinya lebih dungu ketimbang profesor langganan ILC-TV One itu. Soalnya tanpa dokumen pemilikan selembar kertas pun langsung saja duduki pohon wringin kurung kraton itu.

“Sampeyan kan lelembut, kenapa tidak langsung dirasuki saja, biar raja Jagad Binangun itu ndleming seperti orang gila.” Saran Arjuna.

“Nggak mempan raden. Rupanya Prabu Gandis Basuwedo punya ajian Lembu Sekilan. Perasaan saya sudah masuk, tapi dia tidak berasa sama sekali.” Jawab jin Iprit Sayeksa jujur.

“Oke saya bantu, tapi nggak janji lho. Sebab fokus dan skala prioritas saya mencari punakawan Petruk.”

Harjuna melanjutkan perjalanan ke arah barat. Tapi benar kata jin Iprit Sayeksa, Prabu Gandis Basuwedo memang menggusur jin penunggu atau mbaureksa wringin kurung itu tanpa kompromi, apa lagi memberikan ganti untung. Jin Iprit ingin betul dapat ganti rugi seperti korban proyek jalan tol di Sleman DIY atau Pertamina di Paiton Probolinggo.

Masalahnya, penguasa Jagad Binangun ini juga tak tahu bahwa pohon tersebut dihuni keluarga jin puluhan tahun lamanya. Tapi kenapa pula jin Iprit tidak protes ke istana langsung? Rupanya jin Iprit sudah pesimis duluan, masalah yang dihadapi paling-paling oleh Prabu Gandis Basuwedo dioper ke kecamatan. Sedangkan beliaunya terus getol mensosialisasikan padupan agung, demi suksesnya “Sesaji Raja Ngaya” taun depan.

“Patih Sabrang Pawitan, bagaimana progres proyek “Sesaji Raya Ngaya” kita? Dari 75 calon peserta yang bersedia, sudah mulai transver ke rekening kita belum? Hati-hati, ini prioritas isyu nasional 2022.” Ujar Prabu Gandis Basiwedo mengingatkan patihnya.

“Baru masuk 25 persen Sinuwun. Itupun dicicil, karena setiap negara fokus ke PEN untuk memulihkan ekonomi akibat terdampak Covid-19. Kita kan nggak bisa maksa macam debt kolektor.” Jawab Patih Sabrang Pawitan.

Prabu Gandis Basuwedo sendiri juga mulai pusing, karena Betara Kala juga sudah WA melulu, minta segera ditransver minimal 50 persen dulu. Jika sampai akhir Desember 2021 dana belum masuk secara lengkap, proyek “Sesaja Raja Ngaya” bisa dibatalkan dengan resiko DP Rp 15 miliar dinyatakan hangus. Jidat mengkilap Prabu Gandis Basuwedo langsung kemut-kemut dadakan. (Ki Guna Watoncarita)