AS Siapkan Aussie Hadapi China

Australia, Amerika Serikat dan Inggeris membentuk aliansi militer AUKUS guna menghadapi potensi ancaman China.

AMERIKA Serikat dan Inggeris memerlukan mitra strategis di kawasan Indo Pasifik untuk menjaga keseimbangan geopolitik dan ancaman militer menghadapi hegemoni China di Laut China Selatan (LCS) dengan mengandeng Australia.

Bagi AS, agaknya sikap ASEAN yang tidak terang-terangan berpihak padanya, terutama RI yang menganut politik bebas aktif sesuai amanat UUD 1945 tentu berpotensi menimbulkan risiko jika konflik dengan China tak terelakkan.

Padahal, sejumlah negara ASEAN yakni Brunei, Malaysia, Filippina dan Vietnam memiliki persoalan dengan klaim China terkait klaimnya di LCS yang di peta digambarkan sebagai “sembilan garis putus-putus” (Nine Dash Line -NDL).

China juga menganggap perairan LCS sampai ke dekat kepulauan Natuna sebagai wilayah tradisional penangkapan ikan  (traditional  fishing ground), walau klaim tersebut ditolak PBB karena tidak ada dasarnya mengacu pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982.

RI sendiri tidak memiliki klaim di LCS, walau lalu-lalang kapal-kapal perang China dan juga operasi penangkapan ikan oleh nelayannya yang dikawal oleh kapal-kapal penjaga pantai (Costal Guard) di dekat perairan RI di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) cukup  merisaukan dan membuat takut nelayan setempat.

Eskalasi konflik di LCS terus berlangsung setelah AS juga beberapa kali mengirimkan kapal perangnya, begitu pula mitra-mitranya di Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) seperti Inggeris dan Jerman.

Ketegangan kian meningkat saat AS dan Inggeris sepakat membentuk aliansi militer dengan Australia (AUKUS) 15 Sept. lalu yang salah satu pasalnya menyebutkan bantuan progam pembuatan delapan kapal selam nuklir bagi negeri kanguru itu.

China menuding pembentukan AUKUS sebagai upaya untuk menciptakan kembali Perang Dingin antara Barat dipimpin AS dan blok Timur yang berakhir pasca runtuhnya Uni Soviet pada 1991.

Bagi China, delapan kapal selam nuklir Australia jika sudah selesai dibuat, lalu dioperasikan di wilayah LCS  nantinya dicemaskan bakal mengancam armada lautnya di kawasan Indo Pasifik yang tak tertandingi.

Anggaran Militer China

Anggaran militer China 2022 sebesar 178,2 miliar dollar AS (sekitar Rp2,5 quadriliun) atau yang terbesar ke-3 setelah AS 715 miliar dollar AS quadriliun (Rp10,2 quadriliun) dan Australia 270 miliar dollar AS (Rp2,8 quadriliun) atau di urutan ke-2. Bandingkan dengan anggaran TNI cuma 9,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 133,9 triliun).

China a.l mengembangkan aneka rudal balistik misalnya seri Dong Feng (DF-41) yang katanya berjangkauan  15-ribu Km atau lebih sepertiga keliling bumi, berkecepatan hypersonik dan mampu menyasar sebagian wilayah AS .

Selain DF-41 yang mampu membawa 10 hulu ledak dengan target berbeda dan melaju pada 25 kali suara, juga varian lainnya DF-31 dan DF-100 didisain khusus untuk sasaran di laut termasuk kapal induk serta rudal balistik JL-2 dan JL3 yang berbasis di kapal selam.

Teknologi dirgantara China menampilkan pesawat tempur generasi kelima J-20 Chengdu yang disebut-sebut bisa disejajarkan dengan pesawat-pesawat tempur eks-AS seperti F-22 Raptor dan F-35 Super Lightning II.

China yang di era ’60-an masih mengopi paste pesawat-pesawat tempur eks-Uni Soviet seperti varian MiG (MiG-21, Mig-23 sampai MiG-29) dan juga Sukhoi SU-27 dan S-30 kini sudah mampu memproduksi sendiri seluruh komponen pesawat.

Di laut, China juga sudah mengoperasikan kapal induk Lioning buatan Ukraina yang dimodifikasi, dan Shandong buatan galangan lokal serta sedang membangun dua kapal induk lainnya, 33 kapal perusak, 52 fregat, 42 korvet dan 76 kapal selam, beberapa diantaranya bertenaga nuklir dan mampu membawa rudal berhulu ledak nuklir.

Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) yang didukung sekitar 2,7 juta personil tetap, di darat mengoperasikan 13.000 tank termasuk tank type 15 buatannya, 40.000 kendaraan tempur 10.000 pucuk artileri dan 2.000 peluncur roket.

Kekuatan udara China didukung 1.300 pesawat tempur berbagai jenis termasuk varian jiplakan MiG dan Sukhoi buatan Rusia (J-16 dari SU-27, Shenjang-15 dari SU-33) atau J-10 (imitasi F-16 buatan AS).

Sebaliknya, AB Australia yang didukung sekitar 88.000 personil walau relatif kecil, alutsistanya cukup canggih, misalnya AU-nya memiliki    260 pesawat, 130 diantaranya pesawat tempur seperti 37 unit F-35 Super Lightning II, 78 unit F-18 Hornet dan  23 unit P-8 Orion yang berfungsi sebagai pengacak radar dan patroli maritim. Semua buatan AS.

Sementara AD-nya a.l. didukung 59 unit tank tempur utama Abrams MI dan 400 unit kendaraan lapis baja M 113 (semua buatan AS),  ASLAV eks-Kanada, 211 Boxer eks-Jerman dan Belanda, 54 unit howitzer kal. 155mm M777 dan aneka rudal buatan AS seperti (AMRAAM, AIM-120, AIM-9, AGM 88 dan AGM 158), rudal RBS-77 (Swedia) dan NASAM2 (Norwegia).

AL Australia juga kalah jumlah jauh dari China, yakni hanya mengoperasikan 48 unit kapal perang a.l. tiga kapal perusak, enam penyapu ranjau, enam kapal selam konvensional dan 13 kapal patroli.

Penguatan AL Australia dengan delapan kapal selam nuklir dikhawatirkan bakal memicu perlombaan senjata di negara-negara Indo Pasifik dan LCS termasuk negara-negara anggota ASEAN.

Yang membuat miris, seluruh negara di dunia saat sedang fokus mengerahkan dana, daya dan upaya memerangi musuh bersama, Covid-19.  Sayang kalau mereka tergoda, ikut-ikutan dalam lomba persenjataan.