SESAJI RAJA NGAYA (4)

Prabu Gandis Basuwedo diminta pergi, karena Betara Kala hendak berjemur untuk menangkal Covid-19.

BAGAIMANA tidak pusing, Prabu Gandis Basuwedo terlalu ngempukke wesi alias memudahkan persoalan. Dia pikir mengumpulkan uang Rp 1 triliun di dunia wayang itu mudah? Teorinya sih, dari 100 negara yang ditargetkan, peminatnya bisa lebih. Dan kelebihan itu pasti masuk kantong. Sedangkan nantinya, Betara Kalla dikasih Rp 500 miliar pastilah diam. Lagi-lagi kelebihannya bisa masuk kantong.

Padahal yang terjadi, setoran dari para calon peserta masih di bawah 50 persen. Walhasil Prabu Gandis Basuwedo diserang kanan kiri. Raja-raja yang telah setor lunas selalu bertanya, Betara Kala berulang kali nagih dan mengancam melulu macam debt kolektor. Paling mengerikan, para negara yang sudah setor lunas itu hendak mengajukan interpelasi.

“Hai patih Sabrang Pawitan, ente jaga baik-baik negri ini ya. Panjenenganingsun mau melobi langsung ke Betara Kala di Sela Mangumpeng,” kata Prabu Gandis Basuwedo pada patihnya.

“Sinuwun sih, senengnya menggampangkan persoalan. Jadi raja mbok iyao tidak terlalu ngaya, santai saja Bro!” nasihat sang patih pada akhirnya.

“Santai-santai, pala lu peang….” omel Prabu Gandis Basuwedan sambil ngeloyor pergi.

Ternyata serius, pemimpin Jagad Binangun itu memang hendak ke kahyangan Sela Mangumpeng. Soalnya di WA berulang kali tak dijawab kecuali hanya diberi tanda centang warna hijau. Dengan ketemu langsung tentunya pembicaraan bisa lebih detil. Dan yang lebih penting, semangat “kapal keruk” Prabu Gandis Basuwedo takkan terganggu. Lagi lagi dia yakin betul, Betara Kala diberi Rp 500 miliar pasti takkan protes dan kelebihannya bisa masuk kantong pribadinya.

Padahal proyek “Sesaji Raja Ngaya” ini juga menjadi ancaman dewa yang lain, yakni Betara Yamadipati. Jika status wayang sukerta dihapus, dewa pencabut nyawa itu jadi kehilangan banyak obyekannya. Asal tahu saja ya, sekali mencabut nyawa ada uang jasanya Rp 50.000,- Jadi selama musim Covid-19 ini, sebetulnya Betara Yamadipati selalu panen raya, penghasilannya bisa menyaingi para Youtuber.

Kini Betara Yamadipati dengan mengenakan jubah klasik talibannya tengah ketemu Betara Kala. Dia minta status wayang sukerta jangan dihapus sama sekali gara-gara program “Sesaji Raja Ngaya” dari raja Jagad Binangun. Ini namanya tidak adil, Betara Kala renes (terjamin), tapi Betara Yamadipati ngenes.

“Ente jangan bikin kebijakan yang merugikan pihak lain dong! Elu dapat duit, tapi gue yang kejepit.” Protes Betara Yamadipati berente-ente saja, karena dia lebih senior ketimbang Betara Kala.

“Itu  kan biasa. Setiap kebijakan pasti ada pihak yang dirugikan. Tapi percayalah, ini semua demi kemaslahatan bersama.” Jawab Betara Kala ngegombal.

Betara Yamadipati tertawa ngakak dalam hati, karena ini mirip perilaku orang-orang DPR dan DPRD. Ngakunya memperjuangkan nasib rakyat, tapi sejatinya lebih mementingkan perjuangan untuk nasibnya sendiri. Sekedar contoh, bikin UU atau Perda bila untuk kepentingan rakyat tak kunjung jadi. Tapi giliran untuk kepentingan mereka sendiri langsung jadi.

Pada akhirnya Yamadipati pulang dengan tangan hampa, sebab Betara Kala tetap tidak bisa diintervensi. Saat dia keluar dari kahyangan Sela Mangumpeng tanpa disadari ketemu Prabu Gandis Basuwedo yang hendak menghadap Betara Kala. Begitu melihat kelebet dewa pencabut nyawa tersebut, Gandis Basuwedo langsung sembunyi di balik pintu. Takutnya jatuh tempo usianya di muka bumi sudah habis, sehingga langsung dicabut sekalian mumpung ketemu.

“Ngapain ente ngumpet di balik pintu segala?” tegur Betara Kala melihat ulah menggelikan Prabu Gandis Basuwedo.

“Maaf pukulun, apakah tadi Betara Yamadipati ya? Perlu apa dia ke sini?” jawab Prabu Gandis Basuwedo dengan dada masih tab-taban (kaget).

Betara Kala mengangguk tanda mengiyakan. Kemudian ketika dia menjelaskan maksud Yamadipati ke Sela Mangumpeng, keduanya ketawa berguling-guling. Begitulah jadinya, jika titah (makhluk) kahyangan bisa berkoalisi dengan wayang ngercapada, hal yang tak mungkin pun menjadi mungkin. Dewa yang biasa mengerjain wayang ngercapada, kini gantian dikerjain wayang ngercapada.

Yakin bahwa Betara Yamadipati takkan balik kembali, barulah Prabu Basuwedo mengungkapkan maksud kedatangannya yang datang tanpa ajudan tanpa pengawal. Pada intinya dia minta agar Betara Kala tak terlalu ngejar-ngejar harus tanggal sekian, kalau tidak nanti kena penalty, memangnya main bola apa?

“Jika terus dikejar-kejar, saya nggak bisa fokus kerja, Pukulun.” Mohon Prabu Basuwedo.

“Lalu? Kerja tanpa ditarget ente bisa makin seenaknya. Lha wong sudah ditarget saja bisa kamu turunkan sendiri target itu. Itu pun nggak tercapai juga….” Sindir Betara Kala yang tahu kelakuan aslinya.

Merah padamlah muka Prabu Gandis Basuwedo karena kelakuannya selama ini ditelanjangi habis-habisan. Bikin sumur resapan tidak selesai, bangun normalisasi kali tidak lanjut, tetapi ngecat genteng rumah penduduk hobi banget. Lagi-lagi Jagad Binangun memang telah salah mengambil keputusan!

Ternyata Betara Kala jika punya prinsip sulit diubah, sehingga nasib Prabu Basuwedo tak jauh beda dengan Betara Yamadipati. Usaha melobi penguasa Sela Mangumpeng juga gagal total. Artinya, fee tak bisa diturunkan dan sampai akhir Desember 2021 biaya Rp 500 miliar tak disetor, uang muka Rp 15 miliar menjadi hangus. Padahal jika proyek “Sesaji Raja Ngaya” ini gagal, sama saja itu tangisan Prabu Gandis Basuwedo, tapi senyuman Betara Kala.

“Tega banget Pukulun pada hambamu yang hina ini. Mohon…….” kata Prabu Gandis Basuwedo masih juga minta dibelas-kasihani.

“Elo juga sih yang ngaya banget jadi wayang. Sudah ya, ulun mau berjemur anti Covid-19,” kata Betara Kala setengahnya mengusir raja Jagad Binangun. (Ki Guna Watoncarita).