Senjata Makan Tuan

Sebagai Ketua Komisi III DPR, Azis Syamsuddin Septemner 2019 menetapkan Firli Bahuri senagai Ketua KPK. Tapi sekian tahun kemudian.....

INILAH pergulatan nasib seorang Azis Syamsudin, Wakil Ketua DPR. Saat menjadi Ketua Komisi III DPR, dia berhasil mengorbitkan Firli Bahuri menjadi Ketua KPK periode 2019-2023. Tapi 2 tahun berikutnya, ketika Azis Syamsuddin sudah menjadi orang kedua di DPR, dia dijatuhkan oleh Firli Bahuri gara-gara kasus korupsi. Tragis, senjata makan tuan, gara-gara tuannya tidak tahu diuntung!

Yang bener, ah! Tak tahu diuntung atau justru mau cari untung? Soalnya selama ini kita terlalu percaya pada  “slogan” kaum politisi, bahwa duduk di Senayan adalah berjuang untuk rakyat melalui parlemen. Apa benar demikian? Teorinya memang begitu, tapi faktanya banyak yang jauh panggang dari api. Sebab setelah reformasi ini, jadi politisi itu kebanyakan berjuang untuk nasibnya sendiri, agar bisa menjadi kaya, menumpuk harta.

Sekedar contoh Azis Syamsuddin itu sendiri. Setelah duduk di Senayan dengan posisi terakhir sebagai Wakil Ketua DPR, asetnya tercatat Rp 100 miliar lebih sesuai laporan LHKPN. Namun demikian tak merasa cukup juga. Dia masih terus mencari tambahan,  tidak cukup dari gaji dan tunjangan resmi sebagai anggota dewan. Dengan memanfaatkan pengaruhnya sebagai orang Senayan, cara-cara tak terpuji itu banyak mendatangkan untung.

Cara-cara seperti ini sangat klasik sebetulnya, karena sering dipakai oleh orang-orang Senayan. Sejumlah politisi kondang macam Lutfi Hasan Ishak presiden PKS, Irman Gusman Ketua DPD, kariernya jadi ambleg juga gara-gara jualan kuota lewat pengaruhnya. Maka paling aman adalah, jualan kuota paket data, dapat untung tanpa harus buntung seperti sejumlah politisi Senayan itu.

Nasib Irman Gusman dan Luthfi Hasan Ishak justru dijadikan “yurisprodensi” oleh Azis Syamsuddin, maksudnya: ikut-ikutan! Mungkin dia berpikir, asal mainnya rapi jali, pastilah tidak ketahuan. “Orang lain berhasil saya tolong, tapi sejumlah dana juga masuk kantong!” mungkin begitu kata politisi Golkar yang masuk Senayan sejak 2004 itu.

Karier politiknya Azis Syamsuddin hancur lebur gara-gara mau menolong DAK (Dana Alokasi Khusus) Kabupaten Lampung Tengah yang juga merupakan Dapilnya. Pada anggaran 2017 daerah itu hanya menerima DAK sebesar Rp 23 miliar. Bupati Mustofa merasa tak cukup untuk mengeksekusi proyeknya, karena idealnya Rp 100 miliarlah. Melalui Azis Syamsuddin yang kala itu menjadi Ketua Badan Anggaran,  DAK Lampung Tengah bisa dikatrol menjadi Rp 30 miliar. Sebagai uang lelah Azis Syamsuddin dapat fee sebesar Rp 2,5 miliar (8 persen).

Sampai Azis Syamsuddin jadi Wakil Ketua DPR,  skandal itu aman-aman saja. Tapi celaka tiga belas, Bupati Mustofa kena kasus hingga masuk Pengadilan Tipikor. Dari penyelidikan KPK terungkap bahwa Wakil Ketua DPR itu kecipratan dana DAK Rp 2,5 miliar. Mulailah Azis Syamsuddin belingsatan, tiap malam tak bisa tidur. Padahal teman-temannya di Senayan, pas sidang pun bisa tidur pules.

Lewat Aliza Gunado orang kepercayaannya, penyidik KPK Robin Pattuju diminta mengamankan nama Wakil Ketua DPR itu dari kasus DAK Lampung Tengah. Sang penyidik siap memenuhi asal ada uang pengaman Rp 4 miliar. Waduhhhh……, dapatnya hanya Rp 2,5 miliar kok harus bayar Rp 4 miliar, tekor dong! Tapi begitulah hukum alam, uang setan akhirnya dimakan setan juga.

Tapi ya sudahlah, Azis Syamsuddin menyanggupi. Tapi baru dibayar Rp 3,1 miliar, KPK semakin serius mencermati skandal DAK atas nama wakil Ketua DPR itu. Karena dipanggil berulang kali sejak April 2021 tak kunjung datang,  September 2021 Azis Syamsuddin kembali dipanggil. Eh, tak mau datang dengan alasan isoman. KPK tak peduli, akhirnya 25 September lalu dia dijemput paksa. Malam itu juga Azis Syamsuddin dikasih rompi oranye dan ditahan karena statusnya sudah tersangka. Hari berikutnya Azis Syamsuddin langsung mengundurkan diri sebagai Wakil Ketua DPR.

Di Rutan KPK tentunya Azis Syamsuddin merenung, kenapa pergulatan nasibnya demikian tragis. Ketika Firli Bahuri September 2019 ditetapkan menjadi Ketua KPK, dirinyalah yang memutuskan, karena waktu itu Azis Syamsuddin menjadi Ketua Komisi III. Tapi September 2021 Firli Bahuri justru menetapkan dirinya sebagai tersangka KPK. Dan kenapa pula, setelah dirinya menjadi Wakil Ketua DPR, Firli Bahuri tak ada hormatnya sama sekali. Begitu ada “sedikit” kasus langsung disikat juga?

Itulah balasan orang yang terlalu serakah akan duniawi. Sudah punya harta Rp 100 miliar lebih, masih saja kuraaaaang! Resiko atas keserakahannya, tak lama lagi Azis Syamsuddin  bakal masuk penjara dan jadi satu Lapas dengan Setyo Novanto bossnya dulu. “Ee, ketemu lagi……” kata Setyo Novanto kelak, ketika bakal ditemani oleh sahabatnya sama-sama politisi Golkar dan duduk di DPR. (Cantrik Metaram)