Nama Anak Sepanjang KA

Gara-gara kasih nama anak terlalu panjang, si Cordo nantinya malah terancam tak bisa masuk SD.

MEMBERI nama anak dengan nama-nama yang baik sangat dianjurkan. Tapi jangan pula karena banyak nama-nama baik, lalu diambil semua dan diberikan pada satu bayi. Ini kan sama saja orangtua mau ngerjain pihak Kantor Catatan Sipil dan Pak Guru ketika sekolah nanti. Dan orangtua tegaan itu adalah Arif Akbar (29), warga Tuban (Jatim). Bayangkan, kasih nama anak panjang sekali bak KA, sehingga kantor Dukcapil setempat sampai “angkat tangan”.

Nama anak lelaki itu terdiri dari 29 kata, lengkapnya adalah: Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askhala Mughal Ilkhanat Akbar Sahara Pi-Thariq Ziyad Syaifudin Quthuz Khoshala Sura Talenta. Nama orang satu RT dipakai untuk satu anak. Mentang-mentang nama itu tidak perlu beli, lalu kasih nama anak seenaknya dengan alasan bahwa nama itu sebuah doa. Apa orangtuanya tidak kasihan, jika sekolah nanti Pak/Bu Guru absen nama anak kedua Arif Akbar ini seperti orang tahlilan. Karena banyak mengambil bahasa Arab pula.

Arif tidak salah memberi nama panjang bak sepur grenjeng (KA barang), tidak pula melanggar undang-undang. Cuma ora umum, karena belum tentu anak itu nantinya suka pada namanya sendiri. Apa lagi orangtuanya terlalu muluk bercita-cita. Jika nantinya Allah menakdirkan si anak meleset dari cita-cita orang tua apa tidak kecewa jadinya? Bisa tercapai 50 persen saja sudah untung banget. Ibaratnya orangtua mengharapka sianak kelak jadi Jendral TNI, tapi jika faktanya kemudian hanya jadi Satpam pabrik, bagaimana coba?

Dengan alasan bahwa pemberian nama itu hasil diskusi bersama pamannya yang seorang budayawan Tuban, dia berharap anak itu kelak menjadi tokoh dunia yang mendunia. Menjadi diri yang tidak berpikir lokal, sempit atau primordial. Tetapi mempunyai wawasan global sekaligus memiliki karsa dan power untuk merealisasikan wawasan besarnya. Kuat namun berjiwa lembut yang welas asih.

Sangat muluk-muluk bukan? Jangan-jangan nantinya nama itu justru menjadi beban mental si anak setelah dewasa kelak.  Sebab GBHN saja dihapuskan pemerintah, ini si anak harus tunduk pada GBHP (Garis Besar Haluan Bapak). Mau bertindak apapun harus selalu ingat akan misi orangtua pada namanya.  Tak boleh begini begitu, sebab sudah diarahkan harus begono…….. karena diarahkan untuk menjadi pemimpin dunia yang mendunia.

Sebetulnya orangtua hanya bisa membikin anak, tapi  belum tentu bisa membentuk anak menjadi sesuai dengan keinginan orangtua. Pasca Indonesia merdeka, ada seorang tokoh perjuangan dan berhasil menjadi gubernur dan menteri, tapi salah satu anaknya justru ada yang luput pengajaran menjadi kecu atau perampok. Kurang apa orangtuanya mendidik anak, jika takdir Allah menentukan lain manusia tak bisa menolak.

Seperti Arif Akbar dari Desa Ngujuran Kecamatan Bancar itu tadi, dengan memberi nama anak segudang misi, belum-belum sudah kena hambatan di Dinas Dukcapil Kabupaten Tuban. Sistem komputer di Dukcapil yang sudah diprogram oleh Ditjen Dukcapil Kementrian Dalam Negeri, menolak nama orang lebih dari 50 karakter atau 19 kata. Walhasil sejak lahir itu anak 6 Januari 2019, hingga kini bocah itu belum punya akte kelahiran, sehingga sehari-hari hanya dapat nama panggilan: si Cordo.

Memberi nama anak asal-asalan di jaman milenial ini, memang bikin si anak minder. Tahun 1960, nama anak Cempluk atau Panjul, hal yang lumrah. Tapi bocah produk tahun 2000 ke atas kebanyakan sudah berbau kebarat-baratan dan kearab-araban. Maka ada nama anak pakai Lodewijk, tapi doyan nasi dan ubi. Namanya Humphrey,  tapi hidungnya tidak mancung. Begitu juga sekarang banyak nama anak belakangnya pakai khilafiah, padahal pengertian umum khilaf itu adalah: lupa!

Maka janganlah terlalu muluk-muluk memberi nama anak, karena kebanyakan meleset di kemudian hari. Diberi nama Ayu Dyah Utami, ternyata gedenya tidak cantik. Diberi nama Gatot Subroto, ternyata jadi orang biasa dan postur tubuhnya kecil-kecil saja tidak seperti Jendral Gatot Subroto. Bahkan ada artis bernama Bunga Citra Lestari, banyak yang mengira itu perumahan elit di daerah mana?

Bercita-cita bagus lewat nama anak memang baik, tapi tidak perlu muluk-muluk. sampai semua nama bagus diborong untuk satu anak. Bagi  orang Jawa termasuk Tuban tentunya,  punya kepercayaan bahwa kabotan jeneng (keberatan nama) justru tidak baik bagi si pemilik nama nanti. Oleh karena itu orangtua si Cordo, tak perlu ngotot nama anak 19 kata. Tiga kata sudah cukuplah, karena itu sudah memenuhi syarat untuk mengurus paspor.

Jika bersikeras dengan nama sepanjang KA, dikhawatirkan nanti si Cordo malah tidak bisa sekolah. Sebab masuk SD kini disyaratkan harus memiliki akte kelahiran. Jika ini yang terjadi, nama panjang belum juga dikabulkan negara, tapi si anak sudah jelas masa depannya terlunta-lunta. Gagal menjadi pemimpin dunia yang mendunia, tapi malah jadi beban negara. (Cantrik Metaram)