Derita Berkepanjangan Akibat Covid-19

Kesehatan masyarakat terganggu akibat tekanan eknomi akibat Covid-19. Perhatian dan penanganan jangka panjang dan menyeluruh juga harus dilakukan bagi anak-anak yatim piatu akibat Covid.

PANDEMI Covid-19 selain menelan korban nyawa manusia dan menciptakan penyintas dengan berbagai persoalan yang membelit pasca trauma baik fisik mau pun psikis, juga berdampak besar bagi kesehatan jiwa masyarakat.

Sampai Minggu (11/10) tercatat 4,8 juta lebih warga dunia  meninggal akibat Covid-19 dan 238,3 juta terpapar, sementara di Indonesia 142.651 orang meninggal dan 4.227.3 orang terpapar sejak pertama kali terdeteksi pada awal Maret 2020.

Para penyintas juga tidak otomatis pulih kesehatannya, sebagian masih mengalami pasca atau long Covid-19 dengan berbagai gejala seperti demam, nyeri dada dan kepala, kesulitan bernafas, mudah lelah, bingung dan sulit tidur (insomnia).

Gejala tersebut bisa berlangsun singkat, bisa pula berbulan-bulan, tegantung intensitas serangan virusnya, komorbid dan juga respons tiap orang yang berbeda-beda.

Sementara Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDKJI) mencatat, 30,2 persen dari 281 hasil swaperiksa pasien penyintas Covid mengalami post traumatic stress disorder (PTSD), hampir separuhnya (46 persen) bergejala berat, 33 persen seang dan dua persen ringan.

Sedangkan hasil jajak pendapat harian Kompas terhadap 503 responden di 34 kota besar di Indonesia 21 – 24 Sept. lalu menunjukkan, Covid-19 berpengaruh besar pada kondisi kesehatan jiwa masyarakat, langsung mau pun tidak langsung.

Sebanyak 57,6 persen responden mengaku mengalami tekanan ekonomi akibat kehilangan pekerjaan, pekerjaan atau penghasilan berkurang atau bisnis tutup, 14,4 persen mengalami tekanan kerjaan selama WFH.

“PR” Pemerintah

Banyak “PR” yang harus dilakukan pemerintah untuk meneruskan berbagai program Jaring Pengaman Sosial (JPS) bagi masyarakat yang terdampak Covid-19.

Selain dihimpit kesulitan ekonomi, diperkirakan banyak pula anggota masyarakat yang bertambah stress akibat dikejar-kejar petugas bank yang tidak mau tahu pada nasabah pengguna kartu kartu kredit atau skema pinjaman lainnya yang kesulitan membayar cicilan akibat dampak pandemi terhadap penghasilan mereka.

Jika pemerintah sudah melindungi para nasabah dari ancaman para “debt collector” pinjaman on-line (ojol), sepantasnya juga membuat aturan agar bank-bank juga memberikan keringanan pada nasabah baik  pengguna kartu kredit atau pinjaman dengan agunan yang kesulitan membayar cicilannya.

Selain itu sebanyak 12,1 persen responden merasa tertekan karena kehilangan momen bersama rekan atau kerabat, 7,5 persen pernah terpapar Covid-19, 5,1 persen kehilangan anggota keluarga dan sisanya 3,3 persen tidak tahu.

Yang lebih miris, sekitar 25.000 anak-anak menjadi yatim piatu akibat Covid-19, padahal fungsi orang tua bagi mereka adalah segala-galanya, sebagai pengayom, pelindung, pendidik, pendamping dan paling penting pencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sandang-pangan, pendidikan atau kesejahteraan mereka.

Jika negara tidak mengambil alih tugas para orang tua tersebut, tentu sebagian besar masa depan mereka suram, kecuali mungkin ada beberapa yang hak tau fungsi orang tua diambil alih oleh kerabat mereka.

Untuk itu, selayaknya jika pemerintah tak sekedar memberi sumbangan ala kadarnya, tetapi harus memenuhi segala kebutuhan mereka mulai dari sandang pangan, konseling, jaminan kesehatan dan juga pendidikan melalui  beasiswa sampai perguruan tinggi.

Jika bukan pemerintah, siapa lagi yang bisa mengangkat lagi asa dan masa depan anak-anak tersebut.