DASAMUKA GUGAT (1)

Kala Drupala sebagai korlap pendemo sedang mengompori Prabu Dasamuka. Hasilnya lumayan. Rp 10 juta masuk kantong.

BUKAN hanya kalangan dalang, semua penduduk ngercapada juga tahu bahwa Prabu Dasamuka adalah raja dur angkara (angkara murka), yang selalu berpihak pada kejahatan. Selama memerintah negeri Ngalengkadiraja, semua kebijakannya hanya pro penguasa, menindas rakyat. Dia terkenal sebagai raja yang kotok (kejam), ringan tangan dalam arti suka tempeleng orang (cengkiling). Adik kandung sendiri, Gunawan Wibisono yang sering protes pada Prabu Dasamuka, pernah dihajar habis karena mengkritik waton nyata. Bahkan pernah pula Wibisono dilempar HP, sehingga ada yang mengolok-oloknya sebagai Fadli Zon-nya Ngalengka.

Prabu Dasamuka terkenal sebagai raja oposan kahyangan, dewa pun dilawannya, diajak berantem. Tapi di negeri sendiri dia juga sering dioposisi rakyatnya. Bahkan eks mentri pecatan, sering pula jadi tukang kompori rakyat. Mereka dipengaruhi untuk nggrecoki pemerintahan Prabu Dasamuka. Yang pro pada kebijakan Prabu Dasamuka kebanyakan dari kalangan buta (raksasa) yang memang budine ora tata. Misalnya, mereka mengajak Prabu Dasamuka untuk menyerang Betara Yamadipati dewa kematian.

“Sinuwun Prabu Dasamuka, coba berani nggak melawan Betara Yamadipati, agar tidak semena-mena mencabut nyawa orang ngercapada. Kalau perlu, bebaskan semua wayang dari kematian, agar bebas mengembangkan karier.” Kata raseksa Kala Drupala.

“Boleh juga idemu, Tumenggung Kala Drupala. Jika gol, kita berarti telah berhasil memperjuangkan kesetaraan, dewa dan manusia sederajat.” Jawab Prabu Dasamuka sambil tertawa lebar.

“Gitu dong boss! Berarti sinuwun tak hanya mementingkan diri sendiri. Sinuwun memang telah terbebas dari kematian, tapi rakyat kan juga perlu.” Tambah Kala Drupala yang rupanya tahu juga bahwa Dasamuka memiliki ajian Pancasona.

Betara Yamadipati sebagai dewa pencabut nyawa memang punya kekuasaan extra ordinary. Saking banyaknya wayang yang harus dimatikan setiap hari, dia sampai pakai tenaga dewa otsorching. Karena belum berpengalaman, sering buruh pencabut nyawa itu salah cabut. Mestinya belum saatnya dimatikan, sudah dimatikan juga karena salah baca arsip. Untung segera ketahuan oleh Yamadipati, sehingga bisa dikoreksi. Maka jika ada wayang mati suri, sebetulnya itu hasil pekerjaan dewa oursorching kaki tangan Yamadipati.

Setelah dipikir-pikir, bener juga kata raseksa Kala Drupala. Selama ini dewa terlalu banyak diistimewakan dan diprioritaskan. Menikah boleh dengan siapa saja, tak hanya kalangan bidadari, wayang ngercapada juga boleh jadi istrinya. Bahkan Betara Surya, sudah menghamili Dewi Kunti tak mau tanggungjawab ke KUA. Dia hanya “nyetrom” doang. Oroknya pun tak dilahirkan secara konvensional, tapi melalui telinga. Maka jangan heran, habis persalinan Dewi Kunti malah jadi urusan dokter THT.

Giliran wayang ngercapada naksir bidadari kahyangan, dipersulit dengan segala macan alasan. Harus seleksi TWK (Test Wawasan Kebangsaan), tak terlibat ormas terlarang semacam HTI dan FPI. Maka salah satu wayang ngercapada bisa nikah tanpa prosedur macam-macam hanya Harjuna, gara-gara dia punya sertifikat “Satriya Lananging Jagad”. Paling celaka ratu buta Nirwatakawaca, naksir Dewi Supraba malah diprank doang, yang dapat lagi-lagi Harjuna.

“Agar demo kita di Jonggring Salaka dapat perhatian SBG, kamu sebagai korlap harus kerahkan para pendemo, termasuk yang panasbung ya.” Pesan Prabu Dasamuka.

“Beres boss. Tapi ada DP-nya kan, masa demo ke kahyangan kerjabakti doang.” Sindir Kala Drupala lagi.

“Ah, kamu itu. Asal urusan duit nginceng saja. Nih……” ujar Prabu Dasamuka sambil mengangsurkan uang segepok ke Kala Drupala. Yang terima duitpun mukanya langsung jembar.

Sebagai kordinator lapangan pendemo bayaran, rejeki Kala Drupala meningkat juga kalau ada event-event seperti ini. Kali ini dia berhasil mengompori Prabu Dasamuka, tapi kali lain dia bisa saja ngompori tokoh yang berbeda untuk mendemo Prabu Dasamuka. Maka rejeki Kala Drupala benar-benar kanan kiri oke. Dari sana dapat, dari sini dapat pula.

Kala Drupala bisa mengumpulkan masa sesuai dana yang diterimanya. Tadi dari Prabu Dasamuka terima Rp 10 juta, maka dia akan kerahkan 100 pendemo  saja. Bila nasi bungkus dan uang tunai Rp 50.000,- dibagikan merata, dia masih dapat lebihan sekitar Rp 2,5 juta. Lumayan kan? Maka bagi Kala Drupala, banyak demo banyak rejeki.

“Kalian demo yang tertib, jangan brutal. Jangan sampai kalian kena smackdown polisi seperti mahasiswa di Tangerang sana.”

“Beres pokoknya. Topik demo apa nantinya?” tanya seorang pendemo yang telat ngumpulnya.

“Lihat saja itu baliho dan spanduk, goblok!” sergah Kala Drupala.

Demikianlah, Prabu Dasamuka dengan diiringi 100 pendemo termasuk Kala Drupala segera merapat ke Jonggring Salaka. Mereka masuk gapura Sela Matangkep dengan mudah, karena Dasamuka punya pasword “bojone Tari”. Ya, istri Dasamuka memang bidadari kahyangan bernama Dewi Tari, kakak beradik dengan Dewi Tara gebedan Resi Subali sobat karib Prabu Dasamuka di gua Kiskenda.

Di kala pendemo sedang meneriakkan yel-yel “bebaskan manusia dari kematian” Prabu Dasamuka langsung merangsek ke Bale Marcakunda, tempat para dewa bersidang. Ternyata SBG bersama patih Narada sedang nembahas proyek KA Cepat Jonggring Salaka – Ngarcapada. Karena gangguan teknis yang membutuhkan piranti lebih lengkap, biaya proyek prestisius itu jadi membengkak bertriliun-triliun. Tadinya hanya dianggarkan Rp 10 triliun, kini membengkak jadi Rp 15 triliun.

“Memangnya tak disurvei dulu medannya, sehingga tak bisa mengantisipasi kejadian yang timbul.” Kata Betara Narada rada nyinyir dan menggurui.

“Sudah pasti, sudah! Tapi lembaga surveinya lagi ngantuk, sehingga margin erornya sampai 20 persen,” jawab SBG sekenanya.

Sidang Bale Marcakunda jadi terganggu demi melihat kemunculan Prabu Dasamuka dari Ngalengkadiraja.  Ada apa lagi nih, manusia reseh ini kembali menyatroni kahyangan. Soalnya setiap dia muncul ke Jonggring Salaka pastilah mau bikin onar, merusak harmonisasi dan harmonika kehidupan di kahyangan. Kelakuannya mirip ketua serikat buruh, sedikit-sedikit demo, sedikit-sedikit demo, kenapa demo cuma sedikit? (Ki Guna Watoncarita).