Kesehatan Mental Digrogoti Covid-19

Covid-19 selain merenggut jutaan nyawa dan memapar ratusan juta warga dunia, juga menyisakan gangguan mental, baik penyintas maupun orang-orang yang belum pernah terpapar. Selama 2020 sampai Juni saja tercatat 227.000 orang di Indonesia mengalami gangguan mental di tengah pandemi Covid-19.

PANDEMI Covid-19 tidak hanya menyebar maut atau memapar warga dunia termasuk Indonesia,  tetapi juga menyisakan gangguan kesehatan jiwa bagi penyintas mau pun masyakarat yang tidak terpapar.

Menurut hasil jajak pendapat Kompas, persoalan ekonomi menempati lebih separuh (57,6 persen) tekanan mental yang dialami masrakat saat pandemi, disusul tekanan pekerjaan (14,4 persen) akibat WFH, tekanan sosial (12,1 persen), tekanan kesehatan (7,5 persen) dan tekanan keluarga (5,1 persen).

Tekanan ekonomi menjadi semakin berat terutama bagi 24 juta pekerja sektor informal yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Belum lagi akibat kehilangan orang-orang yang dicintai termasuk sekitar 25.000 anak-anak yang kehilangan orang tua atau pengasuh yang juga,  last but not least, pencari nafkah buat mereka.

Menurut catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), satu di antara empat warga dunia mengalami masalah mental, sementara menurut catatan Kemenkes, ada 227.000 kasus kesehatan jiwa di tengah pandemi pada paruh pertama 2020 ( sampai Juni 2020) dibandingkan   197.000 kasus pada 2019.

Kesulitan ekonomi bisa berdampak multi dimensi di dalam keluarga, mulai dari uang belanja yang dikurangi atau tidak bisa dipenuhi oleh kepala keluarga yang pada gilirannya memicu munculnya berbagai persoalan.

Bisa jadi rentetannya menyebabkan anak kekurangan gizi atau nutrisi dan di sisi lain rusaknya suasana harmonis di tengah keluarga, dan bisa kepala keluarga mengalami depresi karena sehari-hari cuma bisa berfikir keras tanpa solusi persoalan ekonomi rumah tangganya.

Belum lagi jika mereka harus memenuhi kewajiban membayar cicilan di bank, baik karena memiliki utang pinjaman beragunan mau apaun tanpa agunan, kartu kredit atau pinjaman cash dan lainnya.

Kisah-kisah memilukan warga yang dikejar-kejar, diintimidasi atau dipermalukan  “debt collector” karena terpaksa meminjam dari pinjaman online (pinjol) banyak diungkapkan di medsos, bahkan sampai ada yang putus asa, mengakhiri hidupnya.

Walau tidak seganas “pinjol”, cara-cara lebih halus juga dilakukan bank-bank resmi, misalnya dengan terus-menerus menagih  penunggak pinjaman atau pembayaran cicilan kartu kredit atau pinjaman tunai (ready cash)  melalui telpon.

WFH Ikut Picu Gangguan Kesehatan

Selain problema ekonomi dengan segala persoalan ikutannya, WFH atau bagi mereka yang lebih banyak tinggal di rumah akibat PPKM selama pandemi, juga ikut memicu gangguan kesehatan jiwa.

Kejenuhan berkumpul terlalu lama, apalagi di rumah-rumah sempit dan kondisinya kurang kondusif, bagai “bara api dalam sekam” yang sewaktu-waktu meledak, bahkan berujung perceraian atau KDRT.

Berdasar survei kesehatan jiwa orang muda oleh “Into the Light” terhadap 5.000 koresponden pada Mei dan Juni lalu (Kompas, 13/10), 98 persen responden mengalami kesepian selama sebulan terakhir, bahkan 40 persen berfikiran untuk menyakiti diri sendiri, sampai bunuh diri dalam dua pekan terakhir.

Ironisnya lagi, lebih separuh responden (51,7 persen) yang mengalami tekanan mental hanya bisa pasrah atau berdoa, 20,3 persen mencari hiburan (nonton atau mendengar musik).

Selebihnya 6,7 persen mengadu pada teman atau kerabat, 6,6 persen berdiam atau menenankan diri dan hanya 1,6 persen yang berkonsultasi pada psikolog atau psikiater.

Bisa dipahami, kenapa mereka yang tertekan, tidak banyak yang mendatangi psikolog atau psikiater, karena selain sulit aksesnya, mahal biayanya, juga alasan malu persoalannya diketahui orang lain.

“Di tengah himpitan ekonomi, tentu bakal tambah beban lagi bagi sebagian warga jika harus menguras kocek untuk mendatangi psikiater atau psikolog”.

Ternyata, pandemi Covid-19 menyisakan masalah multi dimensi yang harus difikirkan juga oleh pemerintah untuk mencarikan solusi dan upaya penanganannya.